HomeInspirasiAspirasi DamaiDari Penyintas Muda untuk...

Dari Penyintas Muda untuk Perdamaian Indonesia

Aliansi Indonesia Damai- Pelbagai serangan terorisme yang pernah terjadi di Indonesia telah melukai begitu banyak orang tak bersalah. Mereka tidak saja mengalami luka fisik yang harus diobati bertahun-tahun, namun juga harus menderita karena perekonomian yang terpuruk dan perasaan trauma yang lama menghantui mereka.

Di antara para korban itu, banyak yang masih tergolong muda secara usia. Akibat peristiwa itu, segala mimpi dan cita-cita mereka terpaksa harus “dikubur” sejenak, karena mesti fokus pada pengobatan luka fisik maupun psikis. Kesedihan dan penderitaan harus ditanggung meski sesungguhnya mereka tak punya masalah dengan pelakunya.

Ledakan bom di Gereja Santa Maria Tak Bercela Surabaya pada Mei 2018 lalu turut merintangi mimpi-mimpi generasi muda. Desmonda Paramartha salah satunya. Mahasiswi perguruan tinggi swasta di Kota Pahlawan itu harus mengalami luka fisik dan trauma psikis akibat ledakan itu. Ia mengalami luka di tiga bagian tubuh, yakni leher, betis, dan paha. Luka yang paling parah adalah di bagian pahanya.

Baca juga Makna Peringatan Tragedi Terorisme

Ia harus menjalani perawatan di rumah sakit selama lima hari dan dilanjutkan dengan pengecekan rutin selama tiga bulan. Meski demikian Desmonda mengaku telah memaafkan pelakunya. Hal itu ia lakukan karena meyakini bahwa Sang Pencipta mempunyai sifat Maha Pengasih. Sebagai umat-Nya ia pun harus mencerminkan rasa kasih itu dengan memaafkan pelakunya.

Rasa pilu juga dialami salah satu anak korban serangan Bom Bali 2002, Garil Arnandha. Ia adalah putra dari salah seorang korban meninggal dunia, Aris Munandar. Dilansir dari bbc.com (17/02/20), Garil mengalami gangguan psikis lantaran melihat jasad ayahnya yang hangus. Ia pun amat trauma namun memendamnya sedalam-dalamnya.

Perasaan trauma juga dialami Sarah Salsabila, putri sulung Iwan Setiawan, korban Bom Kedutaan Besar Australia tahun 2004. Sebagaimana laporan bbc.com (18/02/20), Sarah sangat terpukul dengan peristiwa itu. Bukan hanya karena sang ayah harus kehilangan satu bola matanya, akan tetapi sang ibu juga meninggal dunia akibat ledakan tersebut.

Baca juga Habitus Perdamaian: Belajar Dari Penyintas (Bag. 1)

Ketiga pemuda tersebut mengaku sudah ikhlas atas semua kepiluan hidup yang mereka hadapi. Seiring perjalanan hidup, mereka berusaha bangkit melawan ketakutan, amarah, dan trauma. Lebih dari itu, mereka memaafkan pelakunya. Hal itu dilakukan semata-mata untuk kedamaian bagi mereka sendiri, keluarga, dan masyarakat luas.

Kisah mereka adalah segelintir dari cerita generasi muda lain yang harus menderita akibat serangan terorisme. Pembelajaran penting yang dapat kita ambil adalah jiwa besar dan keluasan hati untuk bisa memaafkan dan mengikhlaskan semua peristiwa yang menimpanya.

Desmonda merasa dirinya menjadi lebih tenang dan lega setelah memaafkan pelaku dan berdamai dengan keadaan. “Memang memaafkan itu tidak mudah dilakukan, tapi pelan-pelan pasti bisa memaafkan. Saya tahu bahkan sampai sekarang ada teman yang tidak bisa memaafkan. Jika Tuhan saja mampu memaafkan, kenapa kita tidak,” demikian pesan Desmonda.

Baca juga Habitus Perdamaian: Belajar dari Penyintas (Bag 2)

Sementara Sarah ketika bertemu dengan pelaku terorisme, bisa belajar dan memaafkan mereka. Ia melihat bahwa pelaku yang ia temui, menyesali perbuatannya. “Ada pelajaran bahwa manusia bisa melakukan perbuatan buruk tapi bisa juga berubah. Saya belajar banyak dari pertemuan hari ini. Saya bersyukur bisa bertemu beliau dan dapat mengambil pelajaran dari sini,” tutur Sarah dilansir dari laman bbc.

Dengan modal pemaafan ini, perdamaian yang menjadi kebutuhan hidup bagi setiap orang akan terus hadir di bumi. Mereka adalah cerminan pribadi pemaaf dan sosok yang tabah. Dari mereka kita belajar bahwa keburukan yang pernah orang lain lakukan, hendaknya kita balas dengan kebaikan, bukan dengan keburukan serupa. Perdamaian pun akan terus lestari.

Baca juga Mencari Titik-Titik Persamaan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...