HomeBeritaDialog Tokoh Agama Wajo...

Dialog Tokoh Agama Wajo dengan Mantan Napiter

Aliansi Indonesia Damai – “Tiba-tiba suatu malam saya bermimpi tentang ibu saya. Malam kedua kembali bermimpi hal yang sama. Di malam ketiga mimpi yang sama dan bahkan semakin kuat. Saya menghubungi rumah dan kakak saya mengatakan bahwa ibu saya sudah meninggal.”

Choirul Ikhwan, mantan narapidana terorisme, mengenang momentum titik balik kehidupannya. Demi memburu cita-cita menjadi mujahid pembela agama, ia meninggalkan rumah setelah mengkafirkan keluarganya, termasuk ibunya. Akibat sepak terjangnya di kelompok ekstremisme kekerasan, Irul, sapaan  Choirul Ikhwan, menjadi buronan kepolisian. Ia bersembunyi di salah satu daerah di kepulauan Sulawesi.

Baca juga Mendorong Narasi Keagamaan yang Damai

Dalam masa persembunyian itulah sosok ibunda ‘mendatanginya’ melalui mimpi. “Pikiran saya mengatakan bahwa beliau adalah orang kafir. Tetapi di hati saya sangat mencintai beliau,” ujarnya saat menjadi salah satu narasumber Diskusi dan Bedah Buku La Tay’as: Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya. Kegiatan dilaksanakan oleh AIDA bekerjasama dengan Badan Amil Zakat Nasional (BAZNAS) Kabupaten Wajo, Sulawesi Selatan, beberapa waktu lalu.

Irul sangat menyesal dan sedih karena belum sempat meminta maaf kepada ibunya. Ia menyadari, sekuat apa pun doktrin ekstremisme tak akan pernah mampu mengalahkan hubungan cinta kasih antara ibu dan anak. Kepergian ibunda seolah menjadi teguran keras dari Allah Swt agar dirinya memikirkan ulang keterlibatannya dalam ekstremisme kekerasan. Secara perlahan ia mengevaluasi pemahaman-pemahaman ekstrem yang selama ini diyakininya sebagai kebenaran mutlak.

Baca juga Ketua Baznas Wajo: Kisah Penyintas Menggugah Kemanusiaan

Ketika kembali ke Jawa, ia ditangkap aparat dan harus menjalani hukuman penjara. Di balik jeruji besi, ia banyak membaca buku karya ulama-ulama yang berpemahaman moderat dan membandingkannya dengan ajaran-ajaran ulama yang dianut kelompok ekstrem. “Saya bandingkan argumentasi mereka dengan yang selama ini saya dapatkan di dunia jihadis. Dari situ saya berproses sedikit demi sedikit untuk sembuh,” katanya.

Usai paparan Irul, beberapa pertanyaan muncul dari peserta. Salah satunya tentang bagaimana seharusnya masyarakat bersikap jika menemukan pengajian yang mengarah pada ekstremisme kekerasan. Menurut Irul, cara terbaik adalah dengan tidak langsung menilai dari penampilannya saja, namun harus dilihat dari ideologinya.

Baca juga Ketua MUI Sulbar: Jadilah Dai Ramah

Dalam pengalaman pribadinya, ketika bergabung dengan kelompok ekstrem, ia justru dituntut bisa berintegrasi secara sempurna ke dalam masyarakat agar tidak muncul kecurigaan. “Jadi memang tidak semua orang yang bercelana cingkrang dan bercadar itu bisa dikaitkan dengan terorisme. Itu pemahaman yang sangat salah,” katanya.

Lebih jauh ia menjelaskan, masyarakat memang cenderung melihat pengajian sebagai hal positif. Namun, harus cermat ketika mulai diajarkan tentang ashobiyah atau fanatisme golongan. Irul mencontohkan salah satu hadis Nabi Saw yang cukup populer, yakni tentang prediksi bahwa umat Islam akan terpecah ke dalam ke dalam 72 golongan dan hanya ada satu golongan yang selamat.

Baca juga Mencegah Ekstremisme dengan Literasi

Jika tidak kritis, masyarakat bisa terjebak dalam fanatisme sempit dan mengklaim bahwa hanya kelompoknya yang benar, adapun lainnya sesat. “Doktrin ashobiyah, keyakinan bahwa kita saja yang benar dan orang lain salah, itu apakah bisa dibenarkan,” katanya.

Pertanyaan lain dari peserta adalah terkait faktor-faktor yang mendorong orang terjerumus dalam ekstremisme. Dalam pengalaman Irul, keterlibatannya dalam kelompok ekstremisme diawali dengan lemahnya pemahaman agama, sehingga terlalu mudah untuk dimasuki pemahaman agama Islam yang literal.

Baca juga Dialog Tokoh Agama Sulbar dengan Ahli Jaringan Terorisme

“Kalau dakwah yang literal itu kan lebih mudah diterima oleh orang yang kurang pemahamannya tentang Islam. Dari situ banyak yang akhirnya tertarik. Kemudian ada faktor pendukung lain, misal kecemburuan sosial atau kebencian terhadap pemerintah dan sebagainya. Ada juga faktor ekonomi,” katanya. [WTR]

Baca juga Menangkal Ektremisasi di Medsos

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...