HomeInspirasiAspirasi DamaiMembaca Ayat-Ayat Kauniyah Perdamaian

Membaca Ayat-Ayat Kauniyah Perdamaian

Di mana pun kita berada pasti menginginkan ketenangan. Ketika tinggal di suatu wilayah kita tidak ingin melihat adanya kekerasan, agar bisa beraktivitas sehari-hari dengan lancar. Orang dewasa dapat keluar rumah dan bekerja secara tenang, pun anak-anak bisa bermain atau bersekolah dengan nyaman tanpa khawatir akan sesuatu yang membahayakan diri mereka.

Bangsa kita pernah mengalami beberapa situasi yang mencekam beberapa tahun silam. Ada peristiwa kerusuhan massal, konflik komunal di sejumlah daerah, rentetan serangan terorisme, dan aksi-aksi kekerasan lain. Tentu kita tidak ingin hal itu terjadi lagi.

Baca juga Belajar Menghargai Hidup dari Penyintas Bom

Adalah tugas semua pihak untuk merawat perdamaian bangsa. Karena kerugian yang timbul akibat peristiwa-peristiwa kekerasan seperti di atas sungguh tak terkira. Salah satu bentuk ikhtiarnya adalah membangun hubungan antarsesama dilandaskan pada prinsip persaudaraan.

Sebagai contoh ikhtiar menjaga perdamaian adalah apa yang dilakukan oleh para penyintas bom bersama mantan pelaku terorisme yang telah bertobat. Kedua belah pihak merupakan dua sisi yang unik dan luar biasa.  Hubungan antara korban dan mantan pelaku yang terjalin baik bisa dijadikan ‘ibroh, sebagai ayat-ayat kauniyah yang menguatkan ayat-ayat qauliyah. Dalil yang menunjukan bahwa perdamaian bisa diraih jika ada usaha-usaha yang serius untuk mewujudkannya.

Baca juga Keterbatasan Akal Memahami Musibah

Perspektif ini penting, sebab setiap terjadi peristiwa kekerasan, misalnya terorisme, maka khalayak luas yang merasakan dampaknya. Meski tentu saja korbannya yang paling merasakan derita. Seluruh korban mengalami penderitaan berat. Namun tak jarang dari mereka yang bisa bangkit setelahnya, meski masih cedera atau bahkan mengalami disabilitas, serta kondisi psikis atau mental yang hancur.

Peristiwa yang dialami oleh korban dan upaya mereka untuk bisa bangkit serta bergandengan dengan mantan pelaku untuk mengampanyekan perdamaian menggambarkan praktik ayat-ayat qauliyah. Ayat-ayat qauliyah mengajarkan pentingnya menjaga tali persaudaraan, menggambarkan sifat rahman dan rahim Allah Swt, serta menegaskan larangan berbuat kerusakan di muka bumi.

Baca juga Apologi Takdir: Memahami Penyintas Bom dalam Rukun Iman (Bag.1)

Sedangkan secara kauniyah, keputusan para korban untuk tidak membalas kekerasan dengan kekerasan terhadap para pelaku merupakan hikmah luar biasa. Keputusan tersebut melahirkan “kehidupan” berikutnya, karena memutus rantai kekerasan yang potensial menimbulkan korban baru.

Walaupun secara human nature manusia memiliki kecenderungan untuk membalas kekerasan yang mereka alami, namun akan selalu ada pilihan. Adalah pilihan yang sangat bijak membalas kekerasan itu dengan menjalin persaudaraan.

Baca juga Apologi Takdir: Menjadi Korban Bukan Keniscayaan (Bag.2-Terakhir)

Pilihan korban dengan tidak membalas kekerasan memberikan i’broh kehidupan. Salah satunya problem solving, yaitu solusi mengatasi konflik antarmanusia. Misalnya melalui perjanjian perdamaian untuk menghentikan konflik atau peperangan yang terjadi. Namun hal itu hanya bisa diwujudkan jika mantan pelaku berkomitmen kuat untuk tidak mengulangi perbuatan yang sama.

Yang harus dipahami seseorang dalam menjalankan interaksi dengan orang lain adalah bahwa kebebasan seseorang dibatasi dengan hak kebebasan orang lain. Common value batasan tersebut adalah perdamaian.

Baca juga Urgensi Ukhuwwah dan Bahaya Perpecahan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 2-Terakhir)

Mantan petinggi Jamaah Islamiyah (JI) Arif Siswanto telah melewati 30 tahun...

Jalan Baru Mantan Petinggi Jamaah Islamiyah (Bagian 1)

Namanya Arif Siswanto. Salah satu aktor penting dalam pembubaran Jamaah Islamiyah...

Penyintas Bom Bali 2002 Bertutur

Pulau Dewata merupakan salah satu destinasi favorit wisatawan domestik maupun mancanegara....

Penyimpangan Pemahaman Agama Kelompok Ekstrem (Bagian 2- Selesai)

Mukhtar menjelaskan setiap aksi atau amaliyat yang dilakukan kelompok ekstrem mengandung...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...