HomeInspirasiAspirasi DamaiSupport System Melewati Derita...

Support System Melewati Derita (Bag. 1)

Aliansi Indonesia Damai- “Pesan saya, siapa pun yang sedang mengalami trauma, depresi, dan masalah mental, jadilah support system terbaik untuknya. Karena alhamdulillah support system obat yang paling berguna,” ujar Andi Dina Noviana atau akrab disapa Andin, penyintas Bom Thamrin 2016, dalam salah satu kegiatan AIDA.

Andin mengaku pernah mendapatkan perlakuan kurang mengenakkan dari salah seorang rekan kerjanya usai menjadi korban ledakan bom. Saat trauma psikisnya tiba-tiba kambuh saat bekerja di kantor, sejumlah kolega Andin malah mencibirnya, baik secara verbal maupun bahasa tubuh. Ia dianggap berlebihan. Walhasil ia memutuskan untuk resign dari tempat kerjanya.

Baca juga Mengasihi Diri bukan Mengasihani Diri (Bagian 1)

Berdasarkan pengalaman pribadinya, Andin menegaskan pentingnya support system atau dukungan dari orang-orang di sekitar kepada penderita trauma psikis. Support system berasal dari individu yang memberikan dukungan, rasa hormat dan perhatian kepada individu lainnya. Support System berasal dari orang-orang yang dekat dengan kita atau sering berkomunikasi dan selalu jadi orang pertama untuk berkeluh kesah. Pasangan, suami, sahabat, orang tua adalah yang biasanya menjadi support system dalam kehidupan.

Selain itu, support system juga bisa berasal dari komunitas yang mempunyai minat yang sama, mempunyai empati, dan kita juga bisa merasakannya. Kehadiran mereka akan mendukung individu melalui perasaan-perasaan kalut dengan lebih tegar, sabar, dan ikhlas.

Baca juga Mengasihi Diri bukan Mengasihani Diri (Bagian 2)

Kehadiran support system sangat bermanfaat bagi penderita trauma psikis untuk melewati masa-masa sulit dalam hidupnya. Ida N. Faizah, psikolog dari Universitas Gadjah Mada, mengatakan bahwa support system dapat membuat individu lebih termotivasi melewati masa-masa sulit dalam hidupnya. Karena hal tersebut membuat orang lebih tahu tujuan dan fokus, hingga akhirnya memacu penderita trauma untuk terus belajar, berkembang, dan menemukan solusi dari masalah yang dihadapi.

Selain itu menurut Ida, support system membuat individu merasa nyaman dalam kondisinya yang sulit. Dalam situasi tertentu, pikiran individu cenderung diliputi kecemasan dan penuh hak-hal negatif. Kehadiran orang-orang yang dianggap sebagai support system akan membuat individu mendapatkan rasa nyaman kembali dan  melewati perasaan berkabut tersebut.

Baca juga Mengasihi Diri bukan Mengasihani Diri (Bagian 3)

Tidak salah bila peran orang-orang yang menjadi support system dalam kehidupan Andin dan penyintas bom lain menjadi obat mujarab.  Mereka bisa melalui masa-masa kritis usai menjadi korban dari aksi kekerasan yang tak pernah disangkanya sama sekali. [MSH]

Baca juga Menguatkan Anak Korban Terorisme

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Urgensi Pendidikan Perdamaian

Oleh: Muhammad Saiful HaqLulusan Fakultas Psikologi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Salah satu...

Menyemai Empati untuk Mengekalkan Perdamaian

Empati merupakan salah satu unsur penting dalam membangun perdamaian dan harmoni...

Trauma dan Potensi Kekerasan yang Meluas

Oleh: Muhammad Saiful Haq,Master Psikologi dari UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Salah satu...

Argumentasi Agama Perdamaian

Islam merupakan salah satu agama dengan jumlah pemeluk  terbesar di dunia....

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...

Semua Anak adalah Kita

Oleh David Krisna Alka, Alumni Magister Ilmu Antropologi Universitas Indonesia, Kader Muhammadiyah Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Anak Indonesia hari ini tumbuh dalam dua ruang yang nyaris tak bertepi. Pertama adalah ruang fisik seperti rumah, sekolah, dan lingkungan bermain. Kedua, ruang digital...

Bom Sekolah: Fenomena Pasca-ideologis atau Ancaman Teror Baru

Oleh Stanislaus Riyanta, Dosen Kajian Ketahanan Nasional, Sekolah Pascasarjana Pembangunan Berkelanjutan, Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 23 Juli 2026. Spektrum keamanan nasional Indonesia sedang mengalami anomali paradigmatik yang menuntut perhatian bersama. Sepanjang akhir tahun 2025 hingga pertengahan 2026, tiga insiden ledakan terjadi di lingkungan...

Berusaha Tegar dalam Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarga menjadi pukulan sangat berat bagi Ni Luh Erniati, salah satu janda korban bom Bali 2002. Suami Ni Luh Erniati, I Gede Badrawan menjadi salah satu korban meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta Bali,...

Perdamaian Harus Dijaga

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Bali 2002, Ni Luh Erniati mengajak generasi muda untuk terus menjaga perdamaian. Menurut dia perdamaian harus tetap dijaga karena perdamaian itu indah. “Untuk bisa menjaga perdamaian diperlukan kesabaran. Kita harus mampu berdamai dengan diri sendiri, berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan lingkungan,”...

Guru, Pekerjaan atau Profesi?

Oleh Anindito Aditomo, Chen Yidan Fellow, Harvard Graduate School of Education; Pengajar Program Doktoral Psikologi Universitas Surabaya Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 18 Juli 2026 Anak bungsu saya memasuki halaman sekolah dengan langkah kecil yang diberani-beranikan. Maklum, pagi di pengujung musim panas itu adalah hari pertama...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...