HomeBeritaMembangun Perdamaian di Universitas...

Membangun Perdamaian di Universitas Peradaban Bumiayu

Aliansi Indonesia Damai- Serangan terorisme yang terjadi di Gereja Katedral Makassar dan Mabes Polri di Jakarta justru menjadi pembangkit semangat mahasiswa Universitas Peradaban Bumiayu untuk lebih peduli terhadap perdamaian Indonesia. Hal ini mengemuka saat kegiatan.

“Bedah Buku La Tay’as : Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya” yang diselenggarakan secara daring pada Jumat (16/04/2021). Tak kurang dari 83 mahasiswa Universitas Peradaban Bumiayu berpartisipasi aktif dalam kegiatan ini.

Baca juga Dialog Mahasiswa IIQ Yogyakarta dengan Penyintas Terorisme

Alfiah, salah satu narasumber dalam kegiatan ini menegaskan bahwa kalangan mahasiswa banyak menjadi target dalam aksi perekrutan paham kekerasan. Untuk itulah, ia berharap rekan-rekannya di Universitas Peradaban Bumiayu bisa memertebal semangat menjaga perdamaian.

 “Di agama mana pun tidak ada yang mengajarkan kekerasan apalagi sampai menghilangkan nyawa orang lain, kok mau-maunya melakukan hal yang merugikan diri sendiri dan orang lain,” ujar alumni Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Mahasiswa yang digelar AIDA beberapa waktu sebelumnya.

Baca juga Belajar dari Kehidupan Korban Kekerasan

Menurut Alfiah, mahasiswa perlu memiliki kepekaan dan kesadaran akan bahaya dan kerugian aksi terorisme. Kesadaran tersebut bisa diperoleh dengan mendengarkan kisah-kisah korban terorisme. “Pengeboman merugikan banyak orang. Selama ini perspektif korban kurang didengar. Padahal ketika menjadi korban pengeboman, ada yang kakinya patah, tangannya hilang, yang nggak jarang akhirnya tidak senormal sebelum kejadian,” ujarnya.

Selanjutnya, Alfiah menyebut bahwa mahasiswa perlu bersikap kritis terhadap informasi-informasi yang di zaman sekarang sangat mudah didapat dari mana saja. “Perlu memerkuat keyakinan terhadap informasi yang kurang bisa diterima logika. Lebih selektif memilih informasi, katanya.

Baca juga Generasi Intelektual Duta Perdamaian

Ia mengimbau rekan-rekannya sesama mahasiswa untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan positif di kampus. Dengan mengikuti kegiatan yang sesuai dengan minat, bakat, dan potensi, maka bisa memperkuat karakter dan terhindar dari paham kekerasan.

Lebih dari itu, penting bagi mahasiswa ikut membangun jejaring perdamaian. “Saya berharap mahasiswa bisa menyebarkan kebermanfaatan ilmu dan gagasan untuk menjaga perdamaian di  lingkungan yang kita tempati sekarang,” ucapnya memungkasi paparan. [LADW]

Baca juga Dialog Mahasiswa IIQ Yogyakarta dengan Mantan Napiter

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...