HomeInspirasiAspirasi DamaiMakna Peringatan Tragedi Terorisme

Makna Peringatan Tragedi Terorisme

Hampir semua orang sepakat bahwa peristiwa ledakan bom adalah tragedi kemanusiaan yang memilukan. Ia menimbulkan dampak kerusakan yang luar biasa, mulai dari hancurnya bangunan, jatuhnya korban luka, hingga meninggal dunia. Meskipun demikian peristiwa itu tetap diperingati setiap tahunnya.

Rumah besar kita tercinta, Indonesia, telah berulang kali menjadi sasaran aksi terorisme. Sejarah mencatat, ada sejumlah teror berskala besar yang menimbulkan kerusakan dahsyat dan jatuhnya korban jiwa yang tak sedikit.

Sebut saja Bom Bali 2002 dan 2005, Bom JW Marriott 2003, Bom Kuningan 2004, Bom JW Marriott dan Ritz Carlton 2009, Bom Thamrin 2016, Bom Kampung Melayu 2017, dan yang teranyar peristiwa Bom Surabaya 2018. Di luar itu masih banyak serangan teror lain yang juga menimbulkan korban jiwa dan luka.

Baca juga Habitus Perdamaian: Belajar Dari Penyintas (Bag. 1)

Tanpa bermaksud menyepelekan peristiwa bom lainnya, di bulan September ini, ada dua peristiwa bom yang diperingati. Di dalam negeri, ada peristiwa Bom Kuningan yang diperingati setiap tanggal 9 September. Selanjutnya ada pula serangan 9/11 Amerika Serikat yang diperingati setiap 11 September sebagai tragedi terorisme paling mematikan dalam sejarah abad modern umat manusia. Hari peringatan ditetapkan berdasarkan kapan peristiwa itu terjadi.

Selain itu, setiap tanggal 21 Agustus, dunia memeringati Hari Peringatan dan Penghormatan Internasional untuk Korban Terorisme. Penetapan ini baru diputuskan oleh Majelis Umum PBB pada tahun 2017 silam. Peringatan diisi dengan aktivitas mengheningkan cipta bersama dan sharing kisah kepiluan korban terorisme di seluruh dunia. 

Sekilas jika dibayangkan, hari peringatan aksi terorisme akan terasa memilukan. Betapa tidak, mengenang peristiwa tragis di masa lampau seolah membuka luka lama yang mungkin saja masih basah. Terkhusus bagi korban yang dikategorikan sebagai pihak yang paling terdampak dari peristiwa tersebut.

Baca juga Habitus Perdamaian: Belajar dari Penyintas (Bag 2)

Dengan mengenang peristiwa tersebut, ingatan para korban otomatis melayang kembali terbawa ke masa lalu. Para korban langsung mengingat detik-detik terjadinya peristiwa yang melukai mereka, sementara para korban tak langsung mengenang saat-saat kehilangan sosok terkasih. Tak heran isak tangis para korban menjadi bagian tak terpisahkan dari momen-momen peringatan.

Walaupun demikian, peringatan tersebut tidak bermaksud membuka luka lama. Peringatan aksi terorisme bertujuan untuk mengingatkan masyarakat betapa aksi terorisme itu sungguh nyata dan berbahaya. Peristiwa memang sudah selesai, pelakunya pun juga sudah tewas atau menjalani hukuman penjara. Bangunan yang hancur karena ledakan juga bisa dengan mudah diperbaiki kembali. Namun bagaimana dengan psikis korban?

Baca juga Mencari Titik-Titik Persamaan

Akibat peristiwa itu, para korban yang tak bersalah dan tidak tahu persoalan yang memicu kemarahan para pelaku hingga beraksi, hingga kini masih merasakan kesakitan, sembari berjuang melanjutkan hidup dengan segala keterbatasan yang ada. Luka yang diderita korban sulit sembuh total. Namun mereka berupaya berdamai dengan luka-luka itu.

Oleh karenanya, peringatan tersebut menyelipkan pesan damai agar kejadian serupa jangan sampai terulang lagi. Para korban sudah cukup ikhlas menerima musibah tersebut sebagai bagian dari garis takdir. Mereka hanya berharap siklus kekerasan dapat terputus sehingga tidak ada lagi korban yang berjatuhan. Kita mungkin bisa mencegah diri kita menjadi pelaku, tetapi tidak ada jaminan kita bisa mencegah diri kita menjadi korban selama siklus kekerasan itu masih berputar.

Baca juga Agen Sosialisasi Perdamaian

Lebih dari itu, hari peringatan dapat memperkuat community bonding di antara para korban. Di tengah kesibukan masing-masing, mereka menyempatkan hadir dan berkumpul pada hari peringatan. Meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda, mereka memiliki satu identitas yang sama sebagai korban. Hari peringatan justru menjadi ajang silaturahmi dan penguatan psikis antarsesama korban.

Identitas kekorbanan itulah yang memerkuat solidaritas. Pada dasarnya, tidak ada yang lebih memahami perasaan korban melainkan sesama korban itu sendiri. Rasa senasib dan sepenanggungan itu mendorong para korban untuk bergandengan tangan dalam rangka saling menguatkan dan menebarkan benih-benih perdamaian.

Baca juga Media Sosial sebagai Sarana Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Kisah Agum Meredam Benci dan Dendam

Aliansi Indonesia Damai- “Ketika masuk YPI, saya melihat (kondisi) korban yang...

Pentingnya Membudayakan Perdamaian Sejak dalam Pikiran

Di setiap penghujung September, dunia memperingati Hari Perdamaian Internasional. Setiap elemen...

Dulu di Jalan Kekerasan, Kini Berdakwah di Jalan Perdamaian

Bahrudin alias Amir bertahun-tahun bergelut dalam dunia ekstremisme dan kekerasan. Bahkan,...

Menggencarkan Diplomasi Kemanusiaan

Diplomasi antar bangsa kini menjadi kebutuhan yang tak terelakan. Apalagi di...

Fathudin, Sempat Euforia Ada Amaliyat (Bag. 2)

Mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, membuka suara mengenai dinamika internal, aliran dana, hingga strategi teror yang pernah dijalankan oleh kelompoknya. Pengakuan ini disampaikannya dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, pada September...

Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

Oleh: Sri Mulyani Indrawati Ekonom; Akademisi; Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair) untuk Asosiasi Pembangunan Internasional (International Development Association/IDA) ke-22 di Bank Dunia (World Bank); Menteri Keuangan RI (2005-2010; 2016-2024; 2024-2025) ”Jangan pernah lelah mencintai Indonesia.” Kalimat ini sering saya ucapkan dalam berbagai kesempatan. Mencintai Indonesia memerlukan ketahanan, kesabaran,...

Pendidikan, Masa Depan Pemuda dan Bangsa

Oleh Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Ketika para pendiri bangsa merumuskan Undang-Undang Dasar 1945, mereka menegaskan bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan akhir. Kemerdekaan adalah awal perjalanan panjang bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan berperan nyata dalam mewujudkan tata kehidupan dunia yang damai. Untuk itu,...

Membela Negara Kewajiban yang Mulia

Aliansi Indonesia Damai- Cinta dan membela negara atau tanah air adalah kewajiban yang mulia bagi seluruh anak bangsa, termasuk umat muslim. Sebab membela negara itu bagian dari agama. Demikian ditegaskan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian...

Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

Perang Arab Saudi Versus Houthi

Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...

Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk bersepakat pada yang ushul (pokok) dan berbeda pada hal-hal yang partikular. “Kalau kita ngumpulin perbedaan-perbedaan, tidak ada ujungnya. Kenapa kita tidak bersepakat pada yang pokok, yang ushul, dan kita dibiarkan berselisih,...

Akhir Perang AS-Israel Versus Iran

Hingga hari ini (19/10), belum ada tanda-tanda perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Bukan karena tidak ada pihak yang ingin perang ini berakhir, melainkan karena perang ini berjalan liar dan tidak sesuai dengan rencana awal. Dilihat dari pernyataan sebagian elite kedua negara,...

Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...