HomeInspirasiAspirasi DamaiMenjaga Lingkaran Terdekat

Menjaga Lingkaran Terdekat

Pemahaman dan pemikiran orang-orang terdekat mendorong seseorang melakukan kekerasan. Demikian salah satu kesimpulan yang penulis dapatkan setelah beberapa kali berinteraksi dengan mantan pelaku terorisme. Orang-orang terdekat itu adalah keluarga dan teman.

Kita telah familiar dengan anjuran untuk berhati-hati dengan orang-orang terdekat dan menjaga lingkup pergaulan sehari-hari. Ada hadis Rasulullah yang sangat populer tentang lingkaran terdekat dengan analogi penjual parfum dan pandai besi.

Baca juga Pertobatan untuk Perdamaian

“Seseorang yang duduk (berteman) dengan orang saleh dan orang yang buruk, bagaikan berteman dengan penjual minyak wangi dan pandai besi. Penjual minyak wangi tidak akan merugikanmu. Engkau bisa membeli (minyak wangi) darinya atau minimal engkau mendapat baunya. Adapun berteman dengan pandai besi, jika engkau tidak mendapati badan atau pakaianmu hangus terbakar, minimal engkau mendapat baunya yang tidak sedap” (HR. Bukhari).

Mengapa pertemanan dapat mempengaruhi perilaku kita? Mengutip teori lapangan (field theory), perilaku merupakan hasil dari interaksi seseorang dengan lingkungan sekitarnya. Teori ini menerangkan, sesungguhnya perilaku kita hanyalah hasil dari penyerapan informasi terhadap apa yang kita perhatikan dari lingkungan dan dukungan yang diberikan oleh sekitar.

Baca juga Pemaafan Penyintas Bom Thamrin untuk Perdamaian

Menurut Serge Moscovici dan Marisa Zavalloni dalam artikelnya di Journal of Personality and Social Psychology, seseorang akan menunjukkan sikapnya dengan lebih terbuka jika menemukan pembenaran pada orang lain yang juga memiliki sikap sama. Artinya jika orang lain memikirkan hal yang sama dengan kita, maka kita merasa mendapatkan pembenaran, dan akan lebih yakin dengan apa yang kita pikirkan.

Secara psikologis, hal itu menambah keyakinan satu sama lain untuk merealisasikan keinginannya. Maka tidak heran bila kita melihat para pelaku terorisme selalu hidup dalam kelompok tertutup. Mereka berusaha memfilter pendapat yang berbeda dengannya.

Baca juga Keutamaan Memaafkan

Tak heran pula ada beberapa kasus di mana orang tidak sendiri dalam melakukan aksi terornya, tetapi melibatkan keluarganya. Misalnya Bom Bali 2002 yang melibatkan tiga orang bersaudara kandung dan rangkaian aksi pengeboman di Surabaya tahun 2018 yang dilakukan oleh keluarga inti (kedua orang tua dan anak-anaknya).

Penulis tidak mengajak untuk memilih-milih teman, namun lebih mawas dalam menjalin pergaulan sosial. Memperbanyak pertemanan sangat penting asalkan untuk bersama-sama mencapai kemaslahatan. Terlebih di era media sosial kini, meluaskan pertemanan sangat penting dengan tujuan menyebarkan hal-hal positif seperti perdamaian.

Baca juga 2021: Instrospeksi untuk Kemaslahatan

Bisa kita mulai dengan membanjiri pesan kasih sayang, tolong menolong, dan perdamaian di media sosial atau menunjukkan secara langsung lewat perilaku kita tentang nilai-nilai kebajikan yang diajarkan agama maupun kearifan lokal.

Manusia cenderung berpikir apabila suatu hal dilakukan oleh orang lain, apalagi oleh orang yang sering dijumpai, maka itu adalah sesuatu yang benar, baik, dan sebagainya. Kalau tidak bisa mengajak orang lain, minimal kita tidak ikut menyebarkan kebencian dan kekerasan yang terbukti menimbulkan kemudaratan luas.

Baca juga Dari Penyintas Muda untuk Perdamaian Indonesia

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Urgensi Pendidikan Perdamaian

Oleh: Muhammad Saiful HaqLulusan Fakultas Psikologi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Salah satu...

Menyemai Empati untuk Mengekalkan Perdamaian

Empati merupakan salah satu unsur penting dalam membangun perdamaian dan harmoni...

Trauma dan Potensi Kekerasan yang Meluas

Oleh: Muhammad Saiful Haq,Master Psikologi dari UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Salah satu...

Argumentasi Agama Perdamaian

Islam merupakan salah satu agama dengan jumlah pemeluk  terbesar di dunia....

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....