HomeBeritaBerjejaring Membentuk Barisan Perdamian

Berjejaring Membentuk Barisan Perdamian

Puluhan guru mengangkat tangan seraya melantangkan ikrar. Dengan penuh penghayatan mereka serentak berucap, “Hari ini kami berjanji kepada Tuhan Yang Maha Kuasa untuk saling melakukan upaya watawasau bilhaq, watawasau bilsabr, untuk menebar kedamaian di negeri kami, kota kami, dan sekolah kami. Semoga kiranya Tuhan selalu melapangkan jalan dan memudahkan upaya ini.”
Ikrar tersebut terjadi dalam kegiatan Pelatihan Guru “Belajar Bersama Menjadi Guru Damai” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Bandung, Jawa Barat, akhir Januari lalu. Pengucapan ikrar dipandu oleh Pembina AIDA, Imam B. Prasodjo.
Imam mengajak para guru dari lima sekolah, yaitu SMAN 1 Padalarang; SMAN 1 Ngamprah; SMAN 1 Baleendah; SMAN 1 Dayeuhkolot; dan SMAN 1 Katapang, untuk menjadi bagian dari barisan perdamaian. “Mari kita sama-sama berjejaring untuk menjadi barisan perdamaian. Diharapkan setelah mengikuti pelatihan ini guru-guru bisa membentuk barisan perdamaian,” ujarnya.
Dalam pandangannya, seorang pendidik sangat penting menjadi barisan perdamaian karena saat ini fenomena kekerasan di kalangan pelajar sudah sangat memprihatinkan.
“Saya ingin menyaksikan guru-guru berani berada di tengah untuk mencegah anak-anak didiknya supaya tidak tawuran. Seperti yang dilakukan oleh guru-guru di Kota Tual, Maluku saat terjadi konflik horizontal, itu yang mencegah konflik dan menjadi aktivis perdamaian adalah para guru,” tuturnya.
Pengajar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia itu menegaskan, bila seorang pendidik tidak melakukan upaya pencegahan kekerasan di kalangan anak didiknya maka ia menjadi bagian dalam tindakan kriminal tersebut. Dia meyakini guru memiliki kewenangan untuk mencegah kekerasan di kalangan anak didik.
Kasi Pengembangan Bakat dan Prestasi Direktorat Pembinaan SMA Kemendikbud, Asep Sukmayadi, dalam Pelatihan mengatakan upaya pencegahan kekerasan di kalangan pelajar sudah tertuang dalam Permendikbud No. 82 Tahun 2015. “Permendikbud itu mengatur upaya penanggulangan dan sanksi tindak kekerasan hingga upaya pencegahan yang dilakukan oleh sekolah, pemerintah daerah dan pemerintah pusat. Salah satu upaya pencegahan tindak kekerasan yang bisa dilakukan pihak sekolah yaitu membentuk tim pencegahan kekerasan dari unsur guru, siswa dan orang tua,” ujarnya.
Dalam Pelatihan selama dua hari itu, peserta mendapatkan pembekalan untuk mengantisipasi peserta didik terjerembab paham ekstremisme yang disampaikan oleh pakar terorisme Universitas Indonesia, Solahudin. Menurut dia, salah satu langkah menyelamatkan anak didik dari kelompok ekstrem adalah dengan mengetahui paham dan perilakunya.
Solahudin menjelaskan, bila ada siswa yang berpemikiran bahwa pemerintah Indonesia adalah thaghut, pegawai negeri sipil adalah penolong thaghut, orang yang ikut pemilihan umum adalah kafir, dan semacamnya, dapat diindikasikan bahwa siswa tersebut telah terpapar ideologi kelompok ekstrem. Menurutnya, langkah yang bisa dilakukan oleh guru adalah mengajak siswa tersebut berdialog sembari mengupayakan counter-narasi dengan dalil-dalil keagamaan.
Pelatihan guru di Bandung juga menghadirkan Tim Perdamaian yang terdiri dari Ali Fauzi (mantan pelaku terorisme) dan Tita Apriyantini (korban Bom JW Marriott 2003). Ali menceritakan pengalaman kelamnya ketika bergelut dalam jaringan terorisme hingga memutuskan untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, salah satu faktor yang membuat dirinya bertekad meninggalkan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban terorisme. “Awalnya, ketika saya mendengarkan kisah korban bom, saya menangis berjam-jam dan tak tahan membayangkan penderitaan yang dialami oleh mereka. Saya minta maaf kepada para korban atas tindakan kakak saya dan rekan-rekan saya,” ujarnya.
Sementara itu, Tita Apriyantini berkisah tentang pengalaman hidupnya terkena bom terorisme. Ia terkena ledakan bom ketika sedang menjalani latihan kerja di Restoran Syailendra Hotel JW Marriott Jakarta. Akibat ledakan, dia menderita luka bakar serius di bagian tangan. Setelah bertemu mantan pelaku, dengan fasilitasi AIDA, dia kini mengaku telah mengikhlaskan kejadian masa lalu dan tidak menyimpan dendam. “Saya dan mantan pelaku sudah saling memaafkan. Kita bersama-sama mengampanyekan pentingnya perdamaian kepada masyarakat,” tutur Tita.
Kisah mantan pelaku dan korban bom tersebut menginspirasi para guru untuk mewujudkan Indonesia yang lebih damai. “Saya mengapresiasi korban yang tidak dendam pada pelaku dan bisa saling memaafkan. Sebagai guru kita harus menyebarkan perdamaian kepada anak didik karena kedamaian dan kebersamaan adalah milik kita bersama,” kata seorang peserta.
“Merah darahku, putih tulangku, garuda di dadaku, damai Indonesiaku. Aku yakin hari ini kita pasti menang untuk melawan kekerasan. Kita sudah membuat barisan perdamaian, aku yakin kita menang,” ujar guru yang lain. [AS]
*Artikel ini pernah dimuat di Newsletter AIDA “Suara Perdamaian” edisi XII April 2017.

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 1)

Setiap orang butuh rumah. Baik dalam arti fisik, tempat di mana ia berasal dan menuju pulang, maupun secara substantif ruang di mana ia selalu diterima dan dicintai oleh keluarga. Choirul Ihwan, pria asal Madiun, Jawa Timur, ialah satu dari sekian orang yang merasa kehilangan rumah itu sejak...

Syariat Allah Memerintahkan Kebaikan

Aliansi Indonesia Damai- Syariat Allah Swt itu memerintahkan umat manusia untuk berbuat kebaikan bukan keburukan atau kejahatan. Siapa pun yang melakukan kejahatan atau keburukan maka telah melanggar syariat Allah Swt. Demikian pernyataan mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery...

Tangguh Menghadapi Ujian

Oleh Nur Aliyah, pengasuh Ponpes Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten* Dalam kehidupan ini, ujian dan cobaan adalah keniscayaan. Ia datang silih berganti, tanpa pernah memandang waktu, usia, atau status sosial. Sebagai muslim, kita diajarkan untuk tidak sekadar pasrah, melainkan tangguh. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: ketangguhan macam apa yang seharusnya...