HomeBeritaMemompa Ketangguhan Generasi Muda...

Memompa Ketangguhan Generasi Muda Indramayu

Aliansi Indonesia Damai- “Sesuatu yang berharga itu akan terasa ketika ia hilang. Lalu bagaimana kalau yang hilang itu keluarga? Bagaimana kalau yang hilang adalah negara?” Demikian Direktur Aliansi Indonesia Damai (AIDA), Hasibullah Satrawi, mengatakan saat memberikan sambutan dalam Dialog Interaktif bertema “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN 1 Indramayu, 26 Agustus 2019 lalu.

Ia menekankan kepada 50 siswa peserta Dialog Interaktif betapa pentingnya menjaga perdamaian. Menurutnya, perbedaan yang dapat menimbulkan gesekan dalam kehidupan bermasyarakat pasti selalu ada. Namun demikian, kebijakan dalam merespons perbedaan harus mengedepankan prinsip perdamaian, bukan justru melalui cara-cara kekerasan yang dapat merusak kedamaian, seperti konflik yang terjadi di beberapa negara di Timur Tengah.

Sesuai tema “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”, kegiatan hasil kerja sama AIDA dan Direktorat Pembinaan SMA Kementerian Pendidikan & Kebudayaan itu mengajak para peserta untuk meningkatkan ketangguhan diri. Generasi muda bangsa harus memupuk ketangguhan agar tidak mudah goyah bila dihadapkan pada berbagai tantangan.

Secara khusus, pengalaman hidup dari korban dan mantan pelaku terorisme bisa dijadikan inspirasi para pelajar dalam meningkatkan ketangguhan.

Baca juga Optimalkan Potensi Diri, Tumbuhkan Ketangguhan

Dalam Dialog Interaktif di SMAN 1 Indramayu, dihadirkan korban dan mantan pelaku untuk berbagi semangat ketangguhan kepada para peserta. Mereka adalah Hayati Eka Laksmi, korban tidak langsung dari aksi teror Bom Bali 2002, dan Iswanto, seorang mantan anggota kelompok teroris.

Iswanto yang pernah menerima doktrin kekerasan, menekankan kepada para siswa bahwa ajaran jihad dalam agama bukanlah semata-mata tentang perang mengangkat senjata. Makna jihad jauh lebih luas dari itu. Menimba ilmu dengan sungguh-sungguh, kata dia, juga merupakan jihad.

Ia juga berpesan bahwa paham kekerasan seperti terorisme tidak menghasilkan perbaikan di masyarakat, justru sebaliknya, hanya akan menimbulkan korban-korban yang tak beralah. Sebagai orang yang pernah hidup di jalan kekerasan, ia meminta maaf kepada para korban teror di Indonesia. Ia telah bertobat dan kini berkomitmen untuk mengampanyekan perdamaian bersama dengan AIDA dan para penyintas terorisme.

Baca juga Kisah Tim Perdamaian Menginspirasi Pelajar di Haurgeulis

Sementara itu, Eka Laksmi berbagi kisah kepada para siswa peserta Dialog Interaktif tentang perjuangannya bangkit dari keterpurukan setelah suaminya meninggal dunia menjadi korban Bom Bali pada 12 Oktober 2002. Ledakan besar dari bom menimbulkan kerusakan parah di kawasan Legian, Bali. Lebih dari 200 orang tewas akibat serangan teror tersebut. Suami Eka saat itu hanya sekadar melintas di dekat lokasi kejadian. Kepergian suami terjadi saat Eka sedang mengasuh dua anak yang masih kecil-kecil.

Eka memotivasi para siswa agar selalu kuat, tidak menyerah meskipun dihadapkan pada masalah yang tak mudah. Ia juga berpesan agar selalu bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu, serta menjauhi ajakan kekerasan.

Sejumlah siswa menyampaikan pembelajaran yang didapatkan setelah mengikuti Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”. Seorang siswa mengungkapkan pembelajaran dari penuturan kisah Eka. “Jangan jadikan sebuah masalah atau sakit hati menjadi sebuah alasan untuk tidak bangkit di masa depan, karena di balik kegelapan pasti ada keindahan jika dilalui dengan kesabaran. Jadilah pemaaf dan bangkit demi masa depan,” ungkapnya.

Siswa bertanya kepada narasumber dalam kegiatan Dialog Interaktif “Menjadi Generasi Tangguh”.

Seorang siswa lainnya mengutarakan pembelajaran yang ia dapat dari pengalaman hidup Iswanto. “Tidak ada kata terlambat untuk meminta maaf, dan tidak ada kata telat dalam belajar. Tidak boleh malu dalam meminta maaf, dan harus punya tekad untuk berubah menjadi lebih baik,” katanya.

Di akhir kegiatan, Hasibullah menekankan tentang makna ketangguhan dari kisah korban dan mantan pelaku. Orang yang tangguh menurutnya bukanlah yang tidak pernah salah, melainkan yang berani mengakui kesalahan dan bertekad untuk memperbaikinya. Orang yang tangguh juga bukanlah mereka yang tidak pernah menangis dalam keterpurukan, melainkan yang mampu bangkit dari keterpurukan kemudian mengubah tangisan menjadi senyuman serta harapan perdamaian bagi sebanyak-banyaknya manusia.

“Dari kisah Pak Iswanto, kita belajar untuk tidak membalas ketidakadilan dengan ketidakadilan, dan dari kisah Bu Eka, kita belajar untuk tidak membalas kekerasan dengan kekerasan,” pungkasnya. [SWD]

Baca juga Belajar Memaafkan dan Mengakui Kesalahan dari Korban dan Mantan Teroris

Most Popular

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....