HomeBeritaDialog Mahasiswa IIQ Yogyakarta...

Dialog Mahasiswa IIQ Yogyakarta dengan Penyintas Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Mulyono, salah seorang korban bom di depan Kedutaan Besar Australia, Kuningan Jakarta Selatan, menderita cedera fisik yang sangat serius. Ia sampai harus menjalani operasi rekonstruksi rahang berkali-kali selama empat bulan di sebuah rumah sakit di Singapura. Bahkan karena masih belum berhasil, Mulyono mesti melakukan operasi lanjutan di Australia.

Proses rekonstruksi tulang rahangnya dilakukan dalam durasi sekitar dua tahun dan nyaris tak berhasil. Tak hanya luka fisik, ia juga mengalami trauma luar biasa. Tidak mudah menghilangkan dampak psikis sekaligus fisik yang ia alami. “Saya memiliki beban fisik dan mental,” tutur Mulyono saat menjadi narasumber dalam Diskusi dan Bedah Buku La Tay’as yang digelar AIDA bersama mahasiswa Institut Ilmu Al-Quran An-Nur, Yogyakarta, awal bulan ini.

Baca juga Belajar dari Kehidupan Korban Kekerasan

Setelah sekian lama menanggung derita, Mulyono akhirnya memilih ikhlas menerima semua kenyataan yang dia alami. Ia pun sudah tidak memikirkan pelakunya. Karena baginya, dendam tidak mungkin dapat menyelesaikan masalah. “Semua rencana dari Allah SWT pasti baik bagi setiap hamba-Nya. Allah pasti tidak akan memberikan beban di atas batas kemampuan hamba-Nya,” ucapnya.

Kegiatan dihadiri puluhan mahasiswa dari berbagai jurusan. Mendengar kisah kehidupan Mulyono, seorang mahasiswa bertanya apa yang membuat dirinya ikhlas dan mampu memaafkan pelakunya. Menurut Mulyono, ikhlas dan memaafkan adalah cara terbaik untuk berdamai dengan diri sendiri dan dengan keadaan. “Beban psikis saya berkurang, karena beban mental yang saya alami telah saya ikhlaskan. Karena itu, saya bisa melanjutkan hidup,” ungkapnya.

Baca juga Generasi Intelektual Duta Perdamaian

Akibat peristiwa itu, Mulyono juga makin dekat dan mendalami pesan-pesan ibroh dari ajaran agama. “Saya banyak belajar dari Al-Qur’an. Allah tidak akan membebani kita kecuali atas kemampuan kita. Sampai detik ini, saya berpegang kepada pesan Al-Qur’an ini,” katanya.

Seorang mahasiswa lain bertanya apakah pemerintah sendiri memberikan bantuan kepada para korban? Menurut pengakuannya, saat itu belum ada regulasi dan ketentuan yang jelas dalam Undang-undang terorisme mengenai hak-hak korban. Sehingga ia lebih banyak mendapatkan bantuan dari luar, seperti dari Pemerintah Australia.

Baca juga Dialog Mahasiswa IIQ Yogyakarta dengan Mantan Napiter

Ia mengatakan, tidak mudah bagi para korban untuk mendapatkan perawatan saat terkena bom. Karena itu support dari pemerintah terhadap mereka yang terdampak aksi terorisme sangat penting. Korban sendiri merupakan pihak yang tak tahu apa-apa dari serangan yang dilakukan oleh teroris. “Mereka kehilangan orang yang dicintai, kehilangan pekerjaan dan lain sebagainya,” ujarnya.

Saat ini Mulyono bergabung dengan Yayasan Penyintas Indonesia (YPI), komunitas yang menghimpun korban bom yang pernah terjadi di Indonesia. Bersama AIDA ia turut berkolaborasi dengan mantan pelaku yang insaf untuk mengampanyekan perdamaian bagi masyarakat luas di Indonesia. [FS]

Baca juga Pengalaman Belajar Nilai Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...