HomeOpiniHijrah untuk Kemerdekaan

Hijrah untuk Kemerdekaan

Oleh: M. Syafiq Syeirozi
Alumni PP Bahrul Ulum Tambakberas Jombang

Peringatan hari ulang tahun kemerdekaan RI ke-75 cukup spesial. Bukan saja karena situasi pandemi mengharuskan perayaan yang jauh dari ingar-bingar, namun pula beriringan dengan tahun baru hijriah. Kalender hijriah merujuk pada peristiwa monumental dalam sejarah Islam, yaitu hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah. Apakah ada kaitan langsung antara hijrah Nabi dengan kemerdekaan RI? Tidak ada! Namun RI juga memiliki pengalaman hijrah.

Saat usia Republik masih seumur jagung, pemerintah dua kali menghijrahkan pusat pemerintahan. Pertama, pada 4 Januari 1946 ibu kota dipindahkan dari Jakarta ke Yogyakarta. Kedua, Presiden Soekarno memandatkan kepada Syafruddin Prawiranegara untuk membentuk pemerintahan darurat di Sumatera. Perintah ini muncul pada Desember 1948.

Baca juga Kehancuran di Balik Egoisme

Soekarno dan Muhammad Hatta, dua tokoh pergerakan yang paling berpengaruh kala itu, memang “nekat” memproklamasikan kemerdekaan pada 17 Agustus 1945. Padahal situasi masih sangat mencekam. Malam sebelum proklamasi, Soekarno dan Hatta diundang oleh Mayjend Nishimura, Kepala Pemerintahan Umum. Atas instruksi pemerintah Jepang, Nishimura wajib menjaga status quo hingga tentara sekutu hadir di Indonesia. Keputusan tersebut merupakan konsekuensi kekalahan Jepang dari sekutu dalam perang dunia II.

Hatta secara lantang menolak keputusan itu. “Kalau Jepang tidak mampu lagi menepati janjinya, rakyat Indonesia sendiri akan memerdekakan dirinya. Kami minta jangan kami dihalang-halangi. Rakyat Indonesia, dengan pemuda di muka, bersedia mati untuk melaksanakan cita-cita Indonesia merdeka.” (Mohammad Hatta, Memoir, hlm. 453).

Baca juga Berkurban dalam Pengorbanan Corona

Walhasil dua bulan pascaproklamasi kemerdekaan, tentara Belanda kembali datang ke Indonesia. Misinya tentu menancapkan kembali cengkeraman kolonialisme. Tatkala situasi di Jakarta sangat genting sehingga roda pemerintahan terancam, maka diputuskanlah hijrah ke Yogyakarta.

Situasi lebih mencekam terjadi saat agresi militer Belanda II. Presiden Soekarno dan Wakil Presiden Muhammad Hatta ditangkap oleh militer Belanda. Bersama sejumlah pejabat negara lainnya, mereka dibuang ke Pulau Bangka. Atas desakan sejumlah negara, para pemimpin lantas dibebaskan sehingga dapat melakukan rangkaian perundingan lagi.

Baca juga Menagih Kehadiran Negara untuk Korban Lama (Bag. 1)

Perundingan-perundingan tersebut menuai hasil. Pada 27 Desember 1949, Ratu Juliana menyerahkan sepenuhnya kedaulatan Indonesia kepada pemerintah Republik Indonesia Serikat (RIS). Pada Agustus 1950 struktur negara federasi RIS diubah menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Ratusan abad sebelumnya, sekitar tahun 600-an Masehi, Nabi Muhammad SAW juga menjalankan hijrah dari kota kelahirannya, Makkah, menuju Yatsrib (Madinah). Eskalasi intimidasi fisik dan psikis kaum kafir Quraisy kepada Nabi SAW terus meningkat, terutama sejak meninggalnya paman beliau, Abu Thalib. Walhasil turunlah instruksi hijrah dari Allah.

Baca juga Menagih Kehadiran Negara untuk Korban Lama (Bag. 2)

QS. Al-Anfal: 30 merekam situasi genting yang menimpa Nabi. “Dan (ingatlah), ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik pembalas tipu daya.”

Lantaran khawatir melihat pendukung Nabi SAW kian banyak, sejumlah petinggi Quraisy menggelar rapat. Beberapa opsi sempat diwacanakan; pengusiran, pemenjaraan, dan yang disepakati adalah pembunuhan. Sejumlah pemuda akan mengeksekusi Nabi SAW di rumahnya. Tetapi rencana tersebut gagal total karena Nabi berhasil lolos dari kepungan mereka (Ibnu Hisyam, Sirah Nabawiyah).

Baca juga Media Sosial sebagai Sarana Perdamaian

Nabi SAW lantas membangun masyarakat Madinah berdasarkan konsensus yang disebut sebagai Shahifah Madinah. Inilah yang kemudian menjadi cikal bakal sistem pemerintahan Islam modern. Puncak kegemilangan perkembangan Islam adalah kala Nabi SAW bersama para sahabatnya berhasil kembali ke Makkah. Peristiwanya tak kalah monumental: Fathu Makkah.

Peristiwa-peristiwa di atas menunjukkan bahwa hijrah adalah strategi menuju kemerdekaan insani seutuhnya, baik dalam kehidupan beragama, bersosial, maupun berpolitik. Fitrah manusia adalah kebebasan menentukan jalan hidupnya sendiri, tentu saja dalam koridor kemaslahatan.

Baca juga Agen Sosialisasi Perdamaian

Apakah kini hijrah yang bersifat fisik masih relevan? Tentu. Para perantau yang meninggalkan kampung halamannya; untuk menutut ilmu, mencari sumber kehidupan yang halal, atau misi mulia lain adalah pelaku hijrah.

Namun ada pula hijrah nonfisik, sebagaimana digambarkan Nabi SAW dalam sabdanya, “Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari (keburukan) lisan dan tangannya. Dan seorang pelaku hijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang oleh Allah” (HR Bukhari No. 10).

Baca juga Guru sebagai Penggerak Perdamaian

Semua orang berkesempatan menjalankan hijrah model demikian, bahkan setiap hari. Sejatinya manusia yang berkomitmen memerbaiki dirinya terus menerus demi kemaslahatan pribadi dan sosial adalah pelaku hijrah dalam arti substantif. Maka agak mengherankan jika ada orang yang mengklaim berhijrah, namun lantas gemar mencerca dan mencaci-maki sesama manusia; sesuatu yang dilarang Allah.

Kita bisa belajar dari “hijrahnya” mantan pelaku ekstremisme kekerasan menuju jalan perdamaian dan kebangkitan penyintas terorisme. Sebagaimana hijrah fisik, keputusan mereka juga penuh tantangan. Mantan pelaku harus menghadapi kecaman, bahkan intimidasi dari rekan-rekannya yang masih menggumuli ekstremisme. Belum lagi keraguan sebagian kalangan terhadap komitmen pertobatan mereka.

Baca juga Desisten dari Terorisme

Sementara penyintas terorisme berjuang menaklukkan egonya berupa amarah dan dendam terhadap para pelaku yang telah merenggut kebahagiaan mereka. Banyak korban berhasil menjadi pribadi yang mampu berdamai dengan kenyataan dan berwatak pemaaf.

Hijrahnya mantan pelaku dan korban menghasilkan Tim Perdamaian. Kedua pihak bahu-membahu mengampanyekan perdamaian demi Indonesia yang lebih damai, aman, tenteram, gemar ripah loh jinawi, baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur. Dirgahayu RI ke-75 dan selamat Tahun Baru 1442 Hijriah!

Baca juga Mewaspadai Propaganda Ekstremisme Saat Pandemi

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di ...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI),...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk bersepakat pada yang ushul (pokok) dan berbeda pada hal-hal yang partikular. “Kalau kita ngumpulin perbedaan-perbedaan, tidak ada ujungnya. Kenapa kita tidak bersepakat pada yang pokok, yang ushul, dan kita dibiarkan berselisih,...

Akhir Perang AS-Israel Versus Iran

Hingga hari ini (19/10), belum ada tanda-tanda perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Bukan karena tidak ada pihak yang ingin perang ini berakhir, melainkan karena perang ini berjalan liar dan tidak sesuai dengan rencana awal. Dilihat dari pernyataan sebagian elite kedua negara,...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...