HomeOpiniPembangunan dan Perdamaian

Pembangunan dan Perdamaian

Oleh Azyumardi Azra
Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

”Without peace there is no development, and without development there is no peace.”
(Jan Eliasson, Presiden Sidang Umum 60 PBB, 2005)

Pembangunan tetap masih menjadi agenda nasional. Sejak pembangunan nasional dalam berbagai bidang digerakkan pemerintahan Orde Baru mulai 1970-an, telah banyak kemajuan dan hasil pembangunan yang dinikmati warga. Tetapi, jelas Indonesia belum mencapai kemajuan seperti diharapkan. Dalam masa reformasi, di tengah era kebebasan politik, pembangunan nasional terus dilanjutkan oleh pemerintah yang silih berganti dengan intensitas berbeda-beda. Pemerintahan Presiden Jokowi dianggap memiliki distingsi prioritas utama pembangunan infrastruktur; jalan raya, jalan tol, jembatan, waduk, bandar udara, atau pelabuhan.

Apa sebenarnya tujuan pembangunan? Apa pula yang wajib dipenuhi pemerintah dalam melaksanakan pembangunan? Tujuan dan tolok ukur pembangunan nasional mesti berdasar tujuan negara Indonesia dengan merujuk Pembukaan UUD 1945 Alinea IV: ”…Membentuk suatu pemerintahan yang melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia, dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial”. Semua kewajiban itu harus dilaksanakan berdasar lima dasar yang disebut Pancasila.

Baca juga Perjalanan Moralitas yang Terseok

Jelas belum semua tujuan negara atau tujuan nasional dan tujuan pembangunan, seperti digariskan Pembukaan UUD 1945, tercapai sepenuhnya; bahkan dalam segi tertentu masih ”jauh panggang dari api”. Pemerintah, misalnya, belum bisa sepenuhnya melindungi segenap bangsa; masih banyak yang mengalami kesengsaraan, persekusi, intimidasi, dan kekerasan baik yang dilakukan aktor negara maupun aktor non-negara.

Ini terlihat dari kasus di Desa Wadas, Purworejo (8/2/2022), di mana sebagian warga menolak pengambilan batu andesit dihadapi aparat Polri dan TNI dengan ”kekuatan penuh”. Mereka dianggap menghalangi pembangunan Waduk Bener yang disebut Proyek Strategis Nasional. Daftar kasus kekerasan atas nama pembangunan semacam ini pasti bisa panjang.

Baca juga Hukum dan Keadaban Publik

Pembangunan —bahkan dengan embel-embel Proyek Strategis Nasional yang tidak terlalu jelas kriterianya— sering tidak memedulikan perdamaian dan kedamaian. Padahal, tujuan pembangunan nasional dalam Pembukaan UUD 1945 menggariskan, pemerintah berkewajiban menjalankan ketertiban; tidak hanya di dunia luas, juga di dalam negeri berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial.

Namun, pembangunan di lapangan sering mencerminkan kontradiksi dan ironi. Seharusnya pembangunan mementingkan perdamaian dan kedamaian dengan komunitas terkait karena niscaya tiada pembangunan tanpa perdamaian; dan pembangunan kemudian mesti menghasilkan perdamaian bagi warga seluruhnya. Pembangunan dengan perdamaian menghargai harkat, martabat, dan HAM warga.

Baca juga Kemerosotan Keadaban Publik dan Agama

Pembangunan dengan perdamaian perlu pendekatan yang mengutamakan metode dan cara damai. Pemerintah di negara demokrasi, seperti Indonesia, mesti menjalankan pembangunan yang inklusif pada aspirasi dan partisipasi warga. Indonesia bukan negara otoritarian, di mana pemerintah dapat memaksakan kemauan sendiri dengan pendekatan dan cara tidak damai. Pembangunan dengan dan untuk perdamaian mesti bergerak ke arah penciptaan keadilan ekonomi, politik, hukum, dan sosial budaya.

Dengan prinsip yang sama, pembangunan mesti mengembangkan suprastruktur yang kondusif dan suportif untuk menciptakan perdamaian bagi negara-bangsa. Pembangunan mestinya tidak memperkuat struktur ketidakadilan yang menindas atau menciptakan ekosistem tidak menunjang perdamaian, seperti kemiskinan, kepincangan ekonomi-sosial, dan pengangguran.

Baca juga Hiperpolitik Demokrasi Digital Kita

Penting diingat, Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs) PBB yang diadopsi Pemerintah Indonesia juga menekankan perdamaian. Dalam SDGs Nomor 16 dinyatakan: ”Mempromosikan masyarakat damai dan inklusif untuk pembangunan berkelanjutan, memberikan akses bagi keadilan untuk semua, dan membangun institusi akuntabel dan inklusif pada setiap level.”

Pembangunan bisa bermakna bagi kemanusiaan dan peradaban hanya jika menghasilkan perdamaian, bukan konflik antara pemerintah dan warga atau di antara satu kelompok warga dan kelompok warga lain. Pembangunan berkelanjutan bisa terwujud jika ada perdamaian; konflik dan kekerasan tidak bisa menghasilkan pembangunan yang memuliakan manusia dan lingkungan hidup.

Baca juga Privilese

Pemerintah mesti menghindari pembangunan yang melibatkan penggunaan intimidasi, koersi, persekusi, dan kekerasan yang cenderung tidak terukur. Praktik seperti ini tidak hanya melanggar UUD 1945 dan HAM sekaligus menjadi noda hitam dalam sejarah upaya memajukan negara-bangsa Indonesia.

*Artikel ini dimuat di kompas.id, 24 Februari 2022

Baca juga Pembangunan Karakter Melalui Buku Cerita Anak

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian,...

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...