HomeBeritaPenyintas Bom Menggugah Nurani...

Penyintas Bom Menggugah Nurani Jurnalis

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka meningkatkan perspektif korban di kalangan jurnalis, AIDA memertemukan jurnalis dari seluruh penjuru Sulawesi dengan para korban terorisme dalam kegiatan Short Course Daring: Penguatan Perspektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme, 25-27 Mei 2021. Di antara penyintas yang dihadirkan adalah Andi Dina Noviana atau Andin, korban Bom Thamrin 2016, dan Desmonda Paramartha alias Desmon, korban Bom Surabaya 2018.

Andin tidak pernah menyangka kunjungannya ke sebuah kedai kopi di kawasan MH Thamrin Jakarta Pusat akan menjadi titik balik hidupnya. Saat kejadian, ia tengah menyelesaikan pekerjaan sembari menikmati sarapan pagi. Tak sampai satu jam kemudian, ledakan keras terjadi. Andien sempat hilang kesadaran.

Baca juga Tiga Tahun Bom Surabaya: Menyalurkan Inspirasi Ketangguhan

Ketika tersadar, dirinya tergeletak ditimpa plafon. Posisinya berada cukup jauh dari tempat duduk sebelumnya. “Saat itu saya belum sadar kalau itu bom. Saya mikirnya itu ledakan tabung gas atau oven,” tutur Andien.

Dengan kondisi penuh luka, Andien berusaha keluar dari restoran melalui salah satu jendela. Setelah berhasil meloncat dari jendela, Andien dievakuasi oleh seorang pria tak dikenal ke rumah sakit terdekat. Dari pemeriksaan medis, ia menderita luka serius di bahu kiri, kaki kanan, tangan kanan, dan kuping kiri. Dia juga menderita trauma hebat, sampai pada tahap harus meminum obat penenang selama delapan bulan.

Baca juga Penyintas Bom Thamrin Melawan Trauma (Bag. 1)

Andien sempat merasa terpuruk dan marah kepada pelaku. Namun dia memilih bangkit dan memaafkan. “Dendam buat saya adalah beban. Saya tidak mau membawa beban tersebut seumur hidup saya. Saya harus taruh beban saya sedikit-sedikit. Ada prosesnya. Namun tetap saya nikmati. Alhamdulillah, lambat laun saya bisa ada di titik ini,” tutur Andien.

Bahkan seandainya diberi kesempatan bertemu pelaku, Andien mengaku akan berterima kasih. Karena kejadian itu telah memberinya pengalaman yang luar biasa. “Saya bisa jadi lebih kuat. Saya jadi punya perjalanan hidup yang bisa saya bagi dengan orang lain. Obat terbaik adalah hati kita sendiri. Saya punya prinsip, memaafkan adalah obat paling mujarab bagi kami, para korban,” tutup Andien.

Baca juga Penyintas Bom Thamrin Melawan Trauma (Bag. 2-Terakhir)

Sementara Desmon menceritakan tragedi berdarah saat hendak menjalani ibadat. Seperti biasa, ia berangkat ke Gereja Katolik Santa Maria Tak Bercela, Ngagel, Surabaya, tanpa firasat atau tanda-tanda apa pun. Desmon adalah satu-satunya orang di keluarganya yang menjadi korban. Pasalnya pagi itu dia berangkat sendiri.

Saat berada di kawasan parkir, sekira enam meter dari tempatnya berada, ledakan terjadi. Beberapa detik setelah kejadian, Desmon melihat kondisi sekitarnya kacau balau. Dia tidak mengetahui nasib teman-temannya yang lain. Ia berusaha menyelamatkan dirinya sendiri dan mencari pertolongan. Ia dilarikan ke rumah sakit.

Baca juga Kebangkitan dan Ikhtiar Memaafkan

Akibat ledakan itu, Desmon mengalami luka di tiga titik, yaitu leher sebelah kanan, paha kanan, dan betis kanan. Belakangan diketahui ada serpihan di leher sebelah kanan, yang apabila tidak segera diidentifikasi, rawan mengancam nyawa Desmon.

Dalam proses penyembuhan, Desmon sempat merasa marah dan kesal kepada pelaku. Dia bertanya-tanya, mengapa dirinya terkena ledakan bom. Di tengah suasana hati yang campur aduk itu, Desmon membulatkan tekadnya untuk berpikiran positif dan memaafkan. “Kalau saya tidak memaafkan pelaku, pasti pelaku merasa senang. Karena tindakan mereka telah berhasil menumbuhkan kebencian di hati korban,” ungkap Desmon.

Baca juga Asa Perempuan Tangguh Setelah 5 Tahun Bom Thamrin

Tak ayal ketika Desmon kembali disuguhi pemberitaan yang berkaitan dengan peristiwa bom, dia bisa menghadapinya dengan tenang. Ia enggan berlama-lama berkubang dalam keterpurukan. Dia berusaha bangkit melawan rasa sakit itu agar dapat kembali beraktivitas. Bagi Desmon, pikiran positif akan meringankan luka-luka yang dideritanya.

Salah satu jurnalis terenyuh mendengar kisah kedua narasumber. Dia tampak ikut menangis mendengarkan kisah korban. Dia berpesan agar kedua korban tetap kuat dan semangat menjalani hidup.

“Kuatkan hati! Mbak-mbak diizinkan mengalami (kejadian) itu, berarti ada sesuatu di balik itu. Mbak-mbak berdua pasti dikuatkan untuk menghadapinya. Ini jadi bekal untuk mbak-mbak berdua menguatkan orang lain,” katanya berpesan. [FAH]

Baca juga Menyalakan Semangat Kebangkitan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...