HomeOpiniAnalisis Budaya: Halalbihalal

Analisis Budaya: Halalbihalal

Oleh Ahmad Najib Burhani
Profesor Riset di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI)

Idulfitri memang sudah berlangsung pada 13 Mei 2021 yang lalu. Namun, kegiatan halalbihalal biasanya masih terus diadakan selama bulan Syawal, bulan kesepuluh dalam kalender Hijriah. Berbagai kantor pemerintah dan swasta, sekolah, organisasi Islam, perkumpulan alumni, atau kluster perumahan akan bergantian melaksanakan halalbihalal. Banyak yang melakukan secara luring, tetapi karena pandemi belum berakhir, lebih banyak lagi yang menyelenggarakan secara daring.

Halalbihalal merupakan bagian dari rangkaian kegiatan dalam perayaan Idulfitri. Ini merupakan tradisi khas Indonesia yang tidak ditemukan di negara-negara Islam lain. Meski kosakatanya berasal dari bahasa Arab, ia bukanlah istilah Arab. Secara gramatika bahasa, istilah ini tidak pas atau tidak mengikuti standar bahasa Arab yang diakui sehingga ia tidak memiliki makna yang jelas. Secara harfiah, ia berarti ”boleh dengan boleh” atau ”halal dengan halal”. Namun, secara umum, istilah ini dimaknai sebagai permohonan untuk saling memaafkan dan menyelesaikan masalah.

Baca juga Memaafkan dan Membangun Peradaban

Berdasarkan penelusuran Muhammad Yuanda Zara (2020) dan Deni Al Asyari (2021), istilah halalbihalal sudah dipakai umum pada perempat abad pertama abad ke-20 dengan berbagai cara penulisannya, seperti chalal bichalal, chalal bil chalal, halal bahalal, alal bahalal, alal behalal, halalbihalal, dan seterusnya. Majalah Soeara Muhammadijah edisi nomor 5 tahun 1924, misalnya, menggunakan istilah ”Alal Bahalal” dalam judul Tajuk Rencana atau pengantar redaksi edisi tersebut.

Tradisi ini lantas masuk menjadi acara resmi kenegaraan ketika KH Wahab Chasbullah pada 1948 mengusulkan agar Presiden Soekarno menggunakan halalbihalal untuk mencairkan ketegangan antar-elite politik ketika itu (Kompas, 16 Mei 2021). Acara itu menjadi alat untuk mempertemukan berbagai pihak yang sebelumnya tak mau bertemu dan sebagai upaya untuk mengintegrasikan kembali berbagai elemen bangsa. Sejak itulah kegiatan ini menjadi populer, tak hanya di kalangan masyarakat umum, tetapi juga di kantor-kantor pemerintah dan swasta.

Baca juga Memberantas Terorisme

Di negara lain, pada saat Idulfitri biasanya umat Islam saling mengucapkan ”Eid Mubarak”. Kadang ditambah dengan ”kullu ’am wa antum bi khair” (semoga kalian senantiasa dalam kebaikan setiap tahun).  Kalimat yang lebih lengkap lagi, ”Taqabbalallahu minna wa minkum wa taqabbal ya karim, waja’alanallahu waiyyakum minal ’aidzin wal faizin” (Semoga Allah menerima (amal ibadah) kita semua! Dan semoga Allah menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali dan orang-orang yang menang).

Tradisi mengucapkan kalimat ”mohon maaf lahir dan batin” atau, dalam bahasa Jawa, ”nyuwun pangapunten sedanten kalepatan” tidak terdapat di negara-negara Muslim lain. Dalam bahasa Clifford Geertz (1964, 379), inti dari hari raya Idulfitri, atau Riyaya, di Jawa atau Indonesia itu memang terletak pada ”individual begging of forgiveness” (permohonan maaf). Menariknya, ini tidak hanya dilakukan oleh umat Islam atau antar-umat Islam, tetapi juga oleh pengikut agama lain.

Baca juga Menakar Persepsi tentang Terorisme

Tradisi halalbihalal itu tentu bisa dirunut dari tradisi sungkeman atau pisowanan. Berbagai referensi menunjukkan bahwa ia berawal ketika KGPAA Mangkunegara I dari Surakarta, atau Pangeran Sambernyawa, mengumpulkan penggawa dan prajurit di balai astaka untuk melakukan sungkem kepada Sang Raja dan Permaisuri setelah Idulfitri (Suara Muhammadiyah No 11, 2019).

Meski halalbihalal tidak dikenal di negara lain, perayaan atau festival Idulfitri itu sendiri ada di sejumlah negara. Kita bisa melihat tradisi yang sama dalam takbiran, kembang api, shalat Idulfitri, makan bersama, dan berpakaian bagus. Pada beberapa hal, ini mirip yang terjadi pada hari Natal, Paskah, dan Thanksgiving. Namun, tidak ada tradisi saling bersilaturahmi atau saling mengunjungi dan saling meminta maaf pada Idulfitri di negara lain. Ini yang khas Indonesia.

Baca juga Tarbiah Perdamaian (Bag. 1)

Di Pakistan, misalnya, perayaan Idulfitri biasa dilakukan dengan hadirnya keluarga dari sejumlah daerah atau bahkan mereka yang tinggal di mancanegara. Ini mirip dengan tradisi mudik di masyarakat kita. Pada hari raya, mereka bangun pagi-pagi dan memakai baju tradisional yang baru, Kurta Shalwar. Kemudian mereka akan berkumpul untuk makan bersama, dimulai dengan doa dipimpin oleh yang tertua. Setelah itu mereka lantas pergi untuk melaksanakan shalat Id. Seusai shalat, mereka akan saling berpelukan dan saling mengucapkan selamat Idulfitri.

Nah, festival Idulfitri akan berlangsung setelah itu yang biasanya menggabungkan unsur tradisional, modern, dan bahkan sekuler. Elemen agama berkurang atau hilang dan berganti dengan elemen budaya dan napas perayaan pada umumnya. Berbagai makanan tradisional, seperti chapli kebab dan samosa, disajikan. Anak-anak akan mendapatkan angpau dari orangtua dan saudara.

Baca juga Tarbiah Perdamaian (Bag. 2)

Selain halalbihalal, ciri khas lain dari perayaan hari Lebaran di Indonesia adalah beduk, takbir keliling, makan ketupat, dan ziarah kubur. Bagi sebagian masyarakat kita, Idulfitri bukan hanya perayaan bagi mereka yang masih hidup, melainkan juga yang sudah meninggal. Makanya, kemarin ada yang marah ketika tempat-tempat pemakaman ditutup pada hari raya, sementara mal dan tempat wisata banyak yang masih buka.

Tentu, sejumlah daerah di Indonesia memiliki variasi yang berbeda dalam merayakan Idulfitri dan berhalalbihalal. Di Jawa, perayaan Id atau Bakda Lebaran berlangsung selama seminggu dan ditutup dengan Bakda Kupat atau Riyaya Ketupat. Di tempat lain, ketupat disajikan pada hari pertama Lebaran.

Baca juga Tarbiah Perdamaian: Berakhirnya Kekerasan (Bag. 3-Terakhir)

Ketupat, yang sekarang menjadi ikon Idulfitri, sering dianggap berasal dari kata ”ngaku lepat” (mengaku salah). Namun, ada yang memaknainya sebagai ”laku papat” (empat tindakan): Lebaran (membuka pintu lebar-lebar), luberan (berbagi keberuntungan), leburan (saling memaafkan), dan laburan (putih dan bersih dari dosa) (Rianti dkk 2018, 6). Ada juga yang menganggap berasal dari bahasa Arab, kafa, yang berarti ”sempurna”. Setelah berpuasa sebulan penuh dan dilanjutkan saling memaafkan sesama manusia, sempurnalah diri kita sebagai manusia.

Akhirnya, pada hari raya ini, kami memohon agar dibukakan pintu maaf yang selebar-lebarnya. Semoga Covid-19 cepat berakhir dan kita bisa nguri-nguri tradisi halalbihalal dan ketupatan dengan lebih hangat dan meriah!

Sumber: Harian KOMPAS, Sabtu 29 Mei 2021

Baca juga Ketangguhan Mental Modal Kebangkitan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...