HomeOpiniKehancuran di Balik Egoisme

Kehancuran di Balik Egoisme

Oleh: Faruq Arjuna Hendroy
Alumni UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Dalam interaksi sosial, kita biasa melihat berbagai macam karakter manusia; dari yang menyenangkan hingga yang menyebalkan. Berbicara tentang karakter yang menyebalkan, tampaknya hampir semua orang setuju bahwa egoisme adalah salah satu contoh paling banyak ditemui, entah dalam relasi keluarga, maupun dalam lingkungan sosial bermasyarakat.

Para ahli menjelaskan makna egoisme. Namun secara umum, dalam bahasa yang sederhana, egoisme berarti sebuah sikap yang hanya mementingkan diri sendiri. Baik buruknya suatu perkara didasarkan atas pandangannya semata. Sementara jika orang lain memberikan pandangan yang berbeda, maka sudah pasti langsung dicap salah. Orang yang egois selalu berusaha untuk mendominasi dan memaksa orang lain mengikuti keinginannya.

Baca juga Berkurban dalam Pengorbanan Corona

Pada dasarnya, tidak ada yang melarang kita memiliki keinginan pribadi. Setiap orang berhak memenuhi kepentingannya masing-masing. Namun, dalam interaksi sosial, kepentingan pribadi akan selalu dibatasi oleh kepentingan bersama. Pastinya demi kemaslahatan publik. Bagi orang yang egois, yang berlaku justru sebaliknya. Kepentingan pribadinya harus di atas kepentingan bersama. Ia akan bersikap cuek dan mengabaikan orang lain.

Oleh karena itu, tak jarang egoisme merusak hubungan bermasyarakat. Pada tahapan yang paling berbahaya, egoisme dapat bersifat destruktif. Klaim ini dibuktikan dari egoisme dalam beragama yang telah mendorong segelintir pihak melakukan aksi-aksi kekerasan yang menyebabkan kerusakan, bahkan merenggut nyawa dan mencederai orang tak bersalah.

Baca juga Menagih Kehadiran Negara untuk Korban Lama (Bag. 1)

Mereka tidak serta merta menjadi pelaku kekerasan. Tidak ada seorang pun di dunia yang lahir langsung menjadi pelaku kekerasan. Ada proses yang dialami hingga tega melakukan kebrutalan serta kekejaman. Dan itu semua bermula dari egoisme dalam beragama, merasa diri atau kelompoknya yang paling tepat memahami ajaran agama, sehingga menyalahkan orang-orang yang tidak sejalan dengannya, bahkan menyematkan vonis kafir.

Egoisme dalam beragama telah menutup pintu dialog. Kebenaran telah dikooptasi oleh pihaknya sendiri. Pilihan yang disodorkan kepada orang lain hanya dua; mengikuti atau diperangi. Mereka alergi dengan alternatif pandangan lain yang mungkin saja lebih benar dari apa yang mereka yakini. Egoisme benar-benar telah membutakan. Hingga demi sekadar memuaskan hasrat, mereka tidak peduli jika harus menumpahkan darah orang lain.

Baca juga Menagih Kehadiran Negara untuk Korban Lama (Bag. 2)

Kondisinya akan menjadi lebih buruk tatkala egoisme menjangkiti dua pihak yang tengah berseteru; tidak ada yang mau mengalah. Kedua belah pihak sama-sama merasa benar, enggan menurunkan ego untuk sekadar duduk bersama mencari solusi dari permasalahan. Akibatnya, terjadilah konflik terbuka yang mengakibatkan jatuhnya banyak korban dari kedua belah pihak. Semakin lama mereka memendam ego, kian lama pula konflik itu berlangsung. Jumlah korban yang berjatuhan pun semakin berlipat ganda.

Baca juga Media Sosial sebagai Sarana Perdamaian

Egoisme tentu bertentangan dengan nilai-nilai keislaman yang selalu mengajarkan kita untuk saling mengasihi satu sama lain. Di samping itu, egoisme juga merusak pondasi keumatan yang dibangun atas semangat ukhuwah islamiyyah maupun ukhuwah insaniyyah. Bagaimana mungkin kita akan menjadi umat yang bersatu, jika karena berbeda paham saja saling menghancurkan. Padahal dengan bersatu, akan ada banyak hal positif yang bisa kita gapai. Waktu yang kita pakai untuk saling baku hantam alangkah lebih bermanfaat digunakan untuk berdialog.

Saat negara lain sudah meneliti bagaimana cara menjelajahi antariksa, warga  kita acapkali meributkan banyak hal sepele, yang tidak jelas apa manfaatnya kehidupan kebangsaan. Sungguh sangat disayangkan bukan?

Baca juga Agen Sosialisasi Perdamaian

Oleh sebab itu, dibanding memupuk egoisme, hendaklah kita menumbuhkan semangat altruisme; sikap yang lebih memprioritaskan kepentingan bersama ketimbang kepentingan pribadi. Kita bisa memulainya dari hal-hal kecil.

Misalkan, di masa pandemi Covid-19 ini, kita bisa menekan ego kita yang menolak memakai masker dan menjaga jarak demi kesehatan bersama. Sederhana. Namun dengan belajar dari hal kecil tersebut, sedikit demi sedikit kita akan terbiasa mengendalikan ego, agar terhindar dari petaka yang bernama kehancuran.

Baca juga Guru sebagai Penggerak Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Kisah Agum Meredam Benci dan Dendam

Aliansi Indonesia Damai- “Ketika masuk YPI, saya melihat (kondisi) korban yang...

Pentingnya Membudayakan Perdamaian Sejak dalam Pikiran

Di setiap penghujung September, dunia memperingati Hari Perdamaian Internasional. Setiap elemen...

Dulu di Jalan Kekerasan, Kini Berdakwah di Jalan Perdamaian

Bahrudin alias Amir bertahun-tahun bergelut dalam dunia ekstremisme dan kekerasan. Bahkan,...

Menggencarkan Diplomasi Kemanusiaan

Diplomasi antar bangsa kini menjadi kebutuhan yang tak terelakan. Apalagi di...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...

Meningkatkan Kompetensi Petugas Lapas Membina WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Pagi yang cerah di barat tugu Yogyakarta. Sebanyak 25 petugas pemasyarakatan dari sejumlah UPT Lembaga Pemasyarakatan (lapas) di pulau Jawa mengikuti Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerjasama dengan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan, Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan...