HomeTajukVirus Corona dan Semangat...

Virus Corona dan Semangat Persatuan

Menurut data Gugus Tugas Covid-19, hingga Rabu (1/4), jumlah masyarakat Indonesia yang dinyatakan positif terinfeksi Covid-19 sebanyak 1.677 kasus. Dari jumlah tersebut sebanyak 103 pasien Covid-19 dinyatakan sembuh dan 157 pasien meninggal dunia. Sebaran kasus pasien positif Covid-19 juga sudah tersebar hingga 30 provinsi. Dalam sebulan, kurva pasien positif Covid-19 di negeri ini terus menanjak setiap harinya. Fenomena pandemi Covid-19 tak hanya terjadi di Indonesia melainkan juga melanda ratusan negara di dunia. 

Ada yang menarik dari masyarakat kita dalam menghadapi pandemi Covid-19. Masyarakat turun tangan melakukan gerakan kemanusiaan tanpa pamrih untuk menanggulangi wabah Corona di Tanah Air. Mereka rela merogoh kocek atau menyumbangkan sebagian harta bendanya untuk membantu penanganan dampak virus ini. Aksi mereka pun beragam; membagikan masker; penyemprotan disinfektan; menyediakan perlengkapan cuci tangan/hand sanitizer; mengumpulkan donasi untuk pengadaan Alat Pelindung Diri (APD) tenaga medis dan tenaga kesehatan yang berada di garda terdepan dalam perang melawan Covid-19; dan aksi sosial lainnya.

Baca juga Mengejar Waktu Pemenuhan Kompensasi Korban Lama

Gerakan kemanusiaan tersebut muncul atas kesadaran dan inisiatif masyarakat sendiri untuk memerangi pandemi Covid-19 dan memutus persebarannya. Masyarakat sadar betul bahwa upaya penanggulangan dan pencegahan pandemi Covid-19 tidak bisa hanya dilakukan oleh pemerintah melainkan butuh peran serta masyarakat. Keterlibatan masyarakat sangat penting dalam rangka mempercepat penanggulangan pandemi Covid-19 di bumi pertiwi.

Bentuk solidaritas dan kepedulian sosial masyarakat ini perlu diapresiasi. Kita patut berbangga ternyata persatuan Indonesia masih terjaga. Dalam situasi seperti sekarang memang yang dibutuhkan adalah kebersamaan dan persatuan dari seluruh anak bangsa. Bukan sebaliknya saling menghujat, menghina dan bercerai-berai. Persatuan dan kebersamaan akan mempercepat bencana sosial ini segera berakhir.

Baca juga Harapan Baru Pemenuhan Hak Korban Terorisme

Dalam konteks kampanye perdamaian, semangat persatuan ini pula yang telah dilakukan korban bom terorisme dan mantan pelakunya. Sebagian korban dan mantan pelaku tidak memilih jalan permusuhan atau dendam karena mereka sadar hal itu tidak akan menyelesaikan masalah. Justru mereka lebih memilih jalinan persatuan dan kebersamaan untuk mengatasi perselisihan di antara mereka dan menata hidupnya di masa depan. Hanya dengan kebersamaan, masalah apa pun berat sama dipikul dan ringan sama dijinjing.

Mari kita terus jaga kebersamaan dan persatuan untuk mengatasi masalah bangsa. Kita jadikan momentum pandemi Covid-19 untuk merekatkan kembali kebersamaan dan persatuan bangsa Indonesia yang sempat terpolarisasi akibat pemilihan kepala daerah maupun pemilihan presiden beberapa waktu lalu.

Baca juga Agar Klausul UU No. 5/2018 Tak Mandul

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...