HomeBeritaKorban dan Kerusakan Akibat...

Korban dan Kerusakan Akibat Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Berbagai tindakan terorisme di Indonesia telah melahirkan banyak korban menderita. Tidak hanya kesedihan ditinggal oleh orang-orang tercinta, akan tetapi para korban juga mengalami dampak psikis, fisik, sampai masalah ekonomi. Sementara bagi masyarakat sekitar, kekerasan terorisme berdampak pada kerusakan fasilitas publik dan mengoyak ketenangan masyarakat.

Deputi Direktur AIDA, Laode Arham mengatakan, korban adalah pihak yang paling menderita akibat tindakan terorisme. Secara umum kekerasan terorisme menimpa orang-orang yang tidak punya masalah dengan pelakunya, namun mereka harus menderita dan acapkali terabaikan. “Peristiwa terorisme sangat terasa sekali dampaknya bagi para korban,” kata Laode saat memberi sambutan dalam acara diskusi dan bedah buku La Tay’as: Ibroh dari Kehidupan Teroris dan Korbannya, September tahun 2021 lalu.

Baca juga Membalas Ketidakadilan dengan Kekeliruan

Acara yang digelar AIDA bekerjasama dengan KUA/Penyuluh Agama Kecamatan Enrekang, Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan itu merupakan tindak lanjut dari kegiatan AIDA sebelumnya, yaitu Halaqah Alim Ulama dan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama Sulawesi Selatan. Acara digelar secara virtual dan dihadiri lebih dari seratus tokoh masyarakat dan pengurus KUA Enrekang.

Hadir dalam acara itu narasumber yang terdiri dari mantan pelaku dan korbannya. Mereka berkisah tentang pengalaman hidup pernah menjadi pelaku terorisme dan terdampak sebagai korbannya. Laode melihat kehadiran dua belah pihak sebagai pembelajaran bersama untuk lebih peduli terhadap perdamaian. “Kisah mereka menjadi ibroh dan pembelajaran, bagaimana kita hidup dalam bangsa dan masyarakat yang beragam,” ucap pria asal Sulawesi itu.

Baca juga Dialog Tokoh Agama Wajo dengan Mantan Napiter

Dalam paparannya Laode menekankan bahwa ketenangan dan kedamaian adalah kebutuhan mendasar bagi masyarakat. Akan tetapi, ketenangan itu dinilai tidak akan terwujud tanpa adanya partisipasi masyarakat untuk menjaga kedamaian di lingkungan masing-masing. “Kegembiraan dan kebahagiaan tidak mungkin kita nikmati, manakala daerah kita dilanda aksi terorisme. Adanya Covid saja sudah membuat keadaan kita tidak enak,” ungkapnya.

Menurut Laode, umat Islam mesti melihat kisah-kisah korban dan pelakunya sebagai ayat-ayat Allah yang nyata. Ia menilai umat Islam tidak hanya diperintahkan untuk membaca ayat-ayat qauliyah di dalam teks-teks Al-Quran semata, akan tetapi juga ayat-ayat kauniyah yang tampak dalam setiap kejadian. “Kehadiran mantan pelaku dan korban adalah kisah-kisah nyata yang harus kita baca sebagai ayat-ayat kauniyah, sehingga kita bisa menyerap inspirasi,” tandasnya.

Baca juga Mendorong Narasi Keagamaan yang Damai

Laode lantas menyoroti beberapa peristiwa kekerasan yang terjadi di wilayah Makassar dan Sulawesi Selatan. Dari berbagi peristiwa itu ia mengajak partisipan untuk lebih peduli terhadap isu terorisme, sehingga masyarakat lebih waspada terhadap ancaman aksi-aksi serupa. “Makassar daerah yang strategis bagi orang yang pernah melakukan aksi-aksi kekerasan. Karena itu penting bagi kita menjaga perdamaian,” ucapnya.

Di akhir sambutannya, Laode berharap kehadiran mantan pelaku dan korbannya dapat menjadi mutiara hikmah bagi kalangan tokoh agama. Karena itu, pesan-pesan mereka mesti disampaikan kepada khalayak luas.“Manfaat ini kita tularkan kepada masyarakat dan rekan-rekan kita semua, sehingga kita bisa betul-betul lebih peduli terhadap kehidupan yang damai,” pungkasnya. [AH]

Baca juga Ketua Baznas Wajo: Kisah Penyintas Menggugah Kemanusiaan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016,...

Tantangan Mantan Amir JAD Kembali ke Jalan Perdamaian

Aliansi Indonesia Damai- Mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery mengaku menerima banyak tantangan saat hijrah dari pemikiran ekstrem ke pemikiran moderat (wasathiyah) dan kembali ke jalan perdamaian. “Dahulu kami terjerumus ke pemikiran radikal, terus kembali atau berubah pemikirannya,...

Takfir Harus Berdasarkan Dalil Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery, mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, mengaku dirinya pernah keliru dalam menetapkan vonis kafir (takfir) kepada orang atau kelompok lain yang memiliki pemahaman kegamaan berseberangan dengan dirinya maupun kelompoknya. Menurut dia, kelompok Jamaah Ansharud...

Memaknai Ulang Hari Kartini: Kesetaraan adalah Rasa Aman

Oleh Dina Diana, Pengajar Fakultas Hukum Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 20 April 2026 Setiap tahun kita merayakan Hari Kartini dengan semangat emansipasi, pendidikan, dan kemajuan perempuan. Di hari itu kita mengenang keberanian Ibu Kartini dalam mengekspresikan idenya tentang dunia yang lebih adil untuk...

Bersyukur Diberi Kesempatan Kedua

Aliansi Indonesia Damai- Andi Dina Noviana, penyintas bom terorisme Thamrin 2016, mengaku sangat bersyukur diberikan kesempatan kedua oleh Allah Swt. Meski tubuhnya terluka akibat terkena ledakan bom terorisme namun ia masih bisa selamat dan sembuh. Rasa bersyukur itu juga yang mendorongnya untuk bangkit dari keterpurukan akibat aksi...

Perjuangan Berdamai dengan Diri Sendiri

Aliansi Indonesia Damai- Butuh waktu dan proses yang panjang bagi Ni Luh Erniati untuk bisa menerima kenyataan pahit kehilangan suami dan tulang punggung keluarganya akibat aksi terorisme yang terjadi di Bali 12 Oktober 2002 silam. Suami Erniati, Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia akibat ledakan...

Menjaga Anak agar Tidak Mendendam

Aliansi Indonesia Damai- Para korban Bom Bali 2002, sangat berat memikul beban dan derita kehilangan sosok suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Hal itu dirasakan para korban selama bertahun-tahun seorang diri. Mereka pun terpaksa memikul peran ganda sebagai ibu sekaligus ayah bagi anak-anaknya. Hal itulah yang dirasakan salah satu...

Sepenuh Hati Menyejahterakan Guru

Oleh Nunuk Suryani, Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan Kemendikdasmen Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 April 2026 Era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serius menempatkan kesejahteraan guru menjadi salah satu prioritas utama. Kemudian Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti menjabarkannya lewat visi ”Guru Hebat,...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...