HomeOpiniIdul Kurban dan Semangat...

Idul Kurban dan Semangat Ketangguhan

Oleh Fahmi Suhudi
Mahasiswa Sekolah Pascasarjana UIN Jakarta

Hari Raya Idul Adha 1440 H kali ini menjadi istimewa karena bertepatan dengan bulan kemerdekaan Republik Indonesia. Spirit pengorbanan dan kemerdekaan melebur sekaligus dalam teladan Ibrahim dan Ismail. Ayah dan anak itu rela mengorbankan yang paling berharga dalam kehidupan mereka bagi dan demi Allah Swt. Mereka adalah jiwa-jiwa yang merdeka dari dorongan ego, keakuan diri. Dengan pengorbanan luar biasa dan kerelaan untuk mengesampingkan ego, Allah jadikan keduanya sebagai manusia tangguh yang menginspirasi peradaban manusia.

Idul Adha adalah momen berkelanjutan dari peristiwa historis-religius, pengurbanan Ibrahim As tersebut. Ia sarat akan makna spiritual untuk kehidupan kita di era masa kini. Secara bahasa, kata ‘ied’ berarti kembali, sedangkan kata ‘adha’ bermakna penyembelihan. Dari sini bisa dipahami, bahwa perayaan Idul Adha dapat dimaknai sebagai spirit untuk kembali berkurban, yaitu menyembelih sifat-sifat kebinatangan dalam diri kita -yang direpresentasikan dengan hewan kurban- demi mengharap keridaan Allah semata.

“Sebaik-baik manusia ialah yang paling memberikan kemanfaatan kepada manusia”.

Dari segi spiritualitas, ibadah kurban mengandung dua makna penting. Pertama, berkurban sebagai aktivitas spiritual personal yaitu pelaksanaan ritual ibadah an sich sebagai wujud ketaatan kepada Allah. Kedua, kurban sebagai ibadah horizontal, yakni menjalin kepedulian di antara sesama. Berkurban berarti membiasakan diri serta berlomba-lomba untuk memberikan perhatian, bantuan, dan pertolongan kepada yang membutuhkan, sehingga dari itu solidaritas sosial menjadi lebih kuat. Sebagaimana disebutkan dalam sebuah riwayat hadis, Rasulullah Saw bersabda: “Sebaik-baik manusia ialah yang paling memberikan kemanfaatan kepada manusia”.

Mengasah Ketangguhan

Ketaatan dan penerimaan Ibrahim atas perintah Allah, serta keikhlasan luar biasa dari Ismail, memberikan pelajaran kepada manusia bahwa hidup membutuhkan pengorbanan dan ketangguhan. Menurut Quraish Shihab (2017), berkurban tidak hanya bentuk kepatuhan hamba terhadap perintah, keputusan dan takdir Allah, tetapi juga bisa diartikan memberikan kebahagiaan kepada orang lain. Dalam kehidupan sosial di masyarakat, yang berkelebihan mengorbankan sebagian hartanya untuk menyembelih hewan kurban, kemudian dagingnya dibagi kepada yang membutuhkan. Demikianlah keteraturan sosial yang berlaku umum di masyarakat. Dengan berkurban, solidaritas sosial masyarakat bisa terbangun, dan dari itu kebersamaan serta kemanfaatan bersama dapat dicapai.

Baca juga Refleksi Kurban: Menahan Ego Demi Perdamaian

Sementara itu, Cholil Nafis (2018) mengatakan, berkurban merupakan sarana untuk meningkatkan kesalehan sosial. Berbeda dengan ritual ibadah lain seperti shalat, yang hanya berkepentingan tentang “aku”, maka berkurban berbicara tentang “kita”. Secara lahir, pahala dari ibadah kurban memang hanya diberikan kepada orang yang berkurban. Namun, hakikatnya berkat dari pengurbanan individual tersebut berbagai kemaslahatan sosial dalam masyarakat dapat mewujud. Dari sini dapat dipahami bahwa dari ibadah kurban, tidak ada ‘aku’ lagi, yang ada adalah ‘kita’, menjadi ‘bersama’.

Pengorbanan Ibrahim dan Ismail memberikan pelajaran penting, bagaimana kita memiliki ketangguhan, yakni kemampuan untuk menguasai diri, menahan diri dari ego yang berlebihan, perjuangan dan ketaatan pengabdian, serta rela berkorban demi kemaslahatan sosial.

Sifat-sifat ketangguhan dalam semangat kurban dapat kita temukan contoh empirisnya dari kisah para korban aksi terorisme dan mantan pelaku. Para korban, meskipun takdir menggariskan mereka harus mengalami luka, bahkan sampai menjadi cacat seumur hidup, atau kehilangan orang terkasihnya, namun kenyataan itu tidak membuat mereka lemah. Justru, mereka menampakkan ketabahan dan perjuangan untuk bangkit dari keterpurukan.

Sebagai contoh adalah kisah Hayati Eka Laksmi, seorang korban tidak langsung dari peristiwa Bom Bali, 12 Oktober 2002 silam. Perempuan asal Malang, Jawa Timur ini kehilangan suaminya, Imawan Sarjono, yang meninggal dunia terkena ledakan bom tersebut. Sejak saat itu, Eka Laksmi berjuang membesarkan anak-anaknya seorang diri. Di tengah keterbatasannya, Eka mampu berdamai dengan pahitnya masa lalu, mengajarkan anak-anaknya untuk tidak menaruh dendam, bahkan secara perlahan berkenan untuk memaafkan para mantan pelaku aksi terorisme. Ia telah melebur tembok kebencian yang sempat menghalanginya untuk memaafkan. Hubungan Eka dengan mantan pelaku kini sangat cair dan dinamis. Eka terus mendukung para mantan pelaku yang telah bertobat untuk menyadarkan masyarakat akan dampak dan bahayanya paham keagamaan yang ekstrem.

Inspirasi ketangguhan juga ditemukan dalam kehidupan mantan pelaku terorisme. Hasibullah Satrawi (2018) berpandangan, dari pengalaman mantan pelaku terorisme dapat diresapi bahwa mereka berani berhijrah dari jalan kekerasan menuju perdamaian. Sungguh tidak mudah bagi yang pernah bergabung dengan kelompok teroris untuk mengakui kesalahan apalagi menjalin rekonsiliasi dengan korban terorisme. Jalan hijrah dari jalan kekerasan menuju perdamaian meniscayakan banyak ancaman, intimidasi dan tantangan dari jaringan lamanya. Di sinilah ketangguhan diri mantan pelaku perlu diapresiasi.

Korban dan mantan pelaku yang telah sama-sama menanamkan ketangguhan diri mampu mewujudkan terjalinnya rekonsiliasi di antara mereka. Mantan pelaku telah menyadari kekeliruan masa lalunya serta meminta maaf kepada para korban, kemudian kini berupaya memperbaiki kesalahan dengan cara mengampanyekan perdamaian ke masyarakat. Para korban yang telah kuat melampaui kesedihan masa lalu pun membuka pintu maaf. Mereka membagikan kisah-kisah inspiratif kepada khalayak umum agar kesadaran bersama tentang pentingnya menjaga perdamaian senantiasa menguat. Perjuangan korban dan mantan pelaku menahan ego dan mengupayakan perdamaian merupakan sebentuk ketangguhan yang luhur demi terciptanya Indonesia yang lebih damai.

Baca juga Alasan di Balik Sebuah Pemberian Maaf

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS,...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....