HomeBeritaBelajar Tak Terbatas Dinding...

Belajar Tak Terbatas Dinding Kelas

Aliansi Indonesia Damai- Pengetahuan bisa diserap dari mana pun, tak melulu melalui sesi-sesi formal pembelajaran di ruang kelas. Remaja sebagai generasi penerus bangsa harus mau menggali ilmu dari sumber mana pun dan momentum apa pun.

Pesan tersebut disampaikan oleh Hendi Rohaidi, Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan SMAN 1 Anjatan, Indramayu, Jawa Barat, dalam “Diskusi Interaktif: Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”  yang diadakan AIDA di sekolah tersebut pada Selasa, (15/02/ 2022). Kegiatan diikuti oleh 72 siswa.

Baca juga Menjadi Tangguh di Era Disinformasi

“Pembelajaran tidak hanya dibatasi oleh dinding-dinding kelas, tidak hanya dibatasi tatap muka seorang siswa dengan guru. Hal tersebut bisa mengakibatkan miskin ilmu dan pengetahuan,” ujarnya.

Hendi menambahkan, para pelajar mesti haus ilmu pengetahuan sehingga mau menggali informasi dari dunia luar. Pasalnya dalam lima sampai sepuluh tahun ke depan, generasi remaja hari ini yang akan menggantikan posisi generasi sekarang. “Termasuk kalian bisa belajar dari AIDA ini” ucapnya.

Baca juga Menumbuhkan Ketangguhan Generasi Muda Indramayu

Menguatkan pesan yang disampaikan Hendi, Laode Arham, Deputi Direktur AIDA, mengatakan, hari ini segala informasi dan pengetahuan dapat diperoleh secara sangat cepat melalui perangkat teknologi informasi yang mana setiap orang telah memilikinya. Namun di tengah kemajuan tersebut, banyak sekali terjadi disinformasi dan miskomunikasi.  Pasalnya banyak orang yang dengan sengaja memutarbalikkan fakta yang sesungguhnya untuk mencapai tujuan dan kepentingan mereka sendiri.

“Ada juga kelompok-kelompok  yang menyebarkan paham-paham tertentu yang tujuannya merusak generasi muda, merusak masyarakat, dan bangsa ini. Untuk itu adik-adik harus menyikapi dengan baik,” katanya berpetuah.

Baca juga Kepala SMAN 1 Kroya Indramayu Ingatkan Persatuan Indonesia

Dalam kegiatan ini, AIDA menghadirkan kisah-kisah pertobatan mantan pelaku terorisme dan korbannya. Laode berharap, para pelajar dapat mengambil pembelajaran dari kisah ketangguhan korban bom terorisme dan mantan pelaku kekerasan. Para korban meski telah mengalami musibah yang berat ternyata mampu bangkit untuk menjalani kehidupan secara normal. Sementara para mantan pelaku memutuskan bertobat dari aksi-aksi kekerasan dan memilih menjadi duta perdamaian.

Usai menyimak kisah kedua belah pihak tersebut, sejumlah peserta menyampaikan kesan-kesannya. Salah satu siswa mengatakan bahwa aksi-aksi terorisme sama sekali tidak memberikan dampak kemaslahatan secuil pun. Dari sisi korban, mereka bahkan ada yang kehilangan anggota tubuh.

Baca juga Menyemai Perdamaian di Kalangan Pelajar Indramayu

“Kita sebagai orang Islam juga ikut merasakan dampaknya, yaitu tercemarnya nama baik Islam. Islam yang terkenal dengan kedamaiannya, kesopanannya, tapi karena oknum tersebut, nama Islam menjadi rusak” katanya tegas.

Adapun dari sisi mantan pelaku, seorang siswi mengambil pembelajaran komitmen pertobatannya. Dalam hematnya, tidak ada yang sempurna di dunia ini. “Kita sebagai pelajar bisa mengambil pelajaran bahwa hal yang menurut kita baik, belum tentu baik untuk semua orang. Alangkah baiknya kita belajar dari dunia luar dan juga belajar dari orang lain. Kita memang tidak bisa membenarkan terorisme, tapi kita harus positif kepada mereka bahwa itu bagian dari proses hidup yang lebih baik” tuturnya. [FKR]

Baca juga Menjaga Perdamaian di Lingkungan Sekolah

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas)...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...