HomeBeritaMeneladani Kisah Korban Bom...

Meneladani Kisah Korban Bom Bali

Aliansi Indonesia Damai- Puluhan siswa SMKN 2 Klaten tampak menyimak kisah Ni Luh Erniati, korban Bom Bali 2002 yang menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” yang diselenggarakan AIDA, Selasa (13/10/2020).

Erni, demikian sapaan akrabnya, membagikan pengalaman pilunya menjadi orang tua tunggal usai suaminya meninggal dunia akibat Bom Bali Oktober 2002 silam. Bukan hanya kehilangan belahan jiwanya, Erni juga harus menerima kenyataan bahwa ia harus membesarkan kedua buah hatinya yang masih belia tanpa sosok ayah.

Baca juga Semangat Damai dalam Perbedaan

Anak pertamanya kala itu berusia 9 tahun dan telah mengerti bahwa ayahnya tiada. Namun ia berubah menjadi sosok pendiam seolah memendam trauma. Sementara anak keduanya yang belum genap 2 tahun menjadi sosok hiperaktif, seakan meminta perhatian terus-menerus. “Mungkin dia merindukan sosok bapak yang bisa diajak bermain-main. Selama itu saya selalu menemani anak-anak saya, berusaha untuk tidak sedih di hadapan anak-anak,” tutur Erni.

Bertahun-tahun Erni harus menyembunyikan kesedihannya. Tak jarang ia menangis di kamar mandi untuk meluapkan kesedihannya. Ia tak ingin anaknya tahu bahwa luka dalam dirinya juga belum sembuh.

Baca juga Motivasi Kebangkitan dari Korban Bom

Kisah Erni memantik respons dan pertanyaan siswa-siswi peserta kegiatan. Beberapa peserta merasa kagum dengan ketangguhan Erni untuk bangkit dari keterpurukan dan berhasil mendidik anak-anaknya tanpa sedikit pun mendendam kepada pelaku pengeboman. Ada juga yang bertanya proses kebangkitan Erni hingga bisa memaafkan pelaku pengeboman dan mengajak anak-anaknya untuk ikut berdamai.

Menjawab pertanyaan itu, Erni mengungkapkan bahwa proses kebangkitannya sangat panjang. Ia dan kedua anaknya mengikuti konseling bersama psikolog. Berbincang dengan konselor mengurangi beban hatinya. Kemudian setiap kali usai mengikuti kegiatan bersama AIDA dan bertemu dengan mantan pelaku terorisme, ia akan menceritakannya pada anak-anak tentang sosok mantan pelaku dan pertobatannya. “Bagaimana kisahnya, semua saya ceritakan. Saya tekankan, kita tidak boleh dendam. Mereka sudah menyatakan minta maaf dan sangat menyesali apa yang mereka udah lakukan,” ucap Erni menjelaskan.

Baca juga Siswa Tasikmalaya Belajar Menjadi Generasi Tangguh

Usai kegiatan seorang siswa mengaku termotivasi dengan kegigihan dan ketangguhan Erni sebagai perempuan yang telah mengalami kejadian sangat pahit, namun tetap kuat, tabah, dan tetap menghargai perbedaan, meskipun yang melakukan penyerangan adalah pemeluk agama yang berbeda.

“Saya sangat bangga bisa mendengar kisah Bu Erni yang bisa memotivasi kita semua untuk kuat dan tidak patah semangat.  Semoga perdamaian tetap bisa kita nikmati dalam Negara Indonesia ini,” ujar siswa tersebut. [LADW]

Baca juga Bersyukur sebagai Terapi Kebangkitan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS,...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....