HomePilihan RedaksiSetiap Ujian Pasti Ada...

Setiap Ujian Pasti Ada Jalan Keluar

“Setiap saya melihat mobil boks, saya merasa takut, saya cemas,” ungkap Albert Christiono Simatupang, salah seorang korban Bom Kuningan 2004. Aksi teror bom di kawasan Kuningan, Jakarta Selatan itu memang telah lama berlalu, namun dampak yang dideritanya masih terasa.

Aliansi Indonesia Damai- Kejadian itu menyebabkan luka di kepalanya. Sepotong logam serpihan dari bom bersarang di kepala bagian belakangnya. Akhir 2016, setelah 12 tahun lebih tragedi bom terjadi, Albert kembali merasakan sakit dan harus menjalani operasi kepala. Ia mengaku sangat bersyukur masih diberi kekuatan untuk menjalani kehidupan.

Menengok ke belakang, hari Kamis 9 September 2004 pagi, Albert diminta ayahnya untuk mengambil dokumen pengiriman barang di daerah Kuningan. Pekerjaan itu merupakan tugas selingan di sela-sela jadwal kuliahnya di program studi profesi akuntan di Universitas Indonesia.

Albert menaiki bus kota Kopaja untuk menuju ke Kuningan. Ketika sampai di depan gedung Plaza 89, terdengar ledakan yang sangat kencang. “Kaca-kaca gedung hancur, padahal jarak saya dengan lokasi cukup jauh,” tuturnya. Belakangan diketahui sumber ledakan adalah sebuah mobil boks bermuatan bom yang menyasar kantor Kedutaan Besar (Kedubes) Australia yang tepat berada di seberang Plaza 89.

Baca juga Memompa Ketangguhan Generasi Muda Indramayu

Pemuda bersuku Batak itu mengingat, asap tebal membuat wilayah di sekitar titik ledakan gelap gulita. Tak terkecuali Kopaja yang ditumpanginya, semuanya menjadi tak terlihat karena penuh asap. Albert pun berusaha turun dari bus untuk mencari pertolongan karena kepalanya sudah bercucuran darah.

Seorang pengemudi ojek memberikan pertolongan, membawanya menuju rumah sakit terdekat. Sayangnya, rumah sakit paling dekat di kawasan itu adalah RS. Mata Aini. Petugas medis berupaya membantunya, menahan pendarahan di kepalanya. Namun, karena rumah sakit tersebut khusus untuk pengobatan mata, maka penanganan yang diberikan juga tak banyak. Setelah beberapa waktu Albert pun dibawa ke rumah sakit lain yang lebih lengkap, yaitu RS. St. Carolus Jakarta. Hasil pemeriksaan menyebutkan bahwa terdapat serpihan logam di dalam kepala Albert.

Pihak keluarga sempat resah dengan besarnya biaya pengobatan yang harus ditanggung. Semua cara diupayakan, mulai dari mengumpulkan sisa tabungan pribadi sampai meminjam uang dari sanak saudara.

Albert ialah pribadi yang sangat agamis. Sejak kecil ia dididik bahwa dalam setiap ujian yang diberikan Tuhan, pasti ada jalan keluarnya. Keyakinan itu ia tanamkan dalam hati sembari terus berupaya agar segera terkumpul dana yang cukup untuk menanggung biaya pengobatannya. Di tengah harapan dan kebingungan itulah pertolongan Tuhan tiba. Pihak rumah sakit menjelaskan bahwa pemerintah akan menanggung seluruh biaya pengobatannya. Albert dan keluarganya pun merasa sangat bersyukur lantaran proses operasi pengangkatan logam dari dalam kepalanya dapat segera dilakukan.

Baca juga Belajar Memaafkan dan Mengakui Kesalahan dari Korban dan Mantan Teroris

Proses penyembuhan Albert dari operasi serta luka-luka lain akibat bom memakan waktu kira-kira 23 hari. Perawatannya melibatkan dokter, psikiater, dan psikolog. Bagi Albert, dukungan dari dosen, teman-teman, keluarga, pihak pemerintah, pihak Kedubes Australia, serta orang-orang terdekatnya sangat membantu mempercepat proses penyembuhannya.

Kendati demikian, terkadang ia masih mengalami kecemasan terhadap sesuatu. Ini terbukti ketika ia menikmati waktu bersama orang tuanya di jalan, lalu ia melihat mobil boks. Hal tersebut membuatnya takut, cemas, merinding, dan memilih untuk melewati jalan yang lain. Seiring waktu, dengan dukungan doa-doa dari pendeta, teman, dan keluarga, Albert merasa terbantu untuk bisa mengalahkan traumanya, untuk pulih seutuhnya.

Setelah benar-benar pulih, Albert kembali melanjutkan aktivitasnya sebagai mahasiswa dan aktif dalam banyak kegiatan yang bertujuan untuk mengampanyekan perdamaian. Ia melakukan kampanye perdamaian bersama dengan rekan-rekannya sesama korban terorisme, serta para mantan pelaku yang telah bertobat. “Ujian yang kita hadapi tidak akan melebihi kekuatan kita. Dan ketika diuji, Tuhan pasti akan memberikan jalan keluar atas masalah tersebut,” pungkasnya. [NOV]

Disarikan dari penuturan kisah Albert Christiono dalam sebuah kegiatan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Surabaya, Juli 2018.

Baca juga Mulailah Berdamai Dengan Diri Sendiri

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...