HomeBeritaSinergi Alim Ulama untuk...

Sinergi Alim Ulama untuk Indonesia Damai

Aliansi Indonesia Damai- Indonesia adalah negeri yang dianugerahi keberagaman, baik dari sumber daya alam maupun sumber daya manusia. Para pemuka agama, terutama alim ulama diharapkan mampu bersinergi untuk mengelola keberagaman di Indonesia. Tanpa kolaborasi bersama, konflik sosial dapat saja muncul dan mengancam kehidupan.

Demikian disampaikan Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo, saat menjadi keynote speaker dalam acara Halaqah Alim Ulama: Menguatkan Ukhuwah melalui Pendekatan Ibroh yang digelar AIDA, Kamis (08/07/2021). Kegiatan yang digelar daring itu dihadari lebih dari seratus alim ulama dari wilayah Sulawesi Selatan dan sekitarnya.

Baca juga Ketangguhan Istri Korban Bom Kuningan

Dalam paparannya, Imam menegaskan bahwa Indonesia sudah ditakdirkan menjadi bangsa yang sangat beragam. Untuk itu, diperlukan kesadaran bersama untuk menjaga keberagamaan sekaligus memererat persatuan dan persaudaraan di antara sesama. Tanpa persaudaraan yang kuat, konflik sosial bisa muncul di tengah-tengah masyarakat yang beragam.

Menurut dia, sejumlah konflik sosial yang pernah terjadi di tengah-tengah masyarakat beberapa penyebabnya bersumber dari kecurigaan dan ketidaktahuan terhadap latar belakang kelompok lain. Kunci untuk menghindari ketidaktahuan itu adalah dengan cara saling mengenal, saling memahami, dan menghormati orang lain. “Sebagaimana ditegaskan oleh Al-Qur’an, kuncinya li taarafu, saling mengenal, saling menjaga, dan saling memahami,” ucapnya.

Baca juga Bersinergi Melawan Provokasi Kekerasan

Imam mengingatkan, bila keberagaman masyarakat tidak mampu dikelola dengan baik, maka yang akan terjadi adalah pecahnya kohesi sosial. Hal itu bisa dilihat dari sejarah konflik kekerasan yang pernah terjadi di Indonesia. Berawal dari ketidaktahuan dan kesalahpahaman, kemudian muncul konflik kekerasan dan permusuhan.

Karena itu, Imam mengajak alim ulama untuk terlibat aktif dalam menjaga keberagaman bangsa Indonesia. Terlebih, di tengah-tengah peristiwa besar yang terjadi di tanah air, masih saja ada oknum-oknum yang kerapkali menebar permusuhan dan konflik. “Bila ada di antara kita yang tidak mampu menahan diri, tidak mampu menerima keberagaman, maka yang akan terjadi adalah gesekan terus menerus. Kehilangan rasa damai, rasa kasih sayang,” ujarnya.

Baca juga Pentingnya Saling Menyalehkan

Para pendiri bangsa pun, lanjut Imam, telah menanam pondasi yang kuat untuk menjaga keberagaman bangsa Indonesia. Tugas selanjutnya yang diemban oleh para penerus bangsa adalah melestarikan perdamaian di Indonesia dan memajukan kesejahteraan umum, bukan individu atau kelompok.

Di akhir paparannya, Imam mengajak alim ulama untuk merefleksikan peristiwa-peristiwa kekerasan yang pernah terjadi di Indonesia. Beberapa peristiwa itu antara lain sejumlah ledakan bom yang dilakukan oleh kelompok ekstremis. Menurut Imam, ada begitu banyak korban bom yang tak bersalah harus menderita lantaran aksi-aksi kekerasan. Ia lantas mengajak alim ulama untuk mengambil ibroh (pembelajaran) dari kisah hidup para penyintas.

“Hendaknya kita renungi, bagaimana orang-orang yang menjadi korban kekerasan, apa cerita di balik peristiwa yang mereka alami. Banyak sekali cerita-cerita yang membutuhkan empati. Mari kita semua merenungkan ayat-ayat Tuhan yang kauniyah ini, selain tentu saja ayat-ayat yang qauliyah,” demikian Imam memungkasi. [AH]

Baca juga Menyerukan Semangat Perdamaian kepada Ulama Sulawesi

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...