HomeBeritaMendengar Penuturan Pendamping Korban...

Mendengar Penuturan Pendamping Korban Bom Surabaya

Aliansi Indonesia Damai- Teror bom yang menerjang Surabaya, dua tahun silam diperingati secara daring oleh sebagian korban dan masyarakat. Salah satunya yang digelar idenera.com pada Rabu (13/05) malam bertajuk  “Refleksi Dua Tahun Peristiwa Bom Surabaya: Kita Cerita Hari Ini.” Salah seorang peserta mengucapkan dukacita mendalam kepada para korban dan mengajak masyarakat untuk menjadikan peringatan ini sebagai pembelajaran.

“Kalau kita mau merawat ingatan ini, kita harus berbicara dengan korban. Pengampunan korban, saya pikir menjadi pembelajaran kita semua,” kata Khanis Suvianita, salah seorang peserta yang berprofesi psikiater. Sesaat setelah peristiwa itu terjadi, Khanis melihat langsung apa yang dialami korban, bahkan turut mendatangi sejumlah rumah sakit untuk mendampingi mereka.

Baca juga Peristiwa Iman untuk Pemaafan

Menurut dia kebanyakan korban adalah orang-orang sudah berkeluarga. Akibat peristiwa itu mereka harus berpisah, bahkan sebagian harus kehilangan keluarganya. Dalam diri sebagian korban, ada perasaan bersalah.

“Mengapa anak tidak menjaga ibunya, atau sebaliknya mengapa ibu tidak mampu menjaga anak-anaknya. Mereka tak menanyakan pelaku. Yang ada perasaan bersalah karena tak mampu melindungi keluarganya,” ucap Khanis menceritakan hal-hal yang terjadi pada diri korban saat masa kritis.

Hebatnya, dalam keadaan terpuruk, sejumlah korban yang ia temui masih merasa bersyukur karena diberi kesempatan hidup. Mereka merasa beruntung sambil membandingkan kondisinya dengan korban lain yang lebih parah. Kekuatan iman menguatkan mereka untuk bersikap ikhlas, terus berdoa, dan memunculkan solidaritas sesama korban.

Baca juga Dua Tahun Bom Surabaya: Ikhlas Obat dari Segala Obat

Solidaritas itu menjadi salah satu faktor pendorong sejumlah korban bisa bangkit dan berdamai dengan keadaan. “Dalam keadaan sakit, mereka masih menanyakan bagaimana keadaan korban yang lain. Mereka tidak marah, justru yang marah adalah para tamu yang datang,” ujarnya.

Dalam hemat Khanis,  sikap tangguh korban layak menjadi inspirasi bagi masyarakat luas. “Kita belajar dari korban. Sikap yang otonom itu begitu kuat, bagaimana perasaan kehilangan, namun mereka memaafkan,” tambah Khanis.

Baca juga Memuliakan Rumah Ibadah

Dalam kesempatan yang sama, salah seorang peserta, Fatkhul Khoir, mengkritisi penanganan pemerintah terhadap para korban bom terorisme di Indonesia. Menurut dia, undang-undang dan turunannya belum cukup menjelaskan mekanisme penanganan korban secara komprehensif. Hal itu terbukti dalam peristiwa bom Surabaya, di mana bantuan mengalir di awal kejadian, namun seiring waktu korban dibiarkan mengurusi persoalan-persoalannya secara mandiri.

“Siapa yang mau menanggung korban ini kalau Negara tidak punya mekanisme jelas? Padahal Negara punya tanggung jawab,” ucap Fatkhul. [AH]

Baca juga Refleksi 2 Tahun ‘Peristiwa Iman’ 13 Mei 2018

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas)...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...