HomeBeritaEkstremisasi Via Jagat Maya

Ekstremisasi Via Jagat Maya

Aliansi Indonesia Damai- Ekstremisme kekerasan makin masif disebarluaskan lewat jagat maya. Narasi ekstrem dianggap relatif lebih mudah dan efektif disebarluaskan kepada khalayak melalui internet, khususnya media sosial (medsos), sebab dapat menerobos sekat batas geografis daerah bahkan negara.

Pernyataan itu diungkapkan oleh Solahudin, peneliti Pusat Kajian Terorisme dan Konflik Sosial Fakultas Psikologi Universitas Indonesia (UI), saat menjadi narasumber dalam Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Mahasiswa yang digelar AIDA secara daring, medio Maret silam. Solahudin menyoroti perkembangan gerakan ekstrem yang saat ini lebih gencar dilakukan di jagat maya.

Baca juga Pelaku Teror Tak Pikirkan Korbannya

Menurut dia, jika kelompok ekstrem di masa lalu cenderung melakukan perekrutan secara offline lewat pertemuan langsung, maka saat ini perekrutan lebih banyak dilakukan secara online, dan umumnya disebarluaskan lewat platform medsos seperti telegram, facebook dan whatsapp. Faktanya, banyak orang bergabung dalam jaringan ekstrem, bahkan rela hijrah ke wilayah konflik, lantaran propaganda di jagat maya. “Mereka menilai sosial media ini mudah dan murah,” katanya.

Beralihnya ekstremisasi ke jagat maya juga dipicu munculnya UU Terorisme tahun 2018 yang dianggap cukup ketat dalam mencegah dan menanggulangi rencana aksi-aksi terorisme. “UU ini dibuat agar aktivitas offline itu sulit dilakukan dan dapat dipidana. Akhirnya mereka lari ke media sosial,” ujar salah satu Pembina AIDA ini.

Baca juga Rahasia Ikhlas Memaafkan

Selain itu, Solahudin juga membeberkan fenomena keterlibatan perempuan dan anak-anak dalam rentetan aksi terorisme mutakhir. Hal itu tak lepas dari strategi kelompok ekstrem untuk mengelabui petugas keamanan sekaligus memancing para lelaki ekstremis agar lebih berani melakukan teror. “Itu provokasi pada ikhwan. Perempuan aja berjihad, masak laki-laki tidak berani,” ungkapnya.

Di sisi lain, munculnya pelaku perempuan dan anak juga suatu strategi untuk mendapatkan perhatian luas dari media. Keterlibatan perempuan dan anak dinilai dapat mendapatkan perhatian luas masyarakat karena tidak lazim di era sebelumnya. “Kurang lebih ingin mendapat perhatian luar biasa dari media. Kalau laki-laki ngebom dan bunuh diri itu biasa, tetapi kalau perempuan dan anak-anak itu luar biasa,” katanya.

Baca juga Keluwesan dalam Beragama

Kendati demikian, Solahudin meminta mahasiswa untuk tidak terjebak pada penampilan dan simbol pakaian seseorang. Menurutnya terorisme tidak identik dengan penampilan fisik. Beberapa pelaku teror berasal dari berbagai latar belakang dan tidak terkait sama sekali dengan penampilannya. “Kita jangan mudah terprovokasi kepada laki-laki berjenggot dan perempuan yang bercadar. Belum tentu mereka teroris,” katanya menegaskan. [AH]

Baca juga Inspirasi Kisah Hidup Korban Terorisme

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Jangan Pernah Bermimpi untuk Dipenjara

Aliansi Indonesia Damai- Pelajar atau generasi muda diharapkan tidak pernah bercita-cita untuk mendekam dibalik jeruji besi. Sebab kehidupan menjalani hukuman di dalam penjara sangat tidak ideal dan tidak mengenakan. Harapan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMAN...

Renungan Idul Adha: Ikhlas sebagai Puncak Pengabdian

Oleh Rumadi Ahmad, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Ketua PBNU, dan Staf Ahli Menteri HAM RI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 25 Mei 2026 Idul Adha sebagai salah satu hari raya umat Islam merupakan momentum penting yang kehadirannya membawa pesan spiritual. Idul...

Pengalaman Pertama Kali Bertemu Mantan Pelaku Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kampung Melayu 2017, Nugroho Agung Laksono mengaku takut dan kesal saat pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme dalam kegiatan yang difasilitasi AlDA. Bahkan, ia juga mengaku menjaga jarak dengan mantan pelaku. “Saya pertama kali bertemu mantan pelaku terorisme itu ada rasa takut. Ada...

Sengkarut Dunia Pendidikan

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang dipublikasikan pada 20 Mei 2026 Problem utama pembangunan pendidikan di Indonesia adalah kesenjangan antara voices (apa yang disuarakan) dan choices (apa yang dipilih sebagai kebijakan). Semua orang bersepakat menyuarakan peran penting pendidikan bagi kemajuan bangsa. Namun, pilihan...

Takut dan Takjub Ketika Bertemu Korban

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan mengaku takut dan takjub saat dirinya bertemu dengan korban terorisme yang difasilitasi oleh AIDA. Menurut dia, ketakutannya sebagai hal yang wajar karena ia merasa bersalah sebagai bagian dari jaringan terorisme yang melakukan pengeboman dan menimbulkan korban jiwa dan luka-luka....

Tak Ada Kemajuan Tanpa Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Negara yang tidak maju peradaban dan ekonominya karena kedamaian tidak terwujud di negara tersebut. Negara yang tak tercipta kedamaian maka ekonominya pun hancur. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Choirul Ihwan dalam kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh” di SMA Tahfidz Al Izzah Samarinda,...

Guru Bergerak

Oleh Iman Zanatul Haeri, Guru, Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Mei 2026 Saat ini seluruh masyarakat di Indonesia menyadari bahwa para guru terus mengalami masa-masa sulit. Martabatnya dipertaruhkan oleh ancaman penahanan tanpa toleransi kesalahan, dihina oleh gaji tidak seberapa...

Luka yang Melepaskan: 8 Tahun Berdiri karena Rahmat-Nya

Tuhan tidak menghapus lukaku, tetapi Ia membuat luka itu tidak lagi menguasai aku 13 Mei 2018-13 Mei 2026, delapan tahun peristiwa iman itu telah berlalu begitu cepat. Begitu banyak pemaknaan yang aku dapatkan dari peristiwa itu hingga saat ini, mulai dari apa itu arti keluarga sesungguhnya, arti kerendahan...

Pengalaman Menjadi Duta Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme, Kurnia Widodo mengaku senang bisa mengampanyekan perdamaian kepada masyarakat agar tidak terjerumus dalam jaringan terorisme seperti pengalaman dirinya di masa lalu. “Saya merasa plong (lega) saat menjadi duta perdamaian karena dahulu saya merasa banyak salah. Dengan menjadi duta perdamaian saya seperti membayar...

Menangani Pelajar yang Terpapar Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan pelaku terorisme Kurnia Widodo mengingatkan para pelajar untuk mewaspadai ideologi ekstremisme. Menurut dia, ada fakta pelajar yang baru lulus SMA menjadi pelaku pengeboman dan penyerangan pendeta di Gereja Katolik St. Yoseph Kota Medan, Sumatera Utara, pada 28 Agustus 2016 silam. “Pelajar yang terpapar ideologi...

Pelajar Diingatkan Mewaspadai Ekstremisme

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengingatkan para pelajar atau generasi muda untuk senantiasa waspada dan berhati-hati dengan pemikiran ekstremisme. Menurut dia, ideologi ekstremisme bisa menyebar atau mempengaruhi siapa saja. “Hati-hati ya kalian. Pemikiran ekstremisme...

Pendidikan untuk Merawat Hak Hidup

Oleh Ernest Pugiye, Penulis adalah Guru pada SMAN 1 Dogiyai Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 09 Mei 2026. Pendidikan adalah ruang paling dasar untuk manusia belajar menghargai kehidupan. Pendidikan menjadi jalan kemanusiaan yang menuntun manusia untuk menjaga martabat dan hak hidup sesama. Dalam konteks Papua,...