HomeInspirasiAspirasi DamaiParadoks Ekstremisme: Belajar dari...

Paradoks Ekstremisme:
Belajar dari Perubahan Pandangan Napiter (Bag.1)

Asumsi dasar yang memengaruhi seseorang melakukan tindakan kekerasan adalah ide, yaitu suatu hal yang tertanam dalam pemikiran secara kognitif dan keyakinan di dalam hati. Ide dapat berkembang menjadi ideologi yang secara koheren berhubungan dengan fenomena-fenomena dan persoalan sosial politik yang berkembang.

Menurut pengakuan salah seorang narapidana terorisme yang pernah penulis jumpai, faktor dasar munculnya tindakan esktremisme berawal dari ide. Di kalangan kelompok ekstrem, ada keinginan untuk menjadikan sebuah negara menerapkan syariat Islam dengan cara menghancurkan negara itu terlebih dahulu.

Baca juga ‘Kepungan’ Menjaga Harmoni

Faktor ketidakadilan global, ekonomi, atau pendidikan hanyalah faktor antara. Sementara faktor ide negara Islam tersebut ditambah dengan justifikasi agama menjadi pembenaran atas tindakannya.

Meskipun demikian, tak ada gading yang tak retak, layaknya tak ada batu yang tak bisa hancur. Semua bisa berubah seiring perkembangan pemikiran, yang terkadang dipicu oleh paradoks antara harapan dan kenyataan dan antara justifikasi yang satu dengan yang lain.

Baca juga Massiara’: Tradisi Bugis Menjaga Damai

Kita tahu, sejumlah orang terpapar paham kekerasan sejak dini, bahkan sejak bangku pendidikan menengah. Proses ekstremisasi yang sangat panjang, membuat mereka memiliki keyakinan yang kuat terhadap ajaran yang mereka anut.

Beberapa di antaranya bahkan menjadi residivis terorisme, yaitu kembali mengulangi perbuatannya dalam kasus yang sama. Penjara tidak memberikan efek jera (deterence) bagi para pelaku. Namun ada beberapa momentum yang mendorong mereka melakukan kontemplasi hingga perlahan menyadari kesalahan berpikirnya selama ini. Ternyata banyak hal yang terjadi sangat tidak sesuai dengan keinginannya, bahkan sebaliknya menyalahi ajaran-ajaran dasar Islam sendiri.

Baca juga Berdamai dengan Ketidaksukaan

Beberapa dampak di antaranya, banyak korban sipil tak bersalah, bahkan di antaranya adalah umat muslim sendiri yang menderita akibat aksi-aksi kekerasan yang mereka lakukan. Citra Islam menjadi buruk di mata masyarakat. Malahan di beberapa negara Eropa dan Amerika Serikat banyak bermunculan fenomena Islamophobia, yaitu sikap antipati berlebihan terhadap umat Islam, khususnya yang berkaitan dengan simbol-simbol keagamaan.

Setiap napiter menjumpai momentum pemicu kesadaran yang berbeda-beda. Sebagian ada yang dari bahan bacaan. Mereka membaca buku-buku yang isinya bertentangan dengan buku-buku kekerasan yang biasa dibaca. Mereka juga banyak berdiskusi dengan teman-temannya yang telah berubah terlebih dahulu dan sadar bahwa dahulu ia jauh dari ulama-ulama yang spalih, hanya mengikuti pendapat ulama dari kalangan mereka sendiri.

Baca juga Falsafah Bugis untuk Perdamaian Bangsa

Sebagai contoh perubahan pemahaman adalah ketika mereka berpendapat bahwa semua amaliyat/aksi teror perlu dikoreksi. Mereka menganalisis buku-buku yang dibaca sebelumnya, bahwasanya penulis buku menegaskan, tidak seharusnya melakukan pembalasan dendam di tempat yang berbeda, karena itu dilarang oleh agama.

Sebagai misal, ketika tentara Amerika Serikat membunuh anak-anak dan perempuan dalam perang Afghanistan dan Irak, maka tidak seharusnya umat Islam juga membunuh anak-anak dan perempuan di tempat yang lain, apalagi bukan dalam kondisi perang. Hal tersebut dilarang karena warga negara kerap tidak setuju dengan kebijakan politik pemerintahnya.

Baca juga Siri’: Filosofi Perdamaian Bugis-Makassar

Dari paradoks-paradoks itu perlahan napiter berubah. Bagi mereka, mengubah pandangan orang-orang yang masih keras harus juga mengubah pemahaman mereka tentang negara. Jika tidak, akan terus ada aksi-aksi teror, karena kelompok-kelompok teror selalu beradaptasi. Meskipun banyak penangkapan, ideologi telah terwariskan. (Bersambung)

Baca juga Kritik Diri Bekal Pertobatan Ekstremis

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 2-Terakhir)

Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto telah melewati 30 tahun...

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 1)

Namanya Arif Siswanto. Salah satu aktor penting dalam pembubaran Jamaah Islamiyah...

Penyintas Bom Bali 2002 Bertutur

Pulau Dewata merupakan salah satu destinasi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara....

Penyimpangan Pemahaman Agama Kelompok Ekstrem (Bagian 2- Selesai)

Mukhtar menjelaskan setiap aksi atau amaliyat yang dilakukan kelompok ekstrem mengandung...

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...