HomePilihan RedaksiBerdamai dengan Trauma: Kebangkitan...

Berdamai dengan Trauma:
Kebangkitan Penyintas Bom Thamrin (Bag. 1)

“Trauma bukan salah saya, tapi sembuh adalah tanggung jawab saya,” ucap Andi Dina Noviana memungkasi kisahnya di hadapan puluhan petugas lembaga pemasyarakatan dari berbagai daerah di Indonesia.

Andi Dina Noviana atau Andin, penyintas Bom Thamrin 2016, menuturkan musibah yang menimpanya dan ikhtiar penyembuhan dirinya,  secara fisik maupun psikis, dalam Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Petugas Pemasyarakatan. Kegiatan digelar AIDA bekerja sama dengan Ditjen Pas Kemenkumham pada akhir Maret lalu.

Baca juga Sepenggal Kisah Penyintas Bom Thamrin, Deni Mahieu: Mensyukuri Kesempatan Hidup Kedua

Pagi hari 14 Januari 2016 Andin sedang menikmati sarapan sambil mengerjakan tugas-tugas kantornya di salah satu coffe shop kawasan Jalan MH. Thamrin, Jakarta Pusat.

Dua pekan di awal tahun adalah waktu terpadat di tempatnya bekerja. Maklum Andin menjadi salah satu karyawati agensi digital marketing, sehingga harus mempersiapkan berbagai persiapan promosi untuk memenuhi permintaan client. Padatnya pekerjaan membuatnya diperbolehkan menyelesaikannya dari mana saja.

Perempuan keturunan Bugis tersebut ingat betul, ia baru saja berpindah kursi lantaran colokan listrik di tempat awalnya tidak berfungsi. Namun saat hendak mencolokkan handphone untuk dicas tiba-tiba terjadi ledakan. Saat membuka mata, suasana kacau. Tubuhnya tertimpa plafon.

Baca juga Afirmasi Diri: Kisah yang Menjelma Makna dan Kata-kata

“Saya reflek mengecek tangan saya.Satu, dua, tiga, empat, lima, saya hitung jari-jari saya, masih utuh,” ungkap Andin.

Ia berusaha bangun dengan pemandangan sekitar penuh darah. Banyak orang terluka. Dia berusaha keluar dari restoran lewat jendela yang pecah. Ia menyebut dirinya loncat bagai Spiderman, karena harus melewati tingginya pagar yang kurang lebih 2 meter. Walhasil ia terjatuh saat mendarat. Saat berusaha berdiri lagi, terjadi ledakan susulan dari arah pos polisi, sehingga Andin terjatuh kembali.

“Ngiuuuuungg, telinga saya bunyinya begitu. Saya melihat orang seperti teriak, lari… lari…, tapi nggak dengar suaranya. Duh ini kenapa?” ujar Andin mengenang situasi kritis yang dialaminya.

Baca juga Berdakwah di Era Digital

Ia lantas ditolong secara sukarela oleh sopir taksi yang kebetulan berada di dekat lokasi kejadian. Andin melihat bajunya robek-robek. Tubuhnya penuh darah bercampur dengan debu. “Mirip di film-film,” katanya.

Sopir taksi tersebut mengantarkan Andin dan beberapa korban lainnya ke fasilitas kesehatan terdekat, yaitu rumah sakit bersalin di kawasan Menteng. Beberapa Ibu hamil histeris melihat kondisi Andin dan korban lain yang turun dari taksi.

“Tenang, Mbak, ini lukanya hanya perlu tiga jahitan kok,” ujar Andin mengingat perkataan dokter yang menanganinya. Saat diminta berbaring miring, darah terus mengalir dari badannya. Ternyata tidak sekadat dijahit, namun lebih dari itu, Andin mendapatkan tindakan operasi.

Baca juga Mengenal Simbol-Simbol Perdamaian

Rasa sakit teramat perih harus dirasakan Andin saat dilakukan pembersihan tangannya dari serpihan kaca dan pasir yang melekat di kulit. Menurut dokter, tangan tidak boleh dibius karena banyak saraf.

Sang kakak yang membesuknya di rumah sakit sempat shock melihat sebuah tabung berisi serpihan kaca yang cukup banyak. Kaca-kaca tersebut semua berasal dari tubuh Andin. “Saya ingat diberitahu, tebal serpihan kacanya 3,5 cm,” ucapnya.

Beberapa minggu setelah musibah itu ia sulit berjalan. Bahkan setelah cedera fisiknya sembuh, secara psikis ia masih mengalami trauma yang mendalam hingga harus mengonsumsi obat penenang secara rutin selama kurang lebih delapan bulan lamanya. Dari sekian terapi yang dilakukannya, ia berkesimpulan bahwa obat yang paling ampuh adalah keikhlasan. (bersambung)

Baca juga Membaca Ayat-Ayat Kauniyah Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal...

Terorisme Nyata Adanya

Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...

Belajar (Kembali) Menghormati Bahasa

Oleh Acep Iwan Saidi, Guru Besar Semiotika Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Oktober 2026 Pada usianya yang ke-98 tahun sejak dideklarasikan sebagai bahasa persatuan Indonesia melalui Sumpah Pemuda (28 Oktober 1928), bahasa Indonesia menunjukkan sosok yang paradoks. Dari sisi...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....