HomeBeritaPertobatan Teroris di Mata...

Pertobatan Teroris di Mata Aktivis Aisyiyah

“Tidak ada orang baik yang tidak punya masa lalu, dan tidak ada orang jahat yang tidak punya masa depan. Setiap orang punya kesempatan yang sama untuk berubah menjadi lebih baik.”

Aliansi Indonesia Damai Pernyataan itu dilontarkan mantan pelaku terorisme, Ali Fauzi Manzi, dalam acara pengajian daring yang digelar AIDA bersama Pimpinan Wilayah Aisyiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWA DIY) beberapa bulan lalu. Ali berbagi kisah lika-liku kehidupannya pernah bergabung dengan kelompok ekstrem sampai perjalanan pertobatannya.

Kisah pertobatan Ali berkesan bagi para peserta. Umi Hidayati, salah satu peserta, menilai pertobatan Ali dapat memberi sumbangsih bagi perdamaian di Indonesia. Ia berharap pertobatan itu tidak hanya berdampak positif bagi diri sendiri dan keluarga, melainkan juga dapat membawa teman-temannya hijrah dari dunia kekerasan ke jalan perdamaian.

Baca juga Dakwah Perdamaian sebagai Peran Keumatan Aisyiyah

“Saya harap Bapak bisa merekrut teroris lain untuk bergabung dan berubah menjadi lebih baik. Semoga Pak Ali diampuni dosa-dosa masa lalunya dan ke depan menjadi manusia yang bermanfaat,” ujar aktivis Lembaga Penelitian dan Pengembangan Aisyiyah (LPPA) PWA DIY itu.

Seorang peserta lain, Kasmiyati, mengaku takjub dengan keberanian Ali meninggalkan kelompok esktrem. Dalam pandangannya, semua jalan hidup yang dikisahkannya tak lepas dari kehendak Allah Swt.

Baca juga Membangun Perdamaian dengan Cerita

Subhanallah. Jika Allah telah berkenan memberikan hidayah, maka tak satu pun yang mampu menghalangi. Masya Allah. Allahu Akbar. Terus terang saya merasa sesak ketika mendengar Pak Ali bercerita,” tuturnya.

Ali mengaku, salah satu musabab keinsafannya adalah setelah melihat penderitaan para korban yang harus kehilangan anggota tubuhnya, bahkan sebagian harus ditinggal oleh orang-orang tercinta.

Baca juga Islam Rahmat Identik Perdamaian

Mendengar penuturan Ali, salah seorang peserta, Jamilatus Saudah, mengaku mendapatkan pembelajaran lain dari sisi pelaku terorisme. Pembelajaran dalam ajaran Islam sebenarnya tidak hanya selalu bertaut dengan teks semata, tetapi bisa juga muncul dari kisah hidup orang lain, termasuk orang yang pernah berbuat buruk.

Peserta lain, Retno Endah Sawitri mengajak aktivis Aisyiyah untuk mengambil pembelajaran dari peristiwa kekerasan yang diceritakan langsung oleh mantan pelakunya.

Baca juga Jihad untuk Perdamaian

Ibroh yang hendak dicapai dari acara ini adalah mengajak kita bagaimana mengadvokasi agar masyarakat terhindarkan dari rekrutan terorisme, melalui pengetahuan yang di-share para narsum (narasumber:red),” tutur perwakilan Majelis Hukum dan HAM Pimpinan Daerah Aisyiyah Sleman itu.

Sementara Marhaeni Puji Astuti mengaku akan menerapkan pembelajaran yang ia peroleh kepada keluarga dan khalayak. “Dari kisah ini, kita dapat bercerita kembali pada keluarga dan warga Aisyiyah, agar anak dan keluarga kita tidak gampang terekrut terorisme. Dan tentunya lebih berhati-hati dengan siapa kita berteman,” katanya. [AH]

Baca juga Membangun Perdamaian dengan Wasathiyah

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS,...

Jasa Besar Pesantren dan Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Pondok pesantren dan ulama memiliki jasa besar bagi bangsa dan negara Indonesia. Salah satu jasa besar pesantren dan ulama yaitu resolusi jihad yang dicetuskan KH. Hasyim Asy’ari untuk mewajibkan umat Islam untuk membela kemerdekaan Indonesia. “Ketika ada tentara sekutu yang ingin kembali ke Indonesia, padahal...

Mensyukuri Kemerdekaan dan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Direktur Pendidikan Diniyah dan Pesantren Kementerian Agama, Basnang Said mengajak umat Muslim Indonesia untuk mensyukuri kemerdekaan Indonesia. Menurut dia rasa syukur yang paling penting adalah kehidupan di negeri ini yang tenang dan damai. “Coba kita bandingkan dengan di Timur Tengah, ada tidak kedamaian, ada tidak...

Jihad Fisabilillah Bukan dengan Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Umat Islam harus selalu siap untuk berjihad fisabilillah (berjuang atau mengerahkan segala kemampuan secara bersungguh-sungguh di jalan Allah Swt), tetapi bukan dengan terorisme. Berjihad fisabilillah dilakukan dengan menjalankan perintah Allah Swt. Demikian dinyatakan Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak dalam pembukaan...

Bahasa, Nadi Kemerdekaan

Oleh Ahmad Khoironi Arianto, Widyabasa di Kemendikdasmen, alumnus Doktoral Linguistik UNS, Ketua Bidang Komunikasi Publik MPKS PP Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 26 Agustus 2026 Hari merdeka, Nusa dan bangsa, Hari lahirnya bangsa Indonesia, Merdeka… LAGU Hari Merdeka ciptaan Husein Mutahar ini secara lantang masuk dan keluar di...

Umat Islam Harus Bersatu

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak menyerukan umat Islam untuk bersatu menjadi ummatan wahidah, umat yang satu. Menurut dia, umat Islam harus bersatu dalam pemikiran maupun akidah. Dalam Islam ada hukum yang sifatnya wajib, ada yang sunnah, ada juga yang...

Umat Islam Diajak Memperkuat Persaudaraan

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Utara, Maratua Simanjuntak mengajak umat Islam untuk memperkuat persaudaraan. Menurut dia, saat ini persaudaraan di kalangan umat Islam sangat dibutuhkan. “Mari kita memperkuat persaudaraan dan persatuan. Umat Islam harus bersatu. Jika kita perhatikan sekarang persaudaraan itu dibutuhkan dan...

Mewaspadai Harapan Indonesia Emas 2045

Oleh Dewi Lusiana, Dosen Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Indonesia Artikel berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Agustus 2026 Sebagaimana biasa, di tengah perayaan dan peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan Republik Indonesia, pembicaraan tentang Indonesia Emas 2045 kembali santer terdengar. Dalam sejumlah kesempatan, pemerintah, akademisi, dunia usaha, dan media...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....