HomeBeritaKetua Baznas Wajo: ...

Ketua Baznas Wajo:
Kisah Penyintas Menggugah Kemanusiaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya jadi memahami begitu menderitanya para korban terorisme. Coba bayangkan, korban kehilangan penglihatan selama-lamanya, kehilangan jari, kehilangan rahang. Bagaimana mereka bertahun-tahun minum obat, bahkan ada yang kehilangan ingatan dan harus berkenalan kembali dengan keluarga, termasuk kepada istri dan anaknya.”

Pernyataan tersebut diungkapkan Mansur, Ketua Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, dalam Diskusi dan Bedah Buku La Tay’as: Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya, awal Desember lalu. Kegiatan ini merupakan hasil kerja sama AIDA dengan BAZNAS Wajo. 99 orang pemuka agama mengikuti kegiatan ini secara daring.

Baca juga Ketua MUI Sulbar: Jadilah Dai Ramah

Menurut Mansur, kisah penyintas sangat penting disebarkan karena dapat menggugah rasa kemanusiaan tanpa memandang ras ataupun agama. Selain itu juga mampu memberikan ibroh terkait ketangguhan dalam menghadapi musibah dan penderitaan. Alih-alih menjadi terpuruk dan putus asa, para penyintas justru bangkit dan menerima takdir serta menjalani semua dengan pikiran yang terbuka.

“Mereka melakukan hal yang orang tidak bisa membayangkan. Tidak ada rasa dendam dan membenci terhadap orang yang menyebabkan mereka menderita. Tidak ada keinginan untuk membalas orang yang melukai mereka. Padahal mereka sangat menderita, bahkan cacat,” ujar Mansur yang merupakan alumni kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang dilaksanakan oleh AIDA beberapa waktu sebelumnya.

Baca juga Mencegah Ekstremisme dengan Literasi

Ia berpesan kepada para peserta yang mayoritas mubalig untuk menjadikan kisah korban sebagai bahan dakwah perdamaian. Narasi korban efektif untuk menandingi dakwah-dakwah yang bersifat keras dan cenderung menyebarkan kebencian. Selain itu, Mansur menekankan agar para peserta memahami islam secara kontekstual.

“Mubalig juga sudah saatnya untuk menggeser pemahaman keislaman yang dulunya tekstual ke kontekstual. Karena seringkali tekstual ini bisa mengarah ke radikalisme dan ekstremisme, karena hanya melihat secara satu arah. Harus bisa kritis melihat konteks,” katanya.

Baca juga Dialog Tokoh Agama Sulbar dengan Ahli Jaringan Terorisme

Dalam kapasitasnya sebagai ketua lembaga amil zakat, Mansur mengingatkan juga agar para peserta terus-menerus menyampaikan ke masyarakat agar berhati-hati dalam memberikan zakat ataupun sedekah. Lantaran banyak kotak amal yang dipakai untuk membiayai terorisme.

Akhiran, Mansur berharap agar kegiatan ini terus dilaksanakan agar lebih banyak masyarakat yang mendapatkan pembelajaran dari apa yang tertulis dalam buku karya Hasibullah Satrawi itu. “Buku ini perlu untuk dibedah secara terus menerus, dan mengajak kelompok yang berpengaruh. Sehingga buku ini bisa bergerak di tengah masyarakat dan bisa menciptakan kedamaian dan ketenangan di tengah masyarakat.” ucapnya memungkasi. [WTR]

Baca juga Menangkal Ektremisasi di Medsos

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...