HomeInspirasiAspirasi DamaiArgumentasi Agama Perdamaian

Argumentasi Agama Perdamaian

Islam merupakan salah satu agama dengan jumlah pemeluk  terbesar di dunia. Sejatinya Islam adalah agama yang sangat menjunjung tinggi perdamaian dalam kehidupan, meskipun akhir-akhir ini seringkali dipersepsikan secara keliru. Beberapa media massa menyebutnya dengan istilah islamophobia. Penganut stigma itu menganggap bahwa Islam tidak mendukung nilai-nilai perdamaian.

Kenyataannya, banyak penelitian menunjukkan bahwa Islam adalah agama yang menekankan perdamaian dan kasih sayang. Misalnya Ahmed (2016) dalam jurnal Islamic Perspectives on Peace and Conflict menyimpulkan bahwa perdamaian bukan hanya tujuan, tetapi juga cara hidup yang diajarkan dalam setiap aspek ajaran Islam. Penelitian ini menyoroti bahwa Islam tidak hanya mengajarkan perdamaian dalam konteks sosial, tetapi juga dalam kehidupan pribadi dan spiritual.

Al-Qur’an sebagai kitab suci Islam memberikan banyak petunjuk mengenai pentingnya perdamaian. Salah satu ayat yang menegaskan nilai ini adalah QS. Al-Anfal ayat 61 yaitu “Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya dan bertawakallah kepada Allah.”

Baca juga Pentingnya Membudayakan Perdamaian Sejak dalam Pikiran

Ayat ini menunjukkan bahwa umat Islam didorong untuk memilih perdamaian, meskipun dalam situasi konflik yang membara. Ini mengindikasikan bahwa perdamaian adalah bagian tak terpisahkan dari Islam. Banyak cendekiawan muslim yang menegaskan hal tersebut. Berikut beberapa di antaranya:

1. Imam Al-Ghazali (Ihya Ulumuddin, Jilid 3, Halaman 145):

    “Perdamaian adalah sesuatu yang sangat mulia, dan seseorang yang menyebarkan kedamaian sesungguhnya menyebarkan cinta dan kasih sayang.”

    2. Ibnu Qayyim Al-Jawziyyah (Madarij As-Salikin, Jilid 2, Halaman 308):

      “Orang yang memaafkan kesalahan orang lain adalah orang yang paling beruntung, karena hatinya bersih dari dendam dan kebencian, dan jiwanya tenang.”

      Baca juga Memaafkan, Melampaui Derita

      3. Hadits Nabi Muhammad dalam Shahih Bukhari, Kitab Adab, Hadits No. 6114; Shahih Muslim, Kitab Al-Birr, Hadits No. 2609):

        “Bukanlah yang kuat itu yang mampu mengalahkan lawannya, namun yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.”

        4. Ali bin Abi Thalib (Nahjul Balaghah, Halaman 632):

          “Bila kau mampu memaafkan, maka lakukanlah, karena maaf adalah pengampunan yang paling mulia.”

          Berdasarkan uraian di atas, penulis menegaskan bahwa Islam adalah agama yang menempatkan perdamaian sebagai nilai inti. Sehingga kita sebagai umat Islam seharusnya wajib mengupayakan perdamaian dalam kehidupan sehari-hari agar tercipta harmoni di lingkungan kita.

          Baca juga Menjaga Keharmonisan di Tengah Masyarakat

          Most Popular

          LEAVE A REPLY

          Please enter your comment!
          Please enter your name here

          More from Author

          Urgensi Pendidikan Perdamaian

          Oleh: Muhammad Saiful HaqLulusan Fakultas Psikologi Pascasarjana UIN Syarif Hidayatullah Salah satu...

          Menyemai Empati untuk Mengekalkan Perdamaian

          Empati merupakan salah satu unsur penting dalam membangun perdamaian dan harmoni...

          Trauma dan Potensi Kekerasan yang Meluas

          Oleh: Muhammad Saiful Haq,Master Psikologi dari UIN Syarif Hidayatullah Ciputat Salah satu...

          Memaafkan, Melampaui Derita

          Memaafkan adalah proses yang rumit dan mendalam. Tidak sekadar ucapan “aku...

          Fathudin, Sempat Euforia Ada Amaliyat (Bag. 2)

          Mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, membuka suara mengenai dinamika internal, aliran dana, hingga strategi teror yang pernah dijalankan oleh kelompoknya. Pengakuan ini disampaikannya dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, pada September...

          Jangan Pernah Lelah Mencintai Indonesia

          Oleh: Sri Mulyani Indrawati Ekonom; Akademisi; Ketua Bersama Independen (Independent Co-Chair) untuk Asosiasi Pembangunan Internasional (International Development Association/IDA) ke-22 di Bank Dunia (World Bank); Menteri Keuangan RI (2005-2010; 2016-2024; 2024-2025) ”Jangan pernah lelah mencintai Indonesia.” Kalimat ini sering saya ucapkan dalam berbagai kesempatan. Mencintai Indonesia memerlukan ketahanan, kesabaran,...

          Pendidikan, Masa Depan Pemuda dan Bangsa

          Oleh Abdul Mu'ti, Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Ketika para pendiri bangsa merumuskan Undang-Undang Dasar 1945, mereka menegaskan bahwa kemerdekaan bukanlah tujuan akhir. Kemerdekaan adalah awal perjalanan panjang bangsa untuk mewujudkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan berperan nyata dalam mewujudkan tata kehidupan dunia yang damai. Untuk itu,...

          Membela Negara Kewajiban yang Mulia

          Aliansi Indonesia Damai- Cinta dan membela negara atau tanah air adalah kewajiban yang mulia bagi seluruh anak bangsa, termasuk umat muslim. Sebab membela negara itu bagian dari agama. Demikian ditegaskan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian...

          Menjadi Pilar Damai: Peran Santri untuk Indonesia

          Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan ini ditetapkan pemerintah/negara untuk mengenang peran para ulama dan santri dalam memperjuangkan serta mempertahankan kemerdekaan Indonesia, yang merujuk pada peristiwa Resolusi Jihad oleh KH Hasyim Asy'ari pada 22 Oktober 1945. Namun, hari Santri Nasional bukan sekadar seremoni tahunan untuk...

          Urgensi Revitalisasi Pendidikan Karakter Bangsa

          Oleh Anas Hidayat Penulis Dosen Program Doktor Ilmu Manajemen di FBE UII (Profesor, PhD) dan Mutasyar PCNU Kota Yogyakarta Indonesia sedang menghadapi sebuah paradoks besar. Di satu sisi, kemajuan pendidikan, teknologi, dan ekonomi telah melahirkan generasi yang semakin terampil, cerdas, dan mampu bersaing dalam dunia modern. Namun,...

          Fathudin, Awal Mula Bergabung Jemaah Islamiyah (Bag. 1)

          Sebuah pengakuan yang jujur disampaikan oleh mantan anggota Jemaah Islamiyah (JI), Fathudin, dalam kegiatan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama yang digelar Aliansi Indonesia Damai (AIDA) di Kota Medan, Sumatera Utara, Kamis (17/9/2026). Di hadapan para tokoh agama, ia membagikan kisah perjalanan hidupnya yang “terjebak” dalam...

          Perang Arab Saudi Versus Houthi

          Di saat perang besar Amerika Serikat-Israel melawan Iran dan proksinya, Arab Saudi justru berperang terpisah melawan kelompok Houthi di Yaman. Secara kasatmata, perang Arab Saudi versus Houthi dimulai 13 Juli 2026 ketika pelayat Houthi yang baru datang dari acara pemakaman Ayatollah Ali Khamenei di Iran akan mendarat di...

          Sepakat pada Pokok, Berbeda pada Partikular

          Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengajak umat Islam untuk bersepakat pada yang ushul (pokok) dan berbeda pada hal-hal yang partikular. “Kalau kita ngumpulin perbedaan-perbedaan, tidak ada ujungnya. Kenapa kita tidak bersepakat pada yang pokok, yang ushul, dan kita dibiarkan berselisih,...

          Akhir Perang AS-Israel Versus Iran

          Hingga hari ini (19/10), belum ada tanda-tanda perang Amerika Serikat (AS)-Israel melawan Iran akan segera berakhir. Bukan karena tidak ada pihak yang ingin perang ini berakhir, melainkan karena perang ini berjalan liar dan tidak sesuai dengan rencana awal. Dilihat dari pernyataan sebagian elite kedua negara,...

          Joki Baca Buku dan Ilusi Intelektualitas

          Oleh Arya Wijaya Pramodha Wardhana, Pegiat Minat Baca; Dosen Departemen Informasi dan Perpustakaan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Airlangga Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 17 Oktober 2026 Jasa joki baca buku ramai dibicarakan di Threads pada awal Oktober 2026. Seorang pengguna menawarkan jasa membaca buku...

          Terorisme Nyata Adanya

          Aliansi Indonesia Damai- Jika ada yang beranggapan terorisme itu konspirasi dan rekayasa pemerintah, maka pernyataan tersebut tidak benar. Terorisme benar nyata adanya. Demikian dinyatakan Mulyono, penyintas korban bom Kuningan 2004 dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia Damai (AIDA) bekerja sama dengan...