HomeBeritaMantan Napiter Bertutur di...

Mantan Napiter Bertutur di Hadapan Ulama Riau

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menyebarkan benih-benih perdamaian melalui pendekatan ibroh (pembelajaran), AIDA menghadirkan Kurnia Widodo, mantan narapidana terorisme, untuk berbagi pengalaman hidupnya di hadapan para tokoh agama Islam di Pekanbaru, Riau.

Dalam kegiatan Halaqah Alim Ulama bertajuk “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan Ibroh” yang digelar AIDA bersama Universitas Islam Riau (UIR) akhir Mei silam, Kurnia mengisahkan sepak terjangnya bersama kelompok ekstremisme kekerasan hingga akhirnya bertobat dan memilih jalan perdamaian.

Baca juga Pesan Ketua MUI untuk Tokoh Agama Riau

Kurnia mengakui, awal mula dirinya bergabung ke dalam kelompok ekstrem adalah melalui pertemanan di bangku sekolah menengah atas. Saat itu ia kerap diajak berdiskusi tentang kondisi dunia Islam yang semakin merosot dan tertindas. Di belahan dunia lain, perang Afghanistan melawan Uni Soviet sedang berkecamuk, sementara eskalasi konflik di Filipina Selatan meninggi.

Menyaksikan berita-berita tersebut, ghirah keislamannya terbangkitkan. “Tadinya saya biasa-biasa saja, bahkan saya suka musik-musik Barat. Sama teman saya disentil dan dibelokkan untuk ikut pengajian eksklusif. Ternyata jemaah yang mengadakan pengajian itu bernama NII, Negara Islam Indonesia,” ujar Kurnia mengenang.

Baca juga Menyambung Lidah Perdamaian

Pergumulan Kurnia di kelompok NII menyeretnya menjadi seseorang yang berpikiran ekstrem. Ia juga mengikatkan diri melalui sumpah setia. Meskipun muncul kelompok baru bernama Jamaah Islamiyah, ia tetap setia dengan NII. Selain belajar agama, Kurnia juga melatih dirinya dengan keterampilan meracik bom sebagai bentuk persiapan jihad.

Sepak terjang Kurnia terbongkar aparat hukum pada tahun 2010. Ia ditangkap dengan barang bukti bahan-bahan peledak, sehingga harus menjalani hukuman penjara selama bertahun-tahun. Saat di dalam Lapas, Kurnia mengalami titik balik dalam hidupnya. Ia bertemu dengan ustaz-ustaz dari kelompok lain. Setelah berdialog intensif, Kurnia mulai menyadari bahwa ada yang keliru dari kelompoknya yang lama.

Baca juga Korban dan Kerusakan Akibat Terorisme

”Saya bertemu dengan ustaz-ustaz lain yang pemikirannya lebih moderat. Saya mengaji dan berdiskusi kepada mereka. Di situ saya menemukan dalil-dalil yang saya pahami itu keliru,” tutur Kurnia.

Kurnia semakin mantap meniti jalan perdamaian tatkala takdir memertemukannya dengan salah satu korban pengeboman. Akibat perbuatan teman-teman dan kelompoknya, korban harus menderita disabilitas. Padahal korban tersebut tidak tahu menahu soal alasan pengeboman.. Korban bahkan tidak kenal dengan pelaku, apalagi memiliki dendam. Kisah korban memunculkan empati dalam diri Kurnia. Tanpa disadari ia tergerak untuk meminta maaf.

Salah seorang peserta mengapresiasi pertobatan Kurnia. Dalam hematnya, Kurnia Widodo sejatinya juga korban dari indoktrinasi orang-orang tak bertanggung jawab. Ia menegaskan bahwa terorisme adalah perbuatan biadab dan tidak pernah diajarkan oleh Islam. [FAH]

Baca juga Membalas Ketidakadilan dengan Kekeliruan

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas)...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...