HomeBeritaDialog Eks Napiter dengan...

Dialog Eks Napiter dengan Jurnalis Sumatera

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menggelar acara Short Course Daring Penguatan Perspektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme, pada 27-29 Juli 2021. Kegiatan diikuti puluhan jurnalis dari Sumatera. Dalam acara yang berlangsung selama tiga hari itu, salah satu narasumber yang dihadirkan adalah Kurnia Widodo, mantan narapidana terorisme (napiter) yang pernah menghabiskan masa remajanya di Bumi Andalas.

Kurnia menceritakan awal mula dirinya bergabung dalam kelompok ekstremisme saat masih duduk di bangku SMA, hingga akhirnya keluar dari jaringan terorisme usai bebas dari hukuman penjara. Para peserta tampak antusias dengan pemaparan Kurnia, terlihat dari banyaknya respons berupa pertanyaan yang muncul.

Baca juga Liputan Media Mesti Berperspektif Korban

Salah satu peserta bertanya bagaimana pemahaman keagamaan Kurnia sebelum masuk ke dalam kelompok teror. Pasalnya, banyak asumsi yang menyebut bahwa orang dengan pengetahuan agama yang lemah sangat rentan terpapar oleh virus ekstremisme.

Kurnia mengakui, saat remaja pemahaman agamanya cetek sekali. Kala itu ia bahkan menggemari musik beraliran metal, jauh dari kesan agamis. Namun, saat berdialog dengan temannya, Kurnia kerap disuguhi isu-isu penindasan agama. Sontak hal tersebut memicu ghirah keislamannya.

Baca juga Bangkit Demi Masa Depan dan Keluarga

“Masalahnya saya diarahkan pada kelompok kekerasan ini. Dan masalahnya juga saya tidak pernah kroscek (betul tidaknya) pemahaman ini di tempat lain. Yang membuat saya semakin yakin, orang-orang ini ikhlas dikirim ke berbagai negara untuk berperang melawan Soviet, Amerika, dan negara mana pun yang menindas Islam,” demikian Kurnia mengenang.

Meskipun begitu, Kurnia menolak anggapan bahwa ekstremisme hanya menjangkiti kalangan yang lemah agamanya. “Ada teman-teman dulu yang pemahamannya bagus. Tapi memang yang pemahamannya bagus ini susah terpapar. Tapi sekalinya terpapar, mereka bisa jadi ideolog,” katanya.

Baca juga Menumbuhkan Perspektif Korban pada Jurnalis Sulawesi

Peserta lain menanyakan berapa lama proses ekstremisasi terjadi. Kurnia menjawab, prosesnya cukup variatif, tetapi rata-rata cukup lama. Kurnia berkaca pada pengalamannya dahulu. Ia terpapar setelah mengikuti pengajian seminggu sekali. Beruntung ia tidak punya dendam apa-apa kepada negara, sehingga dorongan untuk melakukan aksi pun berjalan lambat.

“Kalau seseorang punya latar belakang kebencian terhadap negara, dan kemudian mendapat pemahaman yang sesuai dengan itu, cepat sekali terpaparnya. Apalagi sekarang pengajian online masif sekali. Dua-tiga bulan orang bisa jadi pelaku,” ucapnya.

Baca juga Meneguhkan Jurnalisme Damai dari Celebes

Lebih jauh Kurnia berharap agar media massa dapat berpihak kepada korban terorisme, dengan memerhatikan dampak yang dirasakan korban dan menulisnya dalam pemberitaan. Kurnia juga meminta media untuk sama-sama menjaga perdamaian Indonesia.

”Media harus mendorong agar masyarakat ikut bersama-sama dalam memberantas terorisme. Banyak sekali kejadian, dari media orang bisa menangkap pelaku. Jangankan terorisme, pelaku pembunuhan biasa pun bisa terungkap berkat media. Inilah peran media untuk mengungkap masalah,” kata Kurnia memungkasi paparannya. [FAH]

Baca juga Penyintas Bom Menggugah Nurani Jurnalis

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Oleh: Sri Mulyani Indrawati Ekonom; Akademisi; Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair)...

Pendidikan, Masa Depan Pemuda dan Bangsa

Oleh Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Ketika para pendiri bangsa...

Membela Negara Kewajiban yang Mulia

Aliansi Indonesia Damai- Cinta dan membela negara atau tanah air adalah...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan...

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Oleh: Sri Mulyani Indrawati Ekonom; Akademisi; Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair) untuk Asosiasi Pembangunan Internasional (International Development Association/IDA) ke-22 di Bank Dunia (World Bank); Menteri Keuangan RI (2005-2010; 2016-2024; 2024-2025) ”Jangan pernah lelah mencintai Indonesia.” Kalimat ini sering saya ucapkan dalam berbagai kesempatan. Mencintai Indonesia memerlukan ketahanan, kesabaran,...

Pendidikan, Masa Depan Pemuda dan Bangsa

Oleh Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Ketika para pendiri bangsa merumuskan Undang-Undang Dasar 1945, mereka menegaskan bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan akhir. Kemerdekaan adalah awal perjalanan panjang bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan berperan nyata dalam mewujudkan tata kehidupan dunia yang damai. Untuk itu,...

Membela Negara Kewajiban yang Mulia

Aliansi Indonesia Damai- Cinta dan membela negara atau tanah air adalah kewajiban yang mulia bagi seluruh anak bangsa, termasuk umat muslim. Sebab membela negara itu bagian dari agama. Demikian ditegaskan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk bersepakat pada yang ushul (pokok) dan berbeda pada hal-hal yang partikular. “Kalau kita ngumpulin perbedaan-perbedaan, tidak ada ujungnya. Kenapa kita tidak bersepakat pada yang pokok, yang ushul, dan kita dibiarkan berselisih,...

Akhir Perang AS-Israel Versus Iran

Hingga hari ini (19/10), belum ada tanda-tanda perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Bukan karena tidak ada pihak yang ingin perang ini berakhir, melainkan karena perang ini berjalan liar dan tidak sesuai dengan rencana awal. Dilihat dari pernyataan sebagian elite kedua negara,...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...