HomeBeritaBersyukur sebagai Terapi Kebangkitan

Bersyukur sebagai Terapi Kebangkitan

Aliansi Indonesia Damai – Kehilangan fungsi organ tubuh alias menjadi disabilitas seumur hidup bukan hal mudah bagi siapa pun. Susi Afitriyani, korban Bom Kampung Melayu tahun 2017, merasakannya. Perempuan yang akrab disapa Pipit itu harus menerima kenyataan bahwa tangan kanannya tak bisa lagi berfungsi normal akibat musibah yang menimpanya tiga tahun silam.

Tulang pangkal lengan kanannya patah. Ia menjalani perawatan berbulan-bulan, namun tak bisa membuat fungsi tangannya kembali seperti sediakala. Tak mudah bagi Pipit untuk menerimanya. Namun perempuan asal Brebes itu tak punya pilihan lain selain terus menjalani hidup untuk menyongsong cita-citanya. Prinsip hidup untuk menolak takluk ia bagikan kepada 47 siswa SMAN 3 Tasikmalaya yang mengikuti kegiatan Dialog Interaktif Virtual “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh,” yang digelar AIDA, Kamis (17/9/2020).

Baca juga Mendukung Kebangkitan Korban Terorisme

Kisah Pipit memantik pertanyaan dari salah seorang peserta kegiatan. Siswi itu meminta Pipit menceritakan proses menghilangkan rasa insecure atau ketidaknyamanan dalam dirinya setelah menjadi korban bom. “Pertama, pastinya bersyukur. Mensyukuri apa yang diberikan Allah kepada kita, masih banyak orang yang kurang beruntung dengan kondisinya,” kata Pipit merespons pertanyaan.

Pipit mengaku  sempat mengalami masa sulit menghilangkan rasa “insecure”. Ia merasa malu tak bisa lagi mengangkat tangannya. Pipit bahkan pernah dihinggapi perasaan kecemasan tak bisa melanjutkan hidup. Ia merasa beruntung, seorang sahabatnya mengajak dirinya bertemu dengan komunitas difabel. Saat itulah Pipit merasa jauh lebih beruntung dari orang-orang yang ia temui.

Baca juga Penyintas Bom Dorong Remaja Jadi Duta Damai

“Seakan-akan Allah memerlihatkan bahwa saya harus bersyukur. Saya harus lihat ke bawah, masih banyak yang kurang beruntung daripada saya. Mereka tak punya kaki tapi tetap semangat. Mereka tak bisa mendengar tapi tetap tersenyum. Mereka tak bisa melihat tapi mereka masih bisa meraba dengan hati mereka. Lalu dari situ saya merasa bahwa Allah masih baik kepada saya. Lalu kenapa saya harus kurang percaya diri?“ ucap Pipit. 

Usai kegiatan, seorang siswa mengungkapkan inspirasi yang ia dapatkan dari kisah Pipit “Kita harus bersyukur dengan apa yang terjadi dan jangan pernah menyerah apa pun yang terjadi dalam kehidupan kita,” tuturnya. [LADW]

Baca juga Generasi Tangguh Belajar dari Pengalaman

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...