HomeOpiniHiperpolitik Demokrasi Digital Kita

Hiperpolitik Demokrasi Digital Kita

Oleh: F Budi Hardiman
Guru Besar Filsafat di Universitas Pelita Harapan

Partisipasi politis telah berimigrasi dari semula berbagi opini di forum publik, koran, radio, televisi, dan demonstrasi di jalan ke tombol- tombol layar sentuh.

Tentu demonstrasi masih ada, tapi kali ini dibuat panas dan dikomando dari telepon cerdas. Politik tidak lagi menakutkan. Klik pada layar disangka tidak berisiko. Maka itu, sekarang segalanya, entah itu celetukan, keseleo lidah, atau umpatan, bisa ‘digoreng’ menjadi politis.

Dalam politik, kita memihak karena sedang memperjuangkan kepentingan. Politik memang terdiri atas persepsi kepentingan sehingga tak ada satu benda pun di muka bumi ini yang netral di bawah sorot mata politik. Karena itu polarisasi saat Pemilu Presiden 2019 yang waktu itu sanggup mengganggu persahabatan dan bahkan membelah keluarga bisa diteruskan ke mana-mana.

Baca juga Privilese

Presiden yang menang sudah merangkul kubu tandingannya. Seharusnya polarisasi berhenti dan segera diganti deliberasi. Sayang sekali, hal itu tidak kita dapatkan. Polarisasi elektoral dilanjutkan dalam bentuk oposisi informal di media-media sosial. Rupanya itulah demokrasi digital kita saat ini.

Dalam negara hukum demokratis, polarisasi tak perlu abadi karena pada akhirnya harus berlabuh pada keputusan hukum yang dipatuhi bersama. Negara hukum dan demokrasi itu komplementer. Negara hukum membutuhkan demokrasi agar tidak tiranis, dan demokrasi membutuhkan negara hukum agar tidak anarkis. Pilpres berakhir, pemerintahan baru menjalankan programnya, dan semua pihak yang pernah bertarung harus mendukungnya.

Baca juga Pembangunan Karakter Melalui Buku Cerita Anak

Demokrasi perlu dijaga oleh hukum. Politik pascapemilu harus memiliki wajah lain: tak terobsesi untuk menggulingkan kekuasaan yang sah, melainkan untuk mengawasinya dalam koridor hukum. Politik seperti itu bisa tetap agonistis, tetapi dalam rangka perbaikan.

Menghancurkan wajah lawan

Kondisi lapangan tentu berbeda. Suara politis sering diredam oleh prosedur dan sistem yang kaku. Kehendak untuk beroposisi pun menemukan ruang-ruang kebebasan baru yang nyaris tanpa dinding, yakni media-media sosial. Di situlah kekecewaan dan ketidaksukaan terhadap lawan politis dilolongkan keras-keras beyond good and evil. Lolongan tidak perlu benar, tetapi harus kontroversial, sensasional, dan ekstrem agar merebut perhatian di tengah luapan informasi. Target mereka: menghancurkan wajah lawan lewat gawai.

Agaknya demokrasi digital kita membenarkan pendapat ahli hukum Nazi, Carl Schmitt. Yang politis dihasilkan dari dikotomi kawan dan lawan. “Setiap pertentangan agama, moral, ekonomi, etnis atau lain-lainnya,” tulisnya, ”berubah menjadi pertentangan politis, jika ia cukup kuat secara efektif mengelompokkan orang-orang menurut kawan dan lawan.” Jika terjadi di saat kampanye pilpres yang notabene semacam permainan untuk suksesi damai, hal itu masih wajar. Peluit KPU bisa ditiup.

Baca juga Isra’ Mi’raj dan Kepekaan Empati Kita

Kawan dan lawan dalam kampanye ada dalam bentuk kompetisi, bukan permusuhan. Namun di negeri kita, dikotomi itu tidak berhenti setelah pilpres. Pertentangan kawan dan lawan melebar ke mana-mana, termasuk agama, politik, kebudayaan, dan kebijakan.

Mengapa hal itu terjadi? Mungkin karena gairah oposisi yang tinggi? Mungkin karena ketidakpuasan yang tersumbat? Banyak mungkin lainnya. Namun satu hal yang cukup jelas: konten-konten media sosial berkontribusi untuk polarisasi berkepanjangan itu. Polarisasi adalah hal yang sensasional dan kontroversial, maka bisa selalu menarik mata untuk menatap layar ponsel.

Di layar itu kita tidak lagi menghadapi politik biasa, melainkan hiperpolitik. Dalam politik demokratis pertarungan kawan dan lawan masih dibatasi bingkai sistem negara hukum. Namun dalam hiperpolitik bingkai itu dilepas. Hiperpolitik melebarkan dikotomi itu sampai ke pertarungan Weltanschauung (wawasan dunia).

Baca juga Metanarasi Agama: Kegagalan Kelompok Ekstrem (Bagian 1)

Lawan dalam politik itu wajar karena orang sedang bersaing untuk kekuasaan. Namun hal itu menjadi berlebihan, kalau lawan itu dipersepsi sebagai musuh agama. Dikotomi kawan dan lawan sudah tersedia dalam kitab-kitab suci.

Lawan di situ berasal dari zaman kitab-kitab itu ditulis, tapi permusuhan yang terkandung di dalamnya dipelihara lewat khotbah-khotbah. Di situ bukan hanya ada Yahudi, orang kafir, tetapi juga setan. Hal-hal itu bisa menjadi kategori-kategori lentur yang bisa memuat apa pun yang tidak disukai atau berbeda kepentingan. Umat agama lain, lawan politik, pemerintah, dan bahkan NKRI bisa masuk ke sana. Di tangan para ekstremis, agama dipakai sebagai sumber hiperpolitik. Yang sakral didegradasi menjadi alat bagi naluri kekuasaan.

Masalahnya, warga biasa sulit mengambil jarak terhadap agamanya. Agama menjadi identitas bagi mereka. Dikotomi kawan dan lawan tidak hanya beroperasi di kepala, melainkan juga di hati. Jika demagogi para ulama ekstremis hinggap di kepala mereka, hati mereka menyambutnya juga. Membenci musuh dan produknya adalah proyek hiperpolitis.

Baca juga Metanarasi Agama: Kegagalan Kelompok Ekstrem (Bag.2)

Namun kita harus hati-hati. Kalau kita mulai melihat setan pada barang atau orang konkret akibat demagogi para ekstremis itu, setan itu sebetulnya sudah bercokol di mata kita, bukan pada barang atau orang yang kita lihat.

Sebagaimana hiper-hiper yang lain, ada rasa ketagihan atau kemelekatan yang diidap. Obsesi itu memiskinkan persepsi. Kalau pengidap hiperseks gandrung seks, pengidap hiperpolitik gandrung politik, sehingga tidak sanggup mempersepsi hal-hal yang non-politis. Semua, entah itu orang atau barang, mau dilihat dalam kategori kawan atau lawan. Lebih daripada sekadar perbedaan pendapat, hal itu melibatkan sesat pikir dan bahkan gangguan psikis.

Bahaya hiperpolitisasi nyata. Apa yang semula berupa pesan, video, dan gambar, kemudian muncul di depan kita sebagai aparat sipil negara, mahasiswa, siswa atau bahkan pasangan kita. Mereka bukan avatar. Sudah lama internet jadi media radikalisme. Tapi bahaya bukan hanya soal radikalisme agama yang pasti merusak toleransi dan solidaritas nasional. Hiperpolitisasi juga bisa mengganggu kebijakan pemerintah yang dimaksudkan untuk kesejahteraan rakyat.

Baca juga Metanarasi Agama: Kegagalan Kelompok Ekstrem (Bag.3)

Sebetulnya kontroversi kebijakan itu wajar dan bahkan perlu dalam demokrasi. Namun jika calon kebijakan kurang cukup dideliberasikan secara publik, akan ada celah untuk dihiperpolitisasikan oleh oposisi-oposisi informal di media-media sosial.

Dulu kontroversi Undang-Undang (UU) Cipta Kerja berujung pada demonstrasi yang rusuh. Baru-baru ini ada kasus Wadas yang terkait proyek Bendungan Bener. Fakta menjadi keruh oleh banyaknya kepentingan dan berita simpang siur di media-media sosial menempatkan pemerintah sebagai rezim yang lalim. Hiperpolitisasi membuat mata tidak jernih melihat persoalan. Semua mau diulur ke soal politis sampai ke Pilpres 2024, padahal banyak yang harus diselesaikan secara teknis, hukum, dan sosial-ekonomis sekarang ini.

Alihkan mata ke realitas

Sebaiknya alihkan mata dari layar ke realitas. Salah satu penyebab hiperpolitisasi adalah kurangnya interaksi korporeal. Di luar layar ada banyak hal non-politis dan non-religius. Alamilah jeda hening yang menyadarkan betapa jauhnya kita salah mempersepsi mereka. Kolega, tetangga, pasangan, orang partai lawan bukanlah politik.

Mereka bukan – pinjam istilah Rorty – “orang dari jenis keliru” yang distigma lewat konten digital sebagai “kafir”, “komunis”, “cebong” atau “kadrun”. Seperti juga kita, mereka adalah pribadi-pribadi konkret yang punya banyak sisi, tetapi juga bisa terluka.

Baca juga Metanarasi Agama: Kegagalan Kelompok Ekstrem (Bag. 4-terakhir)

Untuk mengurangi hiperpolitisasi perbanyaklah interaksi korporeal (saat ini pakai protokol kesehatan). Mungkin perlu forum dialog restoratif untuk memerkuat komitmen kebangsaan kita. Deliberasi publik dan pembukaan kanal-kanal komunikasi antara pemerintah dan civil society perlu diperbanyak. Untuk mengurangi oposisi liar, perlu ditimbang kemungkinan institusionalisasi oposisi agar mekanisme check and balance berjalan dengan keadaban publik. Akhirnya, etika komunikasi digital perlu diberikan sejak SD, bahkan jika perlu masuk kurikulum kita.

Jadi, baliklah cepat-cepat ke realitas, sebelum hiperpolitik membelah republik kita yang nyata ini.

*Artikel ini terbit di Kompas.id, Selasa, 22 Februari 2022

Baca juga Istikamah dalam Perdamaian: Support System untuk Mendukung Pertobatan Mantan Pelaku

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang...

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id...

AIDA Gelar Halaqah Alim Ulama di Medan

Aliansi Indonesia Damai- Sebanyak 117 tokoh agama dari kalangan pesantren, muballigh, dewan kemakmuran masjid, pengurus ormas Islam dan akademisi kampus Islam di Kota Medan, Sumatera Utara dan sekitarnya mengikuti Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” Rabu (12/08/2026). Halaqah diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA)...

Merdeka dengan Jiwa Besar

Oleh Yudi Latif, Cendekiawan dan Budayawan Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Agustus 2026 Setelah delapan puluh satu tahun Indonesia merdeka dari penjajahan, pertanyaan esensial masih menghantui kesadaran eksistensial: apakah bangsa ini telah sungguh-sungguh merdeka? Pertanyaan itu mengemuka bukan untuk mengecilkan makna Proklamasi, melainkan untuk menghormatinya....

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...