HomeBeritaBangkit Demi Masa Depan...

Bangkit Demi Masa Depan dan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai- Yuni Karta masih ingat betul musibah yang menimpanya hampir 14 tahun silam. Saat melintasi jalan HR Rasuna Said, Kuningan, Jakarta Selatan, Kamis 9 September 2004, terdengar ledakan keras diiringi hawa panas. Saking panasnya, tiang besi kabin bus kopaja yang ia pegang meleleh. Walhasil tangannya seperti terekat.

“Bus seperti terbang. Kaca bus pecah dan berhamburan ke dalam,” ujar Yuni mengingat peristiwa yang menimpanya. Ia membagikan kisahnya dalam Short Course Daring Penguatan Perspektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme yang digelar AIDA, akhir Mei lalu.

Kegiatan yang berlangsung selama tiga hari ini diikuti oleh para jurnalis dari pelbagai media massa di Sulawesi. Sejumlah narasumber dihadirkan, antara lain Yuni sebagai korban Bom Kuningan 2004 dan mantan pelaku terorisme, Ali Fauzi. Keduanya saat ini tergabung dalam Tim Perdamaian AIDA.

Baca juga Menumbuhkan Perspektif Korban pada Jurnalis Sulawesi

Kala itu Yuni hendak mengantarkan pesanan catering ke salah satu kantor di dekat Kedutaan Besar Australia. Makanan telah dikirim terlebih dahulu menggunakan sepeda motor. Sementara dia menyusul dengan menumpang bus Kopaja. Tak ada firasat apa pun sebelumnya.

Sesaat pascaledakan, Yuni berupaya bergegas keluar. Dia tarik tangannya yang menempel di besi sekuat tenaga. Saat terlepas, badan Yuni terdorong keluar hingga kepalanya membentur aspal. Dia lantas dievakuasi oleh seseorang menuju Rumah Sakit Mata Aini yang tak jauh dari lokasi kejadian.

Karena fasilitas yang tak mendukung, Yuni dirujuk ke rumah sakit umum berbekal asuransi milik suaminya. Dari hasil pemeriksaan, diketahui bahwa bagian punggung tangan kiri Yuni sobek dan tertancap serpihan, telapak tangannya pecah, ibu jarinya tidak berfungsi, dan jari kelingkingnya patah. “Dari tahun 2004 sampai 2006, saya menjalani empat kali operasi. Ada tawaran berobat ke Australia, namun saya tolak karena anak-anak masih kecil, tidak bisa ditinggalkan,” katanya.

Baca juga Meneguhkan Jurnalisme Damai dari Celebes

Belakangan, kepala dan pinggang Yuni juga sering sakit. Dampak lain yang dirasakannya adalah trauma berkepanjangan. Pernah saat tengah melintasi salah satu jembatan penyeberangan di sekitar tempat kejadian, tubuhnya tiba-tiba gemetar dan lemas. Ia harus dibantu oleh orang lain untuk menyeberangi jembatan tersebut. “Saya juga takut pergi sendirian menggunakan angkutan umum. Lebih sering minta ditemani,” ucapnya.

Lahirnya sang anak bungsu di tahun 2010 membuka secercah harapan bagi Yuni untuk melanjutkan hidup secara normal. Dia juga sering berkumpul dengan sesama korban bom, sehingga dirinya merasa dikuatkan.

“Segala sesuatu yang sudah terjadi adalah takdir dari Allah yang harus saya terima dengan ikhlas dan rasa syukur. Musibah jangan sampai membuat kita terpuruk. Kita harus bangkit dan menatap masa depan yang lebih cerah,” ungkap Yuni dengan tegar.

Baca juga Penyintas Bom Menggugah Nurani Jurnalis

Sementara Ali Fauzi, berdasarkan pengalaman pribadinya, menyampaikan faktor-faktor yang menyeret seseorang terlibat jaringan ekstrem. Kini Ali telah sepenuhnya meninggalkan kelompok lamanya. Banyak faktor yang memengaruhi hijrahnya menuju jalan perdamaian. Namun yang paling berkesan adalah pertemuannya dengan korban. “Saat pertama kali bertemu korban bom, saya menangis dan meminta maaf,” katanya.

Atas kesalahannya di masa lalu, Ali menyampaikan permohonan maafnya, terutama kepada Yuni. “Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya atas keterlibatan saya dalam jaringan teroris yang banyak mendatangkan mudarat atau bahaya, baik untuk individu, negara, dan agama kita,” tutur Ali.

Baca juga Tiga Tahun Bom Surabaya: Menyalurkan Inspirasi Ketangguhan

Menurut Ali, ibarat penyakit, terorisme adalah komplikasi, sehingga membutuhkan obat khusus untuk menyembuhkannya. Salah satunya adalah dengan menolak persepsi bahwa terorisme adalah konspirasi. Dirinya adalah bukti bahwa kelompok teroris benar-benar tumbuh tanpa rekayasa pihak mana pun.

“Sayangnya perspektif masyarakat Indonesia masih kacau, khususnya perspektif di dunia akademisi cukup jungkir balik. Mereka masih mengatakan terorisme rekayasa, pengalihan isu, permainan intelijen. Sehingga gimana mau mencegah. Perspektifnya salah. Pure, apa yang saya ceritakan, bagian dari perjalanan hidup saya,” ujar Ali tegas. [FAH]

Baca juga Mendengar Penuturan Pendamping Korban Bom Surabaya

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH...

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...