HomeInspirasiAspirasi DamaiMencari Titik-Titik Persamaan

Mencari Titik-Titik Persamaan

Keunikan dari setiap individu terletak pada identitasnya. Betapa tidak, setiap insan yang baru lahir di muka bumi ini secara otomatis menyandang berbagai identitas, seperti identitas suku, etnis, sampai agama. Seiring bertambahnya usia, identitas-identitas baru akan melekat. Biasanya kemunculan identitas baru itu berkaitan dengan status pendidikan, pekerjaan, atau kekayaan.

Di satu sisi, identitas bersifat memersatukan, ia mampu menumbuhkan solidaritas yang kuat. Rasa kekeluargaan lahir dari persamaan takdir dan nasib. Orang-orang yang terikat oleh satu identitas yang sama tidak akan ragu untuk saling membantu satu sama lain. Identitas membuat mereka saling berbagi perasaan, baik kesedihan maupun kebahagiaan.

Baca juga Agama sebagai Pelopor Perdamaian

Di sisi lain, identitas juga berpotensi memicu konflik. Ini terjadi ketika dua atau lebih kelompok yang berbeda identitas mengambil posisi saling berseberangan. Konflik berbasis identitas ini tidak bisa dianggap remeh karena pasti selalu melibatkan orang dalam jumlah besar. Bahkan, konflik tersebut terkadang mulanya dipicu oleh hal-hal kecil.

Dalam beberapa kasus, konflik berbasis identitas bisa saja bermula dari pertengkaran dua orang yang berbeda identitas karena permasalahan pribadi. Pertengkaran ini kemudian sampai ke telinga para anggota dari masing-masing kelompok. Dengan alasan membela teman satu identitasnya, mereka lantas saling menyerang satu sama lain. Didorong kuatnya solidaritas di dalam masing-masing kelompok, pertengkaran kecil berubah menjadi konflik berskala besar.

Baca juga Perdamaian sebagai Fitrah

Oleh karenanya, tidak berlebihan jika dikatakan bahwa identitas ibarat pisau bermata dua. Jika dijadikan sebagai alat pemersatu, maka akan muncul satu kelompok yang kuat dan solid. Namun, jika dijadikan sebagai alat pemecah belah, manusia bisa jatuh ke dalam konflik dan bahkan perang yang tidak berkesudahan.

Agar perdamaian dapat tercipta, sudah sepatutnya kita menjadikan identitas sebagai alat pemersatu, bukan pemecah-belah. Caranya adalah dengan mencari kesamaan identitas dengan orang lain. Ini memungkinkan mengingat setiap manusia memiliki banyak identitas, sehingga pasti ditemukan titik persamaan yang dapat memersatukan antarpihak.

Baca juga Tradisi Dialog dan Perdamaian

Jika berbeda kampung, kita bisa disatukan oleh kesamaan suku. Jika berbeda suku, kita bisa disatukan oleh kesamaan etnis. Jika berbeda etnis, kita bisa disatukan oleh kesamaan agama. Jika berbeda agama, kita bisa disatukan oleh kesamaan kewarganegaraan. Dan jika kewarganegaraan pun masih berbeda, kita tetap bisa disatukan atas dasar kemanusiaan.

Bersatu atas dasar kemanusiaan adalah puncak dari kesamaan identitas yang mampu mendekatkan kita kepada perdamaian. Identitas kemanusiaan bersifat universal, sehingga apapun identitas turunan di bawahnya, tidak menghapus realitas bahwa kita hidup di bumi ini sebagai sesama manusia. Kesadaran akan hal itu memerkuat ikatan persaudaraan di antara kita.

Baca juga Self-Healing untuk Penyembuhan Luka Batin

Sejatinya, Islam menyinggung soal universalitas identitas manusia sebagai langkah untuk menghindari perselisihan dan permusuhan. Dalam Q.S. Al-Maidah ayat 32, Allah berfirman bahwa siapa saja yang membunuh seorang manusia yang tidak bersalah, maka seakan-akan ia telah membunuh seluruh manusia. Dan siapa saja yang memelihara kehidupan seorang manusia, maka seolah-olah ia telah memelihara kehidupan manusia seluruhnya.

Jika semua orang memegang prinsip universalitas identitas kemanusiaan ini, maka sesungguhnya kita semua adalah saudara dalam kemanusiaan dan gejolak-gejolak pertikaian niscaya dapat diredam.

Baca juga Membangun Ketahanan Keluarga: Belajar dari Bom Surabaya

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Kisah Agum Meredam Benci dan Dendam

Aliansi Indonesia Damai- “Ketika masuk YPI, saya melihat (kondisi) korban yang...

Pentingnya Membudayakan Perdamaian Sejak dalam Pikiran

Di setiap penghujung September, dunia memperingati Hari Perdamaian Internasional. Setiap elemen...

Dulu di Jalan Kekerasan, Kini Berdakwah di Jalan Perdamaian

Bahrudin alias Amir bertahun-tahun bergelut dalam dunia ekstremisme dan kekerasan. Bahkan,...

Menggencarkan Diplomasi Kemanusiaan

Diplomasi antar bangsa kini menjadi kebutuhan yang tak terelakan. Apalagi di...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....