HomeBeritaBelajar dari Kehidupan Korban...

Belajar dari Kehidupan Korban Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai- Pelbagai aksi kekerasan terorisme di Indonesia menimbulkan dampak penderitaan yang luar biasa bagi korbannya. Ada orang yang kehilangan nyawa, sebagian yang lain harus menjadi disabilitas seumur hidup serta mengalami trauma psikis yang tak mudah sembuh. Kendati demikian para korban dapat memetik hikmahnya. Mereka tidak berputus asa, bahkan mampu bangkit dari keterpurukan yang mereka alami.

Demikian pesan yang mengemuka dalam acara Diskusi dan Bedah Buku La Tay’as: Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya, yang digelar AIDA bersama DEMA IAIN Purwokerto, Selasa (13/4/2021). Ratusan mahasiswa mengikuti kegiatan ini secara daring. Salah seorang narasumber, Ulfatul Kholidah, menjelaskan bahwa kekerasan di masa lalu banyak memberikan pembelajaran untuk kebaikan dan perdamaian Indonesia. Dia mengajak generasi muda mengambil hikmah dari kisah kehidupan korban terorisme.

Baca juga Generasi Intelektual Duta Perdamaian

“Berbagai penderitaan dialami oleh korban hingga mereka mampu bertahan. Perspektif ibroh atau pembelajaran ini tentunya sesuai dengan tuntunan agama Islam,” ujar alumni Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Mahasiswa yang digelar AIDA beberapa waktu sebelumnya. 

Ia berbagi pengalamannya bertemu dan mendengar langsung kisah hidup korban-korban terorisme dalam kegiatan AIDA. Menurut dia, kisah kehidupan korban telah terekam jelas dalam buku La Tay’as karangan Hasibullah Satrawi. Dari hasil bacaannya, Ulfah berkesimpulan bahwa korban terorisme merupakan cerminan nyata dari bahaya aksi terorisme.

Baca juga Dialog Mahasiswa IIQ Yogyakarta dengan Mantan Napiter

Korban adalah pihak yang tidak mempunyai masalah dengan pelakunya, bahkan sebagian besar tak memahami persoalan dan motivasi aksi terorisme. “Sebagian mereka hanya sekadar lewat di lokasi kejadian,” katanya.

Ia lantas mengajak mahasiswa untuk mengarusutamakan perspektif korban dalam isu terorisme. Sebab selama ini peristiwa terorisme lebih banyak dipandang dari perspektif pelakunya. Masih relatif sedikit yang memedulikan korban. “Padahal hidup korban berubah total usai musibah yang menimpanya. Bagaimana pengobatan mereka, siapa yang peduli saat keadaan seperti itu,” ucap Ulfah.

Baca juga Pengalaman Belajar Nilai Perdamaian

Dalam hematnya, pembelajaran luar biasa dari kisah korban adalah ketika sebagian dari mereka memaafkan pelakunya. “Mereka bertahan dan memaafkan. Kita pun mendapat inspirasi dari korban bahwa mereka tidak membalas kekerasan dengan kekerasan, tidak membalas ketidakadilan dengan ketidakadilan. Mereka memiliki sikap tangguh dalam menghadapi cobaan dan hal-hal lain yang membuat dirinya terpuruk,” tuturnya.

Dari kehidupan korban, semua pihak harus menjadikan nilai-nilai kemanusiaan dan perdamaian sebagai prinsip dasar. Mahasiswa sebagai generasi intelektual berhak berpikir kritis dan membaca literatur apa pun dalam ranah akademik. Namun bila bacaan dan gerakan itu telah mengarah pada aksi kekerasan maka harus dihindari. “Kita harus mengembangkan nalar kritis, namun jangan sampai melakukan kekerasan,” katanya. [AH]

Baca juga Ekstremisasi Via Jagat Maya

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Kisah Korban Memperkuat untuk Tinggalkan Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Dahulu kala ketika ada aksi pengeboman (amaliyat) kami...

Sekolah Aman Dimulai dari Budaya, bukan Regulasi

Oleh Nurhattati Fuad Guru Besar Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta,...

Pemikiran JAD Sangat Berbahaya

Aliansi Indonesia Damai- Pemikiran kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung...

Sjahrir dan Ujian Kesetiaan

Oleh Virdika Rizky Utama, Mahasiswa Doktoral Public Policy and Global Affairs,...

Kisah Korban Memperkuat untuk Tinggalkan Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Dahulu kala ketika ada aksi pengeboman (amaliyat) kami langsung meneriakan takbir Allahu Akbar dengan lantang berulang-ulang. Sama sekali tidak kepikiran bagaimana para korban dari aksi pengeboman tersebut. Demikian dinyatakan mantan anggota jaringan kelompok ekstrem, Kurnia Widodo dalam Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di...

Sekolah Aman Dimulai dari Budaya, bukan Regulasi

Oleh Nurhattati Fuad Guru Besar Manajemen Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta, Anggota Dewan Pendidikan Nasional SEKOLAH seharusnya menjadi ruang paling aman setelah keluarga. Dalam rumah, anak tertanam kesadaran, peroleh pengetahuan dan pengalaman langsung untuk membangun persaudaraan, empati, persahabatan, kepercayaan diri, dan belajar menghargai sesama. Namun, kenyataan nya, sangat...

Pemikiran JAD Sangat Berbahaya

Aliansi Indonesia Damai- Pemikiran kelompok Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia sangat ekstrem dan berbahaya. Bahkan, saking ekstrem dan bahayanya, mereka mengkafirkan dirinya sendiri. Demikian dinyatakan Iskandar alias Alexander Rumatery, mantan amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), dalam Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang...

Sjahrir dan Ujian Kesetiaan

Oleh Virdika Rizky Utama, Mahasiswa Doktoral Public Policy and Global Affairs, Nanyang Technological University, Singapura Pada 27 Juni 1946, Perdana Menteri Sutan Sjahrir diculik di Surakarta. Penculiknya sesama Republiken, sekelompok perwira dan politisi yang yakin perundingan dengan Belanda sama artinya dengan menjual kemerdekaan yang baru berumur sepuluh bulan....

Meneladani Pemaafan Nabi Muhammad

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kuningan, Josuwa Ramos mengaku sempat marah dan dendam terhadap pelaku terorisme. Akibat bom yang meledak di depan tempat kerjanya Kedutaan Besar Australia, ia mengalami luka-luka dan kehilangan beberapa rekan kerjanya. Hingga sekarang ia masih melakukan perawatan medis dan minum obat secara rutin. “Setelah...

Fathudin, Sempat Euforia Ada Amaliyat (Bag. 2)

Mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, membuka suara mengenai dinamika internal, aliran dana, hingga strategi teror yang pernah dijalankan oleh kelompoknya. Pengakuan ini disampaikannya dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, pada September...

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Oleh: Sri Mulyani Indrawati Ekonom; Akademisi; Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair) untuk Asosiasi Pembangunan Internasional (International Development Association/IDA) ke-22 di Bank Dunia (World Bank); Menteri Keuangan RI (2005-2010; 2016-2024; 2024-2025) ”Jangan pernah lelah mencintai Indonesia.” Kalimat ini sering saya ucapkan dalam berbagai kesempatan. Mencintai Indonesia memerlukan ketahanan, kesabaran,...

Pendidikan, Masa Depan Pemuda dan Bangsa

Oleh Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Ketika para pendiri bangsa merumuskan Undang-Undang Dasar 1945, mereka menegaskan bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan akhir. Kemerdekaan adalah awal perjalanan panjang bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan berperan nyata dalam mewujudkan tata kehidupan dunia yang damai. Untuk itu,...

Membela Negara Kewajiban yang Mulia

Aliansi Indonesia Damai- Cinta dan membela negara atau tanah air adalah kewajiban yang mulia bagi seluruh anak bangsa, termasuk umat muslim. Sebab membela negara itu bagian dari agama. Demikian ditegaskan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...