HomeBeritaLiputan Media Mesti Berperspektif...

Liputan Media Mesti Berperspektif Korban

Aliansi Indonesia Damai- Perspektif korban dalam isu terorisme harus diarusutamakan dalam pemberitaan media massa. Perspektif ini memang tidak mudah diimplementasikan, namun sangat bermanfaat dalam konteks pembangunan perdamaian.

Hasibullah Satrawi, Ketua Pengurus AIDA, mengatakan, framing media terhadap kasus terorisme masih cenderung menitikberatkan pada pelakunya. Kebanyakan pemberitaan masih menempatkan korban sebagai objek dan angka-angka. “Liputan perspektif korban ini harus dilakukan untuk mengedukasi masyarakat akan pentingnya hak-hak korban,” kata Hasibullah dalam acara Short Course Daring Penguatan Perspektif Korban dalam Peliputan Isu Terorisme yang Digelar AIDA, Selasa (27/7).

Baca juga Bangkit Demi Masa Depan dan Keluarga

Hasibullah menjelaskan, peliputan yang mengarusutamakan korban dapat mengedukasi masyarakat dalam tiga hal. Pertama, meluruskan pandangan sebagian masyarakat yang masih menganggap terorisme sebagai konspirasi. Kehadiran korban dapat membuktikan bahwa terorisme betul-betul nyata dan telah membuat korbannya menderita. “Terorisme itu nyata, bukan konspirasi, bukan rekayasa. Korban ini buktinya,” ujarnya.

Ia menilai, bila anggapan konspirasi ini terus muncul di kalangan masyarakat, maka terorisme seolah-olah tidak berbahaya, bahkan dapat membuat masyarakat abai terhadap ancaman kekerasan yang dilakukan kelompok teroris. “Kalau masyarakat sendiri tidak sadar, malah kita bisa bermain-main dengan keamanan kita semua,” ujar Hasibullah yang sudah bertahun-tahun mendampingi korban terorisme.

Baca juga Menumbuhkan Perspektif Korban pada Jurnalis Sulawesi

Kedua, perspektif korban juga dapat mengenalkan kepada masyarakat tentang adanya kelompok yang dapat membahayakan sesama. Kesadaran bersama itu dianggap penting agar bahaya terorisme dapat diantisipasi sejak dan dari lingkup yang paling kecil. Perspektif korban dalam liputan media juga dapat mengedukasi masyarakat akan dampak kerusakan yang akan terjadi dari aksi-aksi kekerasan terorisme. “Ini pengenalan dini tentang bahaya terorisme, sehingga masyarakat menjadi sadar,” tuturnya.

Bila dua poin di atas mampu tersalurkan kepada masyarakat, maka edukasi ketiga adalah masyarakat diharapkan mampu mencegah bersama potensi munculnya aksi dan gerakan terorisme. Menurut Hasibullah, keterlibatan masyarakat dalam pencegahan terorisme sangat penting. Kalau masyarakat bisa mencegahnya, maka ibarat Covid, masyarakat akan dan harus bisa melakukan prokes (protokol kesehatan: red), atau protokol pencegahan aksi terorisme,” katanya.

Baca juga Meneguhkan Jurnalisme Damai dari Celebes

Di hadapan puluhan jurnalis dari wilayah Sumatera itu, Hasibullah mengingatkan bahwa setiap orang berpotensi menjadi korban sekaligus pelakunya. Ia mencontohkan latar belakang pelaku sangat bermacam-macam. Terorisme dinilai tidak pernah melihat background seseorang. Siapa pun dapat terpapar paham teror bila tidak diimbangi pengetahuan yang luas dan aspek pencegahan yang kuat.

Sebaliknya, dari unsur korban juga terdiri dari bermacam-macam orang. Para korban tak pernah mengira akan terkena ledakan bom saat terjadinya peristiwa itu. Sebagian ada yang tengah bekerja, sementara sebagian yang lain hanya sekadar lewat. “Kita semua bisa menjadi pelaku. Mereka terdiri dari berbagai background dan latar belakang. Begitu juga dengan korban juga terdiri dari kalangan yang bermacam-macam. Tidak ada yang kebal, kita semua berpotensi menjadi korban,” tegasnya.

Di akhir paparannya, Hasibullah mengajak insan media untuk turut membantu kebangkitan para korban sekaligus pelakunya. Pengalaman Hasibullah mendampingi para korban dan mantan pelakunya yang berujung pada rekonsiliasi mampu menjadi kisah inspiratif untuk membangun Indonesia yang lebih damai. [AH]

Baca juga Penyintas Bom Menggugah Nurani Jurnalis

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...