HomeOpiniPerjalanan Moralitas yang Terseok

Perjalanan Moralitas yang Terseok

Oleh Abrari Alzael
Mengajar Psikologi di INSTIK Annuqayah Sumenep

Di pos ronda, di mulut gang, para remaja menyaksikan siaran di layar televisi 42 inch. Lalu mereka protes apabila kenakalan hanya dialamatkan kepada pemuda. Mereka memberikan argumen, kenakalan juga diprakarsai kalangan orang tua. Maka pernyataan yang seolah terminologi kenakalan melekat pada kaum muda, menurut mereka terbantahkan.

Salah satu dari remaja memberi contoh, salah satu bupati, setelah paripurna, nyaris berkelahi dengan salah satu pimpinan DPRD, di kabupaten itu, di provinsi itu, di Indonesia. Bagi mereka, bupati adalah sebuah institusi di daerah kabupaten, stempelnya, menggunakan burung garuda sebagaimana juga Pancasila di dalam dasar. Pimpinan DPRD bernaung di bawah lembaga yang banyak orang menyebut institusi ini sebagai lembaga yang terhormat.

Baca juga Hukum dan Keadaban Publik

Apa yang disebutkan remaja tersebut, hanya salah satu tamsil kecil dari perjalanan moralitas yang terseok. Tiktok, yang dapat diakses siapa dan di mana saja, yang di dalamnya berisi tayangan yang menjauh dari nilai moral, mencerminkan terjadinya kemerosotan. Pergerakan hari demi hari, urusan moralitas ini semakin nagras terlihat yang melibatkan keluarga, tetangga, hingga ke domain yang lebih tinggi. Orang-orang terasa kian ambigu, untuk keinginan yang dianggapnya benar dengan cara mempertahankan eksistensinya. Satu organ ke organ lain, terang-terang sudah berani mengatakan apa yang hendak disampaikannya. Goblok, bodoh, kurang ajar, tidak beres, tidak becus, dan kata-kata yang kurang laik lainnya.

Ada beberapa faktor yang menyebabkan perilaku individu yang bernilai baik atau tidak baik. Pertama, lingkungan keluarga. Individu yang mendapat didikan baik di tengah-tengah keluarga, ia berpotensi menjadi baik di tengah keluarga itu sendiri. Baik dalam memperlakukan dirinya dan baik juga dalam memperlakukan anggota keluarga. Sebaliknya, individu yang tidak baik di tengah keluarga, ia berpotensi untuk tidak baik dalam memperlakukan dirinya dan begitu pula, berpotensi tidak baik saat memperlakukan orang lain.

Kedua, lembaga pendidikan bisa memberi warna bagi individu untuk menjadi baik dan atau tidak baik. Sivitas pendidikan memiliki kewajiban kolektif untuk memberi warna kebaikan, terutama di lingkungan pendidikan. Di fatsun ini, disadari para sivitas pendidikan pasti menjadi baik satu sama lain, walaupun, faktanya, terdapat oknum sivitas yang terbukti kasar (tidak baik) dalam memperlakukan sesama sivitas pendidikan.

Baca juga Kemerosotan Keadaban Publik dan Agama

Untuk sekadar menyebut contoh, oknum guru bertindak kasar dalam memberikan hukuman terhadap peserta didiknya. Oknum yang hanya sebagian sangat kecil ini, tiba-tiba meroket beritanya karena zaman ini sangat teknologi. Bahkan, terdapat keluarga peserta didik yang memidanakan oknum guru karena perilakunya tidak mencerminkan sebagai guru.

Terkait keluarga dan lembaga pendidikan ini, dianggap lebih baik apabila, guru dan keluarga peserta didik di rumah membangun komunikasi. Kebiasaan anak di rumah, oleh orangtua dilaporkan kepada pihak sekolah (wali kelas). Begitu juga, kebiasaan atau hal yang dilakukan anak di sekolah dicatat guru (wali kelas) untuk disampaikan kepada orang tua di rumah.

Catatan sambung ini dapat diketahui para pihak sehingga model pengarahan saat anak di sekolah dan di rumah dapat terkonfirmasi dengan baik. Namun fakta di lapangan, ada sekolah dan atau orang tua tertentu yang catatannya sendiri-sendiri. Akibatnya, kontinuitas kegiatan anak tidak terpantau secara maksimal.

Baca juga Hiperpolitik Demokrasi Digital Kita

Ketiga, pergaulan ikut menentukan arah kehidupan individu. Anak yang baik di rumah dan sekolah belum tentu menularkan kebaikan di tengah pergaulannya. Ini bergantung pada seberapa sering intensitas anak: apakah di rumah, sekolah dan atau di pergaulan itu sendiri.

Ketika fluktuasi anak determinan berada di lingkungan yang buruk dan lepas dari pengawasan orang tua dan sekolah, ada kemungkinan, anak menemukan dunia baru dan enjoyable baginya dan karena itu, anak merasa berada di zona nyaman. Maka, jika hal ini yang terjadi, orang tua dan sekolah tidak lagi menjadi lingkungan yang urgen bagi anak. Sebab, anak sudah menyiapkan alasan dalam perasaannya untuk tidak sesering mungkin berada di rumah dan sekolah.

Keempat, lingkungan kerja juga ikut menentukan arah keberlangsungan hidup individu. Di tempat kerja memungkinkan adanya tampilan yang baik atau tidak baik. Individu yang pada mulanya baik dan masuk ke lingkungan yang tidak baik dimungkinkan untuk menjadi tidak baik. Itu, apabila daya tahan (sebagai orang baik) terkalahkan oleh daya suai (terhadap lingkungan baru yang tidak baik). Dalam suasana batin itulah, individu akan mengalami uji adrenalin apakah akan menjadi baik di tengah suasana yang tidak baik atau ia menjadi lacur dan menikmati dalam kelacuran itu.

Baca juga Privilese

Kelima, pola konsumsi yang berpijak pada informasi teknologi (IT). Individu yang hari-harinya berpapasan dengan dunia IT yang selalu menampilkan kriminalitas dan menarik perhatiannya, memungkinkan individu untuk mencoba. Ketika percobaan pertama berhasil, merasa aman dan menyenangkannya, individu akan mengulangi dan terus ingin melakukannya, baik kepada korban yang sama maupun target yang berbeda. Sampai pada akhirnya, individu berurusan dengan pihak lain atau pihak yang berwajib. Selesai urusan dengan para pihak, individu yang deviatif tersebut bisa jadi jera atau kumat lagi sebagai balas dendam dari amarah yang terpendam.

Revitalisasi pendidikan moral

Dewasa ini, pendidikan moral tergeser oleh kehidupan yang serba materi. Seakan-akan, materi bisa menyelesaikan segala problematika kehidupan. Orang tua terkadang tidak berdaya menghadapi putra-putrinya yang sukses meniti karier. Bahkan, yang terjadi sebaliknya, orang tualah yang menurut terhadap keinginan anaknya (yang berkecukupan secara materi).

Problem anak, yang pada saat awal meniti karier tidak memiliki pola pikir yang seperti itu, berubah drastis. Bahkan, pada individu tertentu, orang tua dihardik dan dilarang mencampuri urusannya sebagai makhluk dewasa dan bergelimang harta. Namun, dalam situasi apa pun, anak adalah anak yang harus menaruh ketakziman luar biasa kepada orangtua.

Baca juga Pembangunan Karakter Melalui Buku Cerita Anak

Kejadian anak yang seperti itu, yang mengabaikan penghormatan, terjadi di banyak tempat di belahan negeri ini. Bahkan, di daerah tertentu, terdapat seorang keponakan yang gelap mata lalu menikam pamannya sendiri dengan alasan sang paman merasa tidak enak dengan ayam kesayangan, piaraan ponakannya. Ada juga anak yang menikam ayahnya sendiri karena sang ayah tidak membelikan sepeda motor, dan banyak lagi kisah pilu merujuk kepada ketiadaan moralitas individu di tengah keluarga. Individu yang tidak waras moral di dalam keluarga berpotensi menciptakan ketidakwarasan saat bersama anak lain dalam keluarga yang berbeda.

Persinggungan anak yang memperuncing perbedaan ini tumbuh subur sampai ketika pada suatu ketika anak tumbuh menjadi dewasa di ring politik, kekuasaan, bursa kerja, dan atau lainnya. Berbeda sedikit saja, berpotensi runcing bahkan anarkis. Anak kemudian tumbuh menjadi pribadi yang paling benar dan tidak menghormati pendapat yang berbeda.

Bahkan, dalam sebuah dialog di televisi, dalam sebuah acara, terdapat pemuda yang berdiskusi dengan salah seorang guru besar. Karena tidak setuju dengan pandangan guru besar tersebut, pemuda itu mengambil secangkir gelas berisi teh, dan disiramkan ke wajah profesor. Jutaan warga negara menyaksikan adegan itu. Jika profesor itu bukan ayahnya, setidaknya ia adalah orang tua yang harus dihormati karena lebih tua, dan lebih berilmu.

Baca juga Isra’ Mi’raj dan Kepekaan Empati Kita

Suasana kontemporer moral ini dari hari ke hari terasa kian mengalami kemajuan dari berbagai lini. Indikasinya, tren kecelakaan moral terjadi semakin sering, disubyeki oleh kalangan yang paling bawah hingga kelas papan atas. Namun, jika krisis moral ini sebagai sesuatu yang buruk, keburukan ini jelas saja tidak bisa dimusnahkan. Karena, panjang usia keburukan sama panjangnya dengan umur kebaikan.

Namun, para penegak moralitas ini dari berbagai aspek memiliki kewajiban untuk membuat kebaikan moral di ruang dan wilayahnya masing-masing, terutama di rumah, sekolah, pergaulan sosial, dan ruang kerja. Ini sebentuk ikhtiar kolektif dari para pihak agar derap merosotnya moralitas tidak semakin menggila, terutama di rumah dan sekolah.

Perilaku baik yang dilakukan secara terus-menerus akan menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang tertinggalkan akan menyebabkan ritualitas individu terganggu dan merasa bersalah. Seorang anak yang terbiasa bersalaman kepada orang tuanya sebelum berangkat ke sekolah akan merasa tidak enak hati jika tidak melakukan itu. Oleh sebab tidak enak hati, perasaannya akan dihantui sikap bersalah. Apabila di rentang berangkat hingga pulang menemui masalah, anak cenderung menyalahkan dirinya karena tidak menyalami orang tuanya sebelum berangkat ke sekolah. Memang sulit pada awalnya, tetapi ketika dipaksa, lalu akan terpaksa, dan pada akhirnya terbiasa, kemudian bisa bertata krama yang pijakannya adalah moralitas itu sendiri.

Baca juga Metanarasi Agama: Kegagalan Kelompok Ekstrem (Bagian 1)

Bagaimana dengan moralitas bangsa? Saat masih menjabat sebagai presiden, Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah mengandaikan setiap keluarga dan anggotanya memiliki akhlak yang baik di rumahnya. Gus Dur beralasan, anggota keluarga yang baik di rumah, lalu keluar dari rumah, ia berpotensi untuk menularkan kebaikan kepada anggota keluarga yang lain, di luar rumah.

Sebaliknya, individu yang tidak baik-baik saja di keluarganya, jika keluar rumah, berpotensi untuk menularkan ketidakbaikan kepada penghuni rumah di tempat yang lain. Di situlah terjadi persekongkolan untuk mufakat ”makar”. Ketidakbaikan itu, pada akhirnya menemukan sekutu-serdadu pada saat yang sama, dan berseteru dalam deru-debu berikut huru-haranya, di situ.

*Artikel ini dimuat di Kompas.id, 5 Maret 2022

Baca juga Metanarasi Agama: Kegagalan Kelompok Ekstrem (Bag.2)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...

Redefinisi Sukses Pendidikan

Oleh DS Priyarsono, Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Manajemen, Institut Pertanian Bogor Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 28 Juni 2026 Baru-baru ini di jagat maya beredar poster-poster pengumuman dari sejumlah SMA yang menampilkan prestasi para lulusannya. Yang menarik, prestasi yang ditampilkan bukan keberhasilan diterima di universitas...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 1)

Setiap orang butuh rumah. Baik dalam arti fisik, tempat di mana ia berasal dan menuju pulang, maupun secara substantif ruang di mana ia selalu diterima dan dicintai oleh keluarga. Choirul Ihwan, pria asal Madiun, Jawa Timur, ialah satu dari sekian orang yang merasa kehilangan rumah itu sejak...

Syariat Allah Memerintahkan Kebaikan

Aliansi Indonesia Damai- Syariat Allah Swt itu memerintahkan umat manusia untuk berbuat kebaikan bukan keburukan atau kejahatan. Siapa pun yang melakukan kejahatan atau keburukan maka telah melanggar syariat Allah Swt. Demikian pernyataan mantan Amir Jamaah Ansharud Daulah (JAD), kelompok pendukung ISIS di Indonesia, Iskandar Natsir alias Alexander Rumatery...

Tangguh Menghadapi Ujian

Oleh Nur Aliyah, pengasuh Ponpes Al-Muttaqin Pancasila Sakti Klaten* Dalam kehidupan ini, ujian dan cobaan adalah keniscayaan. Ia datang silih berganti, tanpa pernah memandang waktu, usia, atau status sosial. Sebagai muslim, kita diajarkan untuk tidak sekadar pasrah, melainkan tangguh. Namun, pertanyaan mendasarnya adalah: ketangguhan macam apa yang seharusnya...