HomeBeritaMencegah Ekstremisme dengan Literasi

Mencegah Ekstremisme dengan Literasi

Aliansi Indonesia Damai – Penguatan literasi keagamaan dan kebangsaan sangat penting untuk memagari publik dari pengaruh ekstremisme kekerasan. Terlebih jika rujukannya adalah pandangan generasi muslim salaf, maka sangat otoritatif untuk menandingi narasi ekstremisme.

Pendapat ini dikemukakan oleh Mukhtar Khairi, mantan narapidana terorisme, dalam Diskusi dan Bedah Buku La Tay’as: Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya, yang dilaksanakan AIDA bekerja sama dengan MUI Sulawesi Barat dan Penyuluh Agama Islam, pertengahan November ini. Kegiatan dihadiri lebih dari 100 peserta.

Baca juga Dialog Tokoh Agama Sulbar dengan Ahli Jaringan Terorisme

Berdasar pengalaman Mukhtar, literasi yang mumpuni dari generasi muslim salaf cenderung sulit ditolak oleh penganut ekstremisme. Ia mencontohkan pemahaman tentang hubbul wathan (cinta tanah air). Bahwa tugas utama manusia adalah untuk memakmurkan bumi Allah. Ia lantas mengutip perkataan Umar bin Khattab RA:  عَمَّر اللهُ البلدانَ بحب الأوطان.

“Bahwa Allah memakmurkan negeri-negeri yang ada di dunia dengan cara mencintai tanah air. Sedangkan orang-orang takfiri itu benci dengan negara sendiri,” tuturnya.

Baca juga Menangkal Ektremisasi di Medsos

Menurut dia, kontranarasi dengan literasi yang benar akan membantu orang-orang yang terpapar ekstremisme untuk berubah secara perlahan. “Setidaknya jika mereka tidak bisa langsung berubah, mereka akan menjadi lebih tidak ekstrem,” ujarnya.

Lebih jauh Umar menjelaskan, kebencian seseorang terhadap negeri sendiri seringkali dibarengi dengan keinginan untuk menciptakan negara Islam. Hal itu menjadi alasan untuk bergabung dengan kelompok teror dengan dalih berjihad. Padahal ternyata jika dipelajari lebih dalam, berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia tentu sudah diputuskan dengan penuh pertimbangan oleh para tokoh agama terdahulu.

Baca juga Menangkal Ektremisasi di Medsos

Selain dengan literasi tekstual, kontranarasi ekstremisme bisa pula dengan pengalaman langsung dari mantan pelaku terorisme. Dalam pengamatan Mukhtar, kelompok ekstrem kerap menggambarkan pemerintah dan jajaran kepolisian sebagai sosok yang jahat dan patut untuk diperangi. Namun fakta dan pengalaman Mukhtar saat menjalani proses hukum menunjukkan sebaliknya. Pemerintah justru membina para napiter dengan baik, juga mengakomodasi kebutuhannya.

“Mereka yang mengikuti kegiatan pemerintah itu merasa, bahwa sentuhan negara tidak seperti yang dulu dibayangkan. Dan ternyata anggota dari kepolisian juga banyak yang baik dan prihatin dengan kondisi kita yang dulu,” katanya.

Baca juga Menguatkan Dakwah dengan Perspektif Korban dan Pelaku Terorisme

Usai sesi paparan Mukhtar, salah seorang peserta mengaku pernah terlibat dalam pengajian eksklusif. Ia bersyukur karena berhasil lepas dari pengajian tersebut. Ia lantas bertanya langkah dan strategi yang bisa digunakan untuk melindungi keluarga, utamanya perempuan yang akhir-akhir ini di Indonesia marak terlibat secara aktif dalam aksi terorisme.

Menurut Mukhtar, hal pertama yang harus dilakukan adalah mengetahui secara betul ciri-ciri orang yang sudah terpapar. “Jika memang tiba-tiba ikut pengajian eksklusif dan langsung menganggap pemerintah itu thaghut, maka itu sudah menjadi satu ciri. Langkah selanjutnya adalah social distancing, melindungi diri kita dan keluarga kita agar tidak ikut terpapar,” katanya. [WTR]

Baca juga Ketua Masika ICMI Sulsel: Terorisme Persoalan Bersama

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian,...

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...