HomeOpiniMembesarkan Anak dengan Nilai...

Membesarkan Anak dengan Nilai Perdamaian

Dunia Islam saat ini memiliki lebih dari 1,6 miliar jiwa, dengan 60 persen berada di usia muda produktif. Ini adalah keuntungan demografis yang dahsyat bagi dunia Muslim.

Negara-negara anggota Organisasi Kerjasama Islam (OKI) memiliki tanggung jawab untuk mendidik kaum muda, menanamkan moralitas, etika dan nilai, menciptakan lingkungan yang kondusif bagi mereka untuk tumbuh, dan memberdayakan mereka dengan keterampilan ekonomi dan sosial. Upaya-upaya ini akan membantu umat Islam kembali berjaya.

Akan tetapi, situasi yang dihadapi pemuda kita saat ini sungguh mengkhawatirkan. Mereka menghadapi kemiskinan berkepanjangan, kesulitan ekonomi, begitu juga bencana-bencana kemanusiaan.

Hidup mereka terganggu banyaknya sengketa dan perang, tak jarang di antara negara-negara OKI sendiri. Pemuda juga menjadi korban ideologi terorisme, radikalisme dan ekstremisme.

Ada tiga isu yang penting disorot Dunia Islam menyangkut kaum muda. Pertama, pemuda Muslim di seluruh dunia harus bersatu, mengedepankan semangat Ukhuwah Islamiyah (solidaritas Islam).

Indonesia merasa prihatin dengan perselisihan terbuka di antara anggota OKI. Tak ada yang lebih puas menyaksikan perselisihan di antara negara-negara sepersaudaraan OKI, selain mereka yang tidak ingin melihat dunia Islam bersatu dan makmur.

Hanya dengan menyatukan energi kita bisa memperkuat kerja sama untuk berbagai persoalan, termasuk Palestina. Ingat, OKI adalah singkatan dari Organisasi Kerjasama Islam.

OKI sebagai satu kelompok persatuan harus memperkuat persaudaraan dan menolak permusuhan dan kebencian satu sama lain.

Sebagai anggota OKI, Indonesia akan terus membantu membangun lingkungan yang kondusif untuk melakukan dialog guna menjamin perdamaian dan stabilitas yang berkelanjutan di dunia, khususnya di negara-negara Islam.

OKI juga sangat perlu untuk menguatkan dan mengembangkan praktik dialog inklusif dalam menangani perbedaan dan perselisihan berdasarkan kemitraan yang setara.

OKI yang demokratis, transparan dan inklusif adalah impian kita yang dapat terwujud. Demi tujuan itu, penting bagi kaum muda kita untuk memahami pentingnya perdamaian dan stabilitas, serta kunci dialog dalam menyelesaikan perselisihan.

Kedua, memperkuat kerja sama kita adalah wajib dalam melawan terorisme dan radikalisme.

Meningkatnya prevalensi serangan teroris di dunia, termasuk di beberapa negara anggota OKI, sungguh mengkhawatirkan. Serangan dan pendudukan Marawi di Filipina baru-baru ini adalah “alarm kesadaran” bagi kita semua, mengingatkan kita bahwa regionalisasi kelompok teror kini meluas.

Afiliasi kelompok-kelompok lokal dengan gerakan Islamic State (IS) semakin berkembang. Banyak dari teroris dan pejuang teroris asing ini adalah kaum muda, termasuk wanita muda.

Kita perlu memperkuat upaya kolektif untuk mengatasi intensifikasi regionalisasi kelompok teror, termasuk dengan menangani akar penyebab terorisme melalui pemberdayaan ekonomi dan pemberdayaan perempuan, dan dengan menangkal narasi ideologi radikal, terutama melalui media sosial.

Ketiga, sangat penting untuk memberikan pendidikan yang baik bagi generasi muda, menjadikan pemuda sebagai pijakan pusat perkembangan kita. Pemuda kita akan terus memainkan peran penting bagi negara-negara anggota OKI. Terkait hal ini, kita perlu berhati-hati merancang pendidikan yang memupuk nilai toleransi dan rasa saling menghormati, serta menciptakan budaya perdamaian.

Kita memikul tanggung jawab bagi generasi penerus kita. Mari kita pimpin dan arahkan mereka dengan suri tauladan. Mari kita besarkan mereka dengan nilai damai Islam.

Penulis adalah Menteri Luar Negeri Indonesia. Artikel ini didasarkan pada presentasinya pada Sidang ke-44 Dewan Menteri Luar Negeri OKI di Abidjan pada 10-11 Juli.

*Tulisan ini pernah dimuat di Jakarta Post edisi 12 July 2017

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...

Direktur Pontren Apresiasi Halaqah Alim Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengapresiasi Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, di Kota Medan pertengahan Agustus lalu. “Hajatan ini cukup bermakna bagi kita...

Mendesain Pendidikan Kemanusiaan di Era Disrupsi

Muhammad Turhan Yani Guru Besar dan Kepala Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Universitas Negeri Surabaya, Dewan Pakar HISPISI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 03 September 2026 TOPIK ini melampaui pendidikan dalam berbagai perspektif, yang sering dibatasi pada kelompok bidang studi atau keilmuan. Pesatnya kemajuan...

Membaca Pancasila dari Bawah

Oleh Komaruddin Hidayat, Ketua Dewan Pers Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 01 September 2026 Kemajemukan bangsa ini secara politis-ideologis disatukan oleh Pancasila. Sejauh ini dari kelima sila itu pembahasan paling banyak ditekankan pada sila pertama Ketuhanan yang Mahaesa, untuk menciptakan kondisi yang harmonis dari sekian ragam...

Menghargai Perbedaan dan Menjaga Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said menekankan pentingnya umat Islam menghargai perbedaan dan menjaga persaudaraan. Dalam Islam, kata dia, dikenal tiga jenis persaudaraan (ukhuwah) yaitu ukhuwah Islamiyah (persaudaraan keislaman), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan), ukhuwah insaniyah (persaudaraan kemanusiaan). “Kalau kita tidak bersaudara sama-sama...

Erosi Otoritas Ilmiah

Oleh Imam Mujahidin Fahmid, Guru Besar Universitas Hasanuddin, Kepala Pusat Kajian Opini Publik untuk Demokrasi dan Pembangunan LPPM Universitas Hasanuddin Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 31 Agustus 2026 Dalam belasan tahun terakhir, kehidupan kolektif bangsa Indonesia memperlihatkan gejala yang patut dicermati, yakni menguatnya kecenderungan antisains...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...