HomeInspirasiAspirasi DamaiMenyemai Empati untuk Mengekalkan...

Menyemai Empati untuk Mengekalkan Perdamaian

Empati merupakan salah satu unsur penting dalam membangun perdamaian dan harmoni di masyarakat. Kemampuan memahami pengalaman dan perasaan orang lain tidak hanya meningkatkan hubungan interpersonal, tetapi sangat penting sebagai langkah pencegahan konflik sekaligus mengekalkan perdamaian.

Aliansi Indonesia Damai (AIDA) menjadikan empati sebagai komponen penting dalam aktivitas kampanye perdamaian yang melibatkan korban terorisme dan mantan pelaku terorisme yang telah insaf. Kisah korban terorisme dan mantan pelaku terorisme menjadi pemantik empati generasi muda untuk membangun masyarakat yang inklusif dan toleran. Hal ini bukan isapan jempol semata, tidak jarang dari kegiatan AIDA, para pelajar menyampaikan rasa empatinya setelah mendengarkan kisah korban dan mantan pelaku terorisme yang telah insaf.

Baca juga Argumentasi Agama Perdamaian

“Saya ikut merasa sedih, merasakan empati. Karena saya juga membayangkan kalau keluarga saya yang menjadi korban ataupun teman dekat saya menjadi korban bom,” tutur siswa SMA Al Falah Surabaya usai mengikuti kegiatan AIDA “Diskusi Interaktif: Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” beberapa waktu lalu.

Urgensi Pendidikan Empati

Sebuah penelitian yang diterbitkan di International Journal of Intercultural Relations (2023), menyelidiki pengalaman remaja migran di Melbourne, Australia dan Toronto, Amerika Serikat. Penelitian yang berjudul Empathy Across Difference: Migrant Youth and Transcultural Capital menemukan bahwa interaksi lintas budaya membantu remaja membangun kemampuan memahami pandangan orang lain. Jurnal yang ditulis Arias Cubas dan kawan-kawan itu menjelaskan interaksi lintas kultural memungkinkan individu untuk menerima keberagaman dan mengelola perbedaan secara damai, yang pada akhirnya mendukung perdamaian dalam masyarakat beragam.

Penelitian Arias dan kawan-kawannya meyakinkan kita bahwa empati sebagai jembatan untuk memahami sudut pandang orang lain, sehingga pendidikan empati sangat penting untuk diterapkan. Bahkan, UNESCO menyebut empati layak diakselerasi melalui pendidikan formal bagi generasi muda sebagai bagian pendidikan moral.

Laporan program UNESCO ‘Learning for Empathy: Moral Education in Practice’ menunjukkan, empati dalam pendidikan moral dapat diterapkan melalui pembicaraan tentang hal-hal yang sensitif seperti hak asasi manusia dan keadilan sosial. Hasil yang muncul dari program pengajaran empati yaitu peserta didik diajarkan untuk melihat dunia dari sudut pandang orang lain sehingga dapat meningkatkan nilai-nilai kemanusiaan dan toleransi. Program ini menunjukkan bahwa sekolah tidak hanya bertanggung jawab untuk memberikan pendidikan akademik, tetapi juga untuk membangun sifat yang mendukung keamanan dan kerukunan sosial.

Baca juga Pentingnya Membudayakan Perdamaian Sejak dalam Pikiran

Bahkan, menurut analisis American Psychological Association (APA) tahun 2023, empati sering dianggap sebagai keterampilan yang dapat dipelajari dan dikembangkan dalam psikologi melalui peran lingkungan seperti pola asuh, pendidikan, dan interaksi sosial. Laporan APA yang berjudul Empathy and Conflict Resolution: A Meta-Analytic Review itu menunjukkan, bahwa empati mendorong perilaku prososial seperti membantu orang lain, mengurangi konflik sekaligus menunjukkan bahwa pengembangan empati di kalangan masyarakat bukan hanya urusan individu tetapi tanggung jawab kolektif masyarakat.

Empati untuk Menyemai Bibit Perdamaian

Empati sering kali menjadi inti dari kampanye perdamaian yang dilakukan AIDA, termasuk mengurangi pemahaman ekstrem para mantan jaringan kelompok prokekerasan. Korban terorisme berbagi ceritanya kepada pelaku kekerasan adalah salah satu metode yang dilakukan AIDA. Ketika kita mendengarkan langsung dari orang yang mengalami pengalaman traumatis, ceritanya lebih mampu menyentuh hati dan membuat hubungan emosional yang mendalam, sehingga kita terserap untuk memahami kompleksitas situasi. Metode ini telah terbukti efektif dalam mengusik pemikiran prokekerasan mantan pelaku kekerasan dan mendorong terjadinya dialog positif di antara korban terorisme dan mantan pelaku terorisme.Empati penting untuk perdamaian tidak hanya dalam hubungan interpersonal, tetapi juga dalam struktur sosial yang lebih luas. Generasi muda yang memiliki sikap empatis lebih mungkin mampu menangkal narasi yang memecah belah, bahkan berperan aktif mencegah ketidakadilan dan potensi konflik sosial.

Empati dapat ditanamkan sebagai nilai penting dalam kehidupan generasi muda melalui pendidikan, kampanye perdamaian yang berbasis kisah, dan interaksi lintas budaya. Dengan mendorong empati, kita tidak hanya membantu individu menjadi lebih peduli, tetapi juga membangun pondasi mengekalkan perdamaian di mana pun.

Baca juga Memaafkan, Melampaui Derita

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Urgensi Pendidikan Perdamaian

Oleh: Muhammad Saiful HaqLulusan Fakultas Psikologi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Salah satu...

Trauma dan Potensi Kekerasan yang Meluas

Oleh: Muhammad Saiful Haq,Master Psikologi dari UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Salah satu...

Argumentasi Agama Perdamaian

Islam merupakan salah satu agama dengan jumlah pemeluk  terbesar di dunia....

Memaafkan, Melampaui Derita

Memaafkan adalah proses yang rumit dan mendalam. Tidak sekadar ucapan “aku...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...