HomeBeritaBerbagi Ketangguhan di SMAN...

Berbagi Ketangguhan di SMAN 1 Haurgeulis

“Dulu ketika saya sekolah, ada materi PMP (Pendidikan Moral Pancasila), kalau sekarang PKN (Pendidikan Kewarganegaraan), dan saya tidak pernah masuk. Tapi perlu adik-adik ketahui, empat tahun terakhir ini saya mengajar PKN”

Aliansi Indonesia Damai- Pernyataan itu disampaikan Iswanto, salah seorang yang pernah terlibat dalam kelompok ekstremisme, di hadapan siswa-siswi Sekolah Menengah Atas Negeri (SMAN) 1 Haurgeulis, Indramayu, Rabu (28/9). Kegiatan dialog interaktif bertema “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” itu digelar oleh Aliansi Indonesia Damai (AIDA) dan didukung oleh Direktorat Pembinaan SMA Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Iswanto berbagi pengalamannya saat masih bergabung dalam jaringan terorisme. Ia mengaku mendapatkan ilmu militer dari kelompok tersebut, seperti tata cara menggunakan senjata api, merakit bom serta strategi dan taktik perang. Ilmu yang ia dapatkan, ia praktikan dengan melibatkan diri pada sejumlah konflik komunal. Ia pun berpandangan bahwa pemerintah Indonesia harus diperangi, karena tidak sesuai dengan ajaran agama.

Baca juga Memompa Ketangguhan Generasi Muda Indramayu

Namun demikian, pasca penangkapan pelaku Bom Bali I pada tahun 2002 yang di antara pelakunya adalah guru-gurunya, maka perlahan terjadi kegamangan dalam diri Iswanto. Salah satu gurunya, Ali Imron, yang divonis penjara seumur hidup memintanya untuk tidak melanjutkan aksi-aksi kekerasan. Sementara sebagian guru yang lain justru memintanya untuk melanjutkan tindakan kekerasan. 

Di tengah-tengah kegalauan itu, Iswanto memilih melanjutkan sekolah dan tidak melanjutkan aksi-aksi kekerasan. “Inspirasi saya keluar dari jaringan ini, saya sekolah lagi. Saya ikuti ujian persamaan untuk mendapat ijazah SMA, kemudian saya lanjut ambil S1 dan S2,” kenangnya.

Kini Iswanto memilih keluar dari kelompok ekstrem. Meskipun tidak terlibat dalam aksi pengeboman, ia meminta maaf kepada para korban ledakan, termasuk kepada Hayati Eka Laksmi yang turut menjadi narasumber dalam dialog itu. Eka sendiri merupakan korban Bom Bali tahun 2002. Ia kehilangan seorang suami, Imawan Sardjono, karena menjadi korban meninggal dari peristiwa ledakan dahsyat tujuh belas tahun lalu itu.

Iswanto, membagi kisah hidupnya dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”.

Saat menceritakan kisahnya, Eka mengatakan, bahwa kehilangan suami menjadi pukulan batin bagi dirinya. Apalagi saat itu, ia tidak bekerja karena fokus membesarkan dua orang anak yang masih kecil. Namun, keadaan tak bisa ia tolak. Tulang punggung keluarga secara otomatis berpindah kepadanya. Di balik segala kepedihan itu Eka mencoba menguatkan dari dan jiwanya. 

Ia sadar bahwa kehidupan dua buah hatinya harus terus berlanjut. Karena itu, ia berusaha semaksimal mungkin untuk mencari nafkah bagi keluarganya. “Saat mengantarkan lamaran kerja. Saya menangis di atas motor. Teriak-teriak. Itu karena saya harus kuat di depan anak-anak,” ungkap Guru di salah satu sekolah swasta di Bali tersebut.

Saat ini, Eka telah bangkit dari berbagai keterpurukan masa lalunya. Selain menjadi guru konseling di sekolah swasta, Eka pun ikut mendirikanYayasan Isana Dewata, perkumpulan istri, suami dan anak korban Bom Bali. Bagi Eka dan sejumlah rekan-rekannya sesama korban, organisasi tersebut adalah wadah untuk saling menguatkan untuk menjalani hidup di masa depan. Eka juga bergabung dalam tim perdamaian AIDA untuk mengampanyekan perdamaian di kalangan generasi muda Indonesia.

Baca juga Berhijrah ke Jalan Damai

Ia pun berharap tidak ada lagi korban bom di masa depan, karena menjadi korban sungguh penderitaan luar biasa. Kehidupan dengan perdamaian menurutnya adalah anugerah yang harus terus menerus diperjuangkan. “Cukuplah kami yang menjadi korban. Cukuplah anak-anak saya yang kehilangan bapaknya. Hidup akan lebih nikmat dan berarti bila kita damai,” pesan Eka sebelum mengakhiri kisahnya.

Direktur AIDA, Hasibullah Satrawi mengatakan, makna generasi tangguh yang bisa dipetik dari kisah Iswanto dan Eka adalah orang-orang yang mau mengakui kesalahan dan mau memperbaiki diri, dan mereka yang mampu bangkit dari keterpurukan dan mengubahnya menjadi inspirasi bagi orang lain. “Semua orang pernah menangis, namun kita belajar dari Ibu Eka bahwa kesedihan tidak harus membuat kita hancur. Namun kesedihan justru membuat kita tangguh dengan bangkit dan memperbaiki keadaan,” pungkas Hasibullah. [MSH]

Baca juga Eka Laksmi, Ketangguhan Istri Korban Terorisme

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di ...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI),...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk bersepakat pada yang ushul (pokok) dan berbeda pada hal-hal yang partikular. “Kalau kita ngumpulin perbedaan-perbedaan, tidak ada ujungnya. Kenapa kita tidak bersepakat pada yang pokok, yang ushul, dan kita dibiarkan berselisih,...

Akhir Perang AS-Israel Versus Iran

Hingga hari ini (19/10), belum ada tanda-tanda perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Bukan karena tidak ada pihak yang ingin perang ini berakhir, melainkan karena perang ini berjalan liar dan tidak sesuai dengan rencana awal. Dilihat dari pernyataan sebagian elite kedua negara,...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...