HomeOpiniKorona dan Keselamatan Bangsa

Korona dan Keselamatan Bangsa

Terdapat relief di candi Mendut, Magelang, menggambarkan burung berkepala dua. Kepala yang atas selalu memperoleh makanan yang enak dan segar, sementara kepala bawah hanya memperoleh sisa-sisanya. Kepala bawah selalu minta kepala atas agar mau berbagi makanan yang enak dan segar, tetapi kepala atas selalu enggan berbagi. Akhirnya kepala bawah makan jamur beracun dan burung itu pun mati.

Masyarakat Indonesia sejak dulu selalu berbentuk piramida. Terdapat sekelompok kecil orang kaya berada pada strata atas, mereka menikmati bagian terbesar kue nasional. Sementara mayoritas rakyat berada di kaki piramida yang hanya memperoleh bagian kecil atau sisanya seperti fabel kisah burung berkepala dua di atas.

Dalam kajian ilmu sosial, realitas ketidakadilan ini pernah menggerakkan Karl Marx (1818-1883) untuk memobilisasi kaum buruh melawan kelompok kapitalis Eropa yang bertengger di puncak piramida yang ingin melanggengkan kekuasaannya ke dalam sistem kapitalisme-liberalisme dengan dukungan mesin industri. Mereka ini terdiri dari kelompok kecil, tetapi dengan kekuatan modal dan mesin birokrasinya mampu mengeksploitasi kaum buruh yang hanya  bermodal tenaga dan keringat.

Baca juga Hijrah untuk Kemerdekaan

Baik sistem kapitalisme maupun sosialisme keduanya punya niat mulia dan masing-masing memiliki keunggulan dan kelemahan. Keduanya ingin menyejahterakan masyarakat dengan jalan berbeda. Sisi positif sistem kapitalisme-liberalisme terletak antara lain pada perlindungan hak-hak individu, membuat masyarakat menjadi dinamis, kompetisi antarindividu berlangsung sengit,  perekonomian berkembang pesat, dan peran negara terbantu dalam upaya menciptakan kemakmuran bangsa.

Namun, problem serius muncul ketika inovasi dan kompetisi antar-individu dan perusahaan lepas dari kontrol negara, bahkan posisi negara berada dalam kontrol pemilik modal dan industri. Tak terelakkan, muncul masyarakat piramidal yang ditandai pertentangan kelas ekonomi.

Sisi negatif sistem sosialisme adalah kemerdekaan individu hilang dalam rengkuhan negara. Rakyat kehilangan daya kreativitasnya. Mereka bergerak di bawah tongkat satu komando dalam genggaman sekelompok elite penguasa yang cenderung otoriter. Lagi-lagi, struktur masyarakat sosialisme juga melahirkan bentuk piramida.

Baca juga Kehancuran di Balik Egoisme

Negara yang mengaku sosialisme pada ujungnya juga bermetamorfosis menjadi ”state capitalism”. Sementara itu, negara kapitalisme mau tak mau mesti memberikan perhatian dan perlindungan pada kaum buruh atau negara-negara miskin yang hanya punya modal tenaga karena mesin industri tak akan jalan tanpa jasa tenaga mereka.

Darwinisme sosial

Di luar ideologi kapitalisme dan sosialisme, terdapat kekuatan baru berupa ideologi evolusionisme yang berakar pada kemajuan ilmu biologi yang pada urutannya menghasilkan kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang kemudian diintegrasikan dengan sistem algoritma dan big data.

Artificial intelligence adalah sebuah jejaring teknologi yang berbasis internet yang dihubungkan  dengan sistem saraf otak manusia sehingga emosi, pikiran, dan perilaku manusia tanpa sadar bisa diprogram dan dipantau oleh pengendali big data. Orang pun kehilangan privasi dan kemerdekaan. Gawai di tangan telah menjadi perpanjangan diri (extended self).

Dengan gawai yang terhubung internet , seseorang merasa memiliki kemudahan dan kebebasan untuk melakukan bisnis, berbelanja, bertukar pikiran, dan kegiatan lain, tetapi sesungguhnya  mereka telah menggadaikan privasinya. Dia tak bisa keluar dari genggaman dan kontrol kapitalis model baru yang mengendalikan lalu lintas big data yang oleh Shoshana Zuboff disebut ”surveillance capitalism”.

Baca juga Berkurban dalam Pengorbanan Corona

Pada situasi demikian, peran negara semakin kecil karena orang dengan bebas bisa melakukan kegiatan di luar birokrasi pemerintah. Bumi yang dikapling-kapling dengan batasan negara, bangsa, dan agama menjadi datar tak ada lagi tembok penghalangnya.

Lagi-lagi,  muncul sekelompok elite superkaya yang mengendalikan lalu lintas informasi dan keuangan dunia. Mereka berpegang pada adagium Darwinian: survival of the fittest. Hanya mereka yang bisa beradaptasi dengan perubahan zaman yang bisa bertahan. Lebih dari itu, mereka yang paling kreatif dan paling kuat yang akan mengendalikan zaman.

Ancaman terhadap bangsa

Wabah Covid-19 ini menyerang secara frontal dan telak terhadap eksistensi manusia sejagat tanpa pandang bangsa, agama, dan strata ekonomi. Baik pemerintah maupun rakyat keduanya bingung, panik, dan dicekam rasa takut.

Tugas pemerintah adalah melindungi rakyatnya, tetapi mereka pun terancam Covid-19 sebagaimana rakyatnya. Namun, kelebihan dan kewajiban pemerintah adalah memiliki legalitas dan otoritas untuk  mengatur semua aset negara guna melindungi bangsa dan rakyat.

Baca juga Mewaspadai Propaganda Ekstremisme Saat Pandemi

Jika rakyat Indonesia terlalu menyandarkan dan mengandalkan pemerintah, siap-siap saja untuk kecewa atau marah-marah. Masyarakat yang terbiasa hidup di bawah pemerintahan liberal, seperti Eropa dan Amerika, kelihatannya sulit diatur. Mereka sudah terbiasa hidup bebas tanpa campur tangan negara.

Makanya masyarakat Eropa dan Amerika korban yang berjatuhan lebih banyak dibanding China yang biasa hidup di bawah pemerintahan otoriter. Masyarakat awalnya memandang enteng terhadap virus serta sulit diatur untuk melaksanakan physical distancing.

Pesta dan kumpul-kumpul tetap dilakukan. Ini berbeda dari masyarakat China yang pemerintahannya otoriter sehingga  rakyatnya mudah dikendalikan. Penyebaran Covid-19 bisa dikurangi dengan perintah physical distancing dan stay at home.

Baca juga Nalar Kritis Benteng Ekstremisme

Bagaimana Indonesia? Rakyat Indonesia pada dasarnya taat aturan. Asal diberi penjelasan yang jelas dan tuntas oleh pimpinan yang punya otoritas. Masalahnya, masyarakat ada yang bingung melihat suara wakil pemerintah yang tidak kompak, tidak satu suara, baik sesama menteri maupun antara pemerintah pusat dan daerah.

Kalau rakyat mesti stay at home,  persoalan lain yang tak kalah seriusnya adalah banyak masyarakat bawah yang kebutuhan hidup kesehariannya  menggantungkan penghasilan harian sebagai penjual jasa. Kalau mereka mesti tinggal di rumah, tetapi tidak ada suplai makanan untuk keluarganya, psikologi orang kelaparan itu bisa berkembang bagaikan api dalam sekam yang sewaktu-waktu bisa membakar apa saja yang ada di sekelilingnya. Mereka bisa berbuat nekat, naluri hewaninya keluar. Homo homini lupus.

Gejala ke arah sana sudah mulai muncul. Jika kemunculannya berbarengan, bangsa ini akan terbakar karena aparat keamanan tak akan sanggup memadamkan. Makanya, pesan moral fabel burung di awal tulisan ini menjadi sangat relevan. Orang Jawa punya ungkapan, Tiji tibeh, barji barbeh. Mati siji mati kabeh, bubar siji bubar kabeh. Untuk menutup pintu rapat-rapat agar itu tidak terjadi, ”kepala burung yang di atas” mesti mau berbagi pada ”kepala burung yang di bawah”.

Baca juga Tradisi Bermaafan Cikal Perdamaian

Kalau sampai kepala bawah tidak makan atau makan racun, yaitu terkena Covid-19 secara masif, yang akan sengsara bukan hanya kepala atas, melainkan tubuh bangsa ini yang akan menderita  semuanya. Kekayaan yang disimpan juga tak ada artinya. Semua industri dan mesin ekonomi macet. Bangunan piramida tadi ambruk semua, rata dengan tanah.

Kalau saja para konglomerat mau menyumbangkan 50 persen dari tabungannya untuk melawan Covid-19, saya kira bayangan kelam itu akan terhindar. Kalau tidak mau, saya khawatir ungkapan di atas bisa saja terjadi. Tiji tibeh, barji barbeh.

(Komaruddin HidayatRektor Universitas Islam Internasional Indonesia)

Tulisan ini dipublikasi di harian Kompas, 30 April 2020

Baca juga Idulfitri Tak Kenal Pandemi

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...

Misi Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

Oleh Haedar Nashir, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 September 2026 Para pendiri Indonesia sungguh bijaksana dan visioner. Mereka merumuskan misi yang harus dilakukan sebagai kewajiban konstitusional pemerintahan Republik Indonesia untuk terwujudnya Indonesia yang merdeka, bersatu, berdaulat, adil, dan makmur. Satu di...

Ulama Dahulu Bijak Mendakwahkan Islam

Aliansi Indonesia Damai- Para ulama terdahulu bersikap bijak dalam menyebarkan atau mendakwahkan ajaran Islam. Mereka mampu mengambil jalan tengah dan bijak terhadap kondisi masyarakat saat itu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama...

Berjihad untuk Hidup di Jalan Allah

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk berjihad tidak dengan melakukan aksi terorisme atau bom bunuh diri. “Gamal al-Banna menyatakan jihad hari ini bukan untuk mati di jalan Allah tapi untuk hidup...

22 Tahun yang Penuh Berkah

Oleh Nanda Olivia Daniel, Penyintas Bom Kuningan 9 September 2004. Sejak menjadi korban bom begitu banyak berkah yang sudah Allah kasih buat saya dan keluarga saya. Mulai dari bantuan pengobatan dari Kedutaan Besar Australia, ini yang paling nyata manfaatnya yang bisa saya rasakan langsung. Dan kemudian menyusul...

Literasi Relasi Melawan Radikalisasi Digital

Oleh Andik Wahyun Muqoyyidin, Akademisi dan Peneliti Pendidikan Islam Universitas Pesantren Tinggi Darul ’Ulum Jombang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 September 2026 Radikalisasi digital tidak selalu datang dengan amarah. Hal itu bisa bermula dari perhatian: seseorang rajin menyapa, bersedia mendengarkan keluhan, menawarkan bantuan, lalu...

Doa Bersama untuk Korban Bom Kuningan

Aliansi Indonesia Damai- Forum Kuningan, komunitas korban aki terorisme di Kedutaan Besar Australia Jakarta, 9 September 2004, mengajak masyarakat Indonesia meluangkan waktu sejenak dan memanjatkan doa sesuai keyakinan dan kepercayaannya untuk mendoakan para korban. Ajakan doa bersama untuk mengenang tragedi 22 tahun lalu yang menimpa saudara-saudara kita terkena...

Korban Terorisme Menguatkan Kesadaran

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku di antara yang membantu menguatkan dirinya untuk meninggalkan paham dan jalan kekerasan adalah pertemuannya dengan korban aksi terorisme saat menjalani hukuman penjara. Dalam pertemuan yang difasilitasi AIDA tersebut, Arif mendengarkan secara langsung dampak dan bahaya aksi...

Menemukan Titik Balik di Penjara

Aliansi Indonesia Damai- Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto mengaku saat menjalani hukuman penjara menemukan titik balik untuk kembali ke jalan perdamaian. Menurut dia, di dalam penjara dirinya mendapatkan satu waktu untuk lebih luas dan panjang untuk memikirkan ulang apa yang selama ini dijalani dan diperjuangkannya. “Pengalaman...

Buku SNI dan Politik Sejarah bagi Bangsa yang Majemuk

Oleh Mudhofir Abdullah, Guru Besar UIN Raden Mas Said Surakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 07 September 2026 Pada akhir Agustus lalu, pemerintah meluncurkan lima jilid pertama Sejarah Indonesia: Dinamika Kebangsaan dalam Arus Global. Kelimanya bagian dari seri yang dirancang 10-11 jilid yang dikerjakan oleh 123...

Terorisme Tidak Menegakkan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Kita ingin menegakkan sebuah kehidupan Islam tapi dalam waktu yang sama juga kita mengorbankan orang-orang Muslim sendiri. Kita ingin pengawalan Islam yang lebih puritan tetapi ternyata membawa satu benturan demi benturan yang menimbulkan banyak korban jiwa. “Semua itu menjadi satu persoalan yang mengganggu nurani kami,”...

Guru Indonesia Profesi yang Teropresi

Oleh Mohammad Rifky, Guru Sosiologi, Anggota P2G (Perhimpunan Pendidikan dan Guru) Kota Semarang, Jawa Tengah. Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 September 2026 Teropresi mungkin kata yang jarang didengar oleh masyarakat dan lebih sering ditemukan pada bahasan sosiologi. Secara sosiologi, opresi adalah suatu kondisi tertindas atau...