HomeBeritaKepala SMAN 1 Klaten...

Kepala SMAN 1 Klaten Ajak Siswa Jauhi Kekerasan

Aliansi Indonesia Damai – Kegiatan Nonton Film dan Diskusi Interaktif yang dilaksanakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di SMAN 1 Klaten bulan lalu disambut positif Kepala Sekolah SMAN 1 Klaten Drs. Kawit Sudiyono, M.Pd. Dalam sambutannya, Kawit mengucapkan terima kasih atas kedatangan AIDA yang mau berbagi semangat perdamaian di kalangan pelajar SMAN 1 Klaten. 

Kawit menyampaikan kekhawatirannya terhadap perilaku pemuda saat ini. Menurutnya, pemuda sering terlibat dalam aksi kekerasan sampai harus berurusan dengan aparat kepolisian. Oleh karena itu, ia mengingatkan para siswa agar selalu berhati-hati dengan paham-paham yang menjurus kepada aksi kekerasan. 

Baca juga Komitmen Pelajar Surakarta Menjadi Duta Damai

“Di luar sana, banyak paham yang mementingkan dirinya saja. Seseorang yang terjangkit paham itu selalu merasa bahwa dirinya yang paling benar. Dia tidak menganggap aksi yang dilakukannya itu melanggar hak asasi orang lain dan menganggu aktivitas,” ucap Kawit. 

Maka dari itu, Kawit berharap kegiatan ini akan memberikan pembelajaran tentang pentingnya menjaga perdamaian. “Program ini adalah program yang sangat baik, program yang akan menyiapkan kalian untuk masa depan yang akan datang. Melalui AIDA kita diingatkan tentang pentingnya persahabatan. Boleh tidak cocok, tetapi jangan dibarengi dengan kekerasan,” ungkapnya. 

Penyerahan cinderamata.

Kawit menekankan bahwa peserta yang mengikuti kegiatan Nonton Film dan Diskusi Interaktif tersebut merupakan siswa-siswi pilihan. Ia meminta agar para siswa dapat aktif selama kegiatan dan menyimak dengan seksama. Selain itu, para siswa juga diminta menjaga kondusivitas selama berlangsungnya kegiatan. 

Harapan yang besar disematkan Kawit di pundak siswa-siswi SMAN 1 Klaten yang hadir dalam kegiatan tersebut. Ia berharap para siswa mampu menjaga nama baik sekolah dengan cara berperilaku baik. “Kami titipkan sekitar 75 siswa ini untuk dipersiapkan menjadi siswa yang pendamai. Saya ingin mereka menjadi orang yang hebat di masa depan,” tutupnya. Sambutan Kepala Sekolah SMAN 1 Klaten itu diikuti penyerahan cenderamata dari AIDA. Selain cenderamata, AIDA juga memberikan lima eksemplar buku Ibroh: Dari Kehidupan Teroris dan Korbannya sebagai bahan bacaan yang dapat diakses di perpustakaan sekolah. [FAH]

Baca juga Menyemai Damai di Kalangan Muda Melalui Film

Most Popular

1 COMMENT

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...