HomeBeritaPesan Ketua MUI untuk...

Pesan Ketua MUI untuk Tokoh Agama Riau

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menggelar kegiatan Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan Ibroh” di Pekanbaru, Riau, pada akhir Mei 2022 lalu. Kegiatan diikuti oleh para tokoh agama Islam di provinsi Riau.

Bergabung secara daring dalam kegiatan tersebut adalah Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Bidang Dakwah dan Ukhuwah, K.H Muhammad Cholil Nafis. Ia merasa bahagia dengan pertemuan itu. Pasalnya berkumpulnya ulama adalah bentuk kepedulian terhadap bangsa, sekaligus wujud pelayanan kepada umat.

Baca juga Menyambung Lidah Perdamaian

“Jadi ulama mempunyai kepentingan untuk mengabdi kepada umat. Tidak sekadar intelek, tapi ketika bicara ulama, lebih pada sifatnya tugas-tugas keumatan. Tidak cukup kita menjadi orang saleh, tapi menjadi muslih. Tidak cukup kita menjadi orang baik, tapi harus memperbaiki orang lain,” tuturnya.

Selain menjadi pembimbing umat, dalam hemat Cholil, ulama juga harus menjadi sodiqul hukumah, alias mitra pemerintah. Ulama tidak seharusnya memusuhi pemerintah, apalagi mengajak umat untuk melakukan hal yang sama. Jika memang ada hal-hal yang kurang disepakati, sebaiknya disampaikan dengan kritik yang tujuannya untuk kebaikan, bukan memupuk kebencian. Cholil menyayangkan terjadinya perpecahan di kalangan umat akibat persoalan semacam itu.

Baca juga Korban dan Kerusakan Akibat Terorisme

“Yang menjadi ancaman bagi kita akhir-akhir ini adalah persoalan ukhuwah. Baik ukhuwah Islamiyah, clash antarumat Islam, maupun ukhuwah wathaniyah, ukhuwah kebangsaan kita. Yang banyak salah paham di antara kita adalah soal memaknai ukhuwah wathaniyah ini, bahwa bernegara itu harus homogen, hanya ada satu agama, (yaitu) Islam saja,” ucap Cholil.

Pandangan tersebut menimbulkan implikasi serius bagi relasi antar anakbangsa. Bagi yang tidak bisa menerapkan Islam secara utuh, maka akan dianggap tidak Islam. Mereka mencari celah untuk melebarkan perbedaan. Padahal menurut Cholil, ketika Rasulullah SAW mendirikan Negara Madinah, pasal pertama yang tercantum dalam konstitusi bernama Piagam Madinah kala itu berbunyi “innahum ummatun wahidatun min dunin nas” yang artinya mereka adalah umat yang satu.

Baca juga Membalas Ketidakadilan dengan Kekeliruan

“Oleh karena itu pilihan kita menjadi NKRI itu sudah sangat dekat dengan negara Madinah pimpinan Rasulullah. Indonesia dengan UUD 1945-nya mirip dengan Piagam Madinah. Jadi sebenarnya negara kita ini sudah sesuai ajaran Islam. Bahwa ada kekurangan, pelanggaran, atau maksiat, di situlah kewajiban kita (untuk) amar ma’ruf nahi munkar,” katanya.

Cholil mendorong para tokoh agama Riau untuk mengambil ibroh dari apa yang marak terjadi saat ini. Masih banyak yang salah dalam memahami konteks negara Islam, sampai-sampai berani menjadi martir bunuh diri. Baginya, perjuangan umat Islam seharusnya menghidupkan, bukan mematikan. Indonesia saat ini sudah berada dalam suasana yang aman. Keamanan itu harusnya dijaga, bukan malah dikacaukan dengan aksi-aksi kekerasan.

Baca juga Dialog Tokoh Agama Wajo dengan Mantan Napiter

Mengutip Al-Mawardi, penulis Al-Ahkam Al-Sulthaniyah, Cholil menjelaskan bahwa tugas bernegara adalah meneruskan misi kenabian, yaitu menjaga agama dan stabilitas sosial. Ketentraman akan tercipta dengan persatuan dan persaudaraan. Di situlah pentingnya merangkai ukhuwah islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah basyariyah.

“Terakhir, saya ingin menyampaikan bahwa agama dan negara bagaikan dua saudara kembar. Kita tidak boleh memisahkan agama dari negara, dan negara tidak boleh memisahkan diri dari agama. Oleh karena itu, mari kita para ulama sekalian, niatkan untuk menyumbangkan yang terbaik untuk bangsa dan negara kita,” kata Cholil memungkasi paparan. [FAH]

Baca juga Mendorong Narasi Keagamaan yang Damai

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...

Tantangan Arus Informasi Global bagi Petugas Pemasyarakatan

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo mengingatkan petugas pemasyarakatan terhadap tantangan arus informasi di era digital. Menurut dia, saat ini masyarakat berada dalam pusaran interaksi global dimana gelombang informasi melimpah ruah hanya dalam genggaman tangan. Imam mengatakan dampak dari banjir informasi global sangat nyata terhadap...

Membangun Kohesi Sosial Melalui “Seni Bercinta”

Aliansi Indonesia Damai- Kunci keberhasilan pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme terletak pada kemampuan menyentuh hati mereka guna membangun hubungan yang konstruktif. Demikian disampaikan sosiolog Universitas Indonesia Imam B. Prasodjo saat menjadi pembicara kunci (keynote speaker) Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme bagi Petugas Pemasyarakatan yang diselenggarakan...

Pentingnya Peran Multitasking dan Seni Berinteraksi

Aliansi Indonesia Damai- Sosiolog Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo menekankan pentingnya peran multitasking dan seni berinteraksi bagi petugas pemasyarakatan dalam menangani warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Para petugas di lapangan menghadapi beban berat dalam menjalankan tugasnya. Menurutnya, petugas lapas setiap hari harus menghadapi ratusan, bahkan ribuan...

Bambang Sugianto: Pendekatan Humanis dan Sentuhan Keluarga

Aliansi Indonesia Damai– Pembinaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme perlu dilakukan dengan pendekatan humanis dan memberikan sentuhan kepada keluarga mereka. Untuk melakukan hal tersebut, metode komunikasi informal sangatlah penting. Demikian dinyatakan Wali Pemasyarakatan narapidana teroris (Wali napiter) senior, Bambang Sugianto, saat menjadi pemateri Pelatihan Penguatan Perspektif...

Petugas Lapas Wajib Menguasai Profiling

Aliansi Indonesia Damai– Petugas Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang berinteraksi langsung dengan Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme diwajibkan untuk menguasai kemampuan profiling sebelum melakukan asesmen resmi. Hal ini bertujuan agar proses penilaian kebutuhan, penempatan, dan risiko terhadap WBP kasus terorisme berjalan lebih akurat dan tepat sasaran. Pernyataan tersebut...

Ikhtiar Mematahkan Ideologi Ekstrem di Balik Jeruji Besi

Oleh Laode Arham, Pegiat HAM dan Perdamaian, Alumni Pascasarjana Kriminologi Universitas Indonesia Dinding-dinding tinggi Lembaga Pemasyarakatan (lapas) kini bukan lagi sekadar tempat menjalani hukuman atau penebusan dosa. Di era ini, lapas telah bertransformasi menjadi wadah pemulihan kemanusiaan—sebuah tempat di mana integrasi hidup dan perlindungan masyarakat dirajut...