HomeInspirasiSuara Mantan PelakuMantan Pelaku Tekankan Generasi...

Mantan Pelaku Tekankan Generasi Muda Jaga Perdamaian

ALIANSI INDONESIA DAMAI – “Saya meminta maaf kepada para korban. Bukan bermaksud membangga-banggakan diri, juga bukan untuk mengungkit masa lalu. Saya sharing kepada kalian agar tidak seperti saya, jatuh ke lubang yang sama.”

Demikian kata Kurnia Widodo, seorang mantan pelaku terorisme, di hadapan siswa-siswi peserta Dialog Interaktif bertema “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di SMAN 3 Serang, Banten (29/1/2019). Setelah bertemu dengan korban terorisme, dan menyaksikan sendiri dampak aksi teror pada diri mereka, Kurnia menyadari kesalahan masa lalunya bergabung dengan kelompok teroris.

Kurnia menceritakan bahwa sejak bersekolah di sebuah SMA di Lampung, ia gemar melahap buku-buku keagamaan. Ketika itu ia memiliki ghirah (semangat) yang sangat tinggi untuk bergabung dengan kelompok pengajian dan gerakan-gerakan keagamaan. Semangatnya itu menggiringnya ke titik yang paling ekstrem, bergabung dengan kelompok yang menyebarkan paham terorisme.

Selepas SMA ia melanjutkan kuliah di Fakultas Teknik Institut Teknologi Bandung (ITB). Meskipun terpisah dari rekan-rekannya di Lampung, kiprahnya di jaringan pro-terorisme terus berkembang semasa kuliah. Di wilayah Bandung ia bergabung dengan forum pengajian yang mengajarkan untuk melakukan aksi terorisme.

Dari kajian tersebut ia mengaku semangatnya untuk terlibat aksi terorisme semakin kuat. Selain meracik bahan-bahan peledak, ia mengaku telah mengajarkan pengetahuan membuat bom kepada beberapa anggota kelompoknya.

Namun, itu semua adalah masa lalunya. Setelah ditangkap lalu menjalani masa hukuman di penjara, Kurnia banyak merenung. Salah satu yang turut menyadarkannya akan kekeliruan ajaran kelompoknya di masa lalu, adalah perilaku sebagian anggota kelompok yang mudah untuk menyematkan identitas kafir kepada orang lain. Doktrin dalam kelompoknya menekankan para anggotanya untuk meyakini pemahaman Islam merekalah yang paling benar, dan menganggap yang di luar kelompoknya adalah salah, meskipun meyakini Rukun Iman dan mengamalkan Rukun Islam. Ia melihat guru dan sebagian rekannya menafikan keimanan sebagian besar umat Islam di Indonesia.

Kepada para siswa SMAN 3 Serang peserta Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” Kurnia berpesan agar mawas diri, mempelajari ilmu agama dengan baik, mematuhi bimbingan para alim ulama, dan tidak mudah tergiur ajakan pengajian yang menganjurkan untuk melakukan kekerasan. Generasi muda, kata dia, harus memiliki sifat ketangguhan dari ajakan-ajakan negatif berbungkus kegiatan keagamaan seperti yang pernah dialaminya.

Ajaran kekerasan, lanjutnya, hanya akan melahirkan korban dari orang-orang tak bersalah, serta merusak kondisi kedamaian suatu bangsa. Saat masih berada di dalam organisasi teroris, Kurnia mengaku tak pernah memikirkan dampak terorisme terhadap para korban. Namun, setelah dipertemukan dengan korban, ia tak henti-hentinya meminta maaf. Ia sempat merasa kaget dan terpukul memahami fakta bahwa apa yang pernah ia ajarkan kepada anak buahnya di kelompok teroris ternyata berakibat buruk, sangat merusak, dan menimbulkan derita berkepanjangan bagi korban.

Setelah bertemu dan bertatap muka dengan para korban, Kurnia mengaku berempati dan merasa bersalah atas apa yang dilakukannya di masa lalu. “Ketika saya melihat langsung banyak korban yang menderita, jadi muncul empati saya kepada mereka,” ujarnya.

Setelah bertobat dari kekerasan, Kurnia memutuskan untuk terlibat aktif mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat, termasuk kalangan muda dan pelajar seperti yang ia lakukan di SMAN 3 Serang. Semua itu ia lakukan agar masyarakat, terutama generasi muda, memahami pentingnya menjaga perdamaian, sekaligus sebagai upaya pencegahan agar pemuda selalu menghindari paham keagamaan yang menyimpang.

 

Oleh: Fahmi Suhudi

Most Popular

More from Author

Dialog Siswa SMAN 5 Surakarta dengan Mantan Ekstremis

Aliansi Indonesia Damai- AIDA melaksanakan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi...

Generasi Muda Berkarakter Damai

Aliansi Indonesia Damai- Memperkuat pendidikan karakter bagi generasi muda bisa menjadi...

Dialog Siswa SMK Bhinneka Karya Surakarta dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai- Generasi muda sebagai pilar masa depan bangsa harus...

Wawasan Perdamaian Sejak Dini

Aliansi Indonesia Damai- Kampanye perdamaian penting dilakukan di lembaga-lembaga pendidikan, terutama...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...