HomeInspirasiAspirasi DamaiMenjauhi Ranah Kekerasan

Menjauhi Ranah Kekerasan

Sebagai manusia tentu kita tak luput dari kesalahan, baik disengaja maupun tidak. Sudah menjadi tempatnya manusia berbuat dosa. Namun sebagai makhluk Allah yang dianugerahi akal, kita harus selalu berpikir dan menimbang sebelum bertindak. Jangan sampai perbuatan kita justru menyakiti atau menyinggung orang lain.

Dalam kehidupan, kita akan selalu bertemu dengan berbagai tipe manusia yang pastinya beragam. Perbedaan itu bisa dari aspek jenis kelamin, etnis, agama, dan kepercayaan. Satu sama lain wajib saling menghormati. Kita harus memuliakan umat manusia sebagaimana Sang Pencipta memuliakan ciptaannya itu. Salah satu bentuk pelecehan paling nyata terhadap karya Allah adalah menyakitinya, baik secara fisik dan psikis.

Baca juga Tips Menghindari Pertengkaran di Medsos

Sebagai upaya untuk menghindar dari potensi melecehkan karya Allah, maka kita harus memilih pergaulan yang positif agar terhindar dari hal-hal yang dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain. Apabila kita mengetahui bahwa dalam lingkungan pertemanan kita terdapat ajaran yang menganjurkan kekerasan atau apa pun yang mengakibatkan kerugian bagi lingkungan maupun orang lain, kita harus menjauhinya.

Menghancurkan nilai persatuan dan kesatuan serta tindak kekerasan merupakan bentuk perilaku tercela atau akhlak mazmumah yang jelas-jelas memberikan dampak negatif dalam kehidupan sehari-hari. Semua agama sangat tegas menentang kekerasan secara serampangan. Untuk tujuan apa pun, atas nama apa pun, serta kepada siapa pun, cara-cara kekerasan harus tetap dihindari.

Baca juga Perjumpaan Perdana Menguraikan Makna

Selain faktor lingkungan, kekerasan juga bisa terjadi karena ego dan pemikiran individual. Kadang kita merasa paling benar dan ingin menjadi sosok yang selalu menang sendiri. Untuk menjauhi sifat tersebut kita harus bisa mengontrol diri agar tidak sampai melakukan hal-hal yang bertentangan dengan ajaran agama dan menyibukkan diri dengan hal-hal positif.

Kekerasan memang tidak akan pernah punah. Yang bisa kita lakukan sebagai manusia yang cinta damai adalah menjauhinya dan selalu mengontrol diri agar terhindar dari hal hal yang dapat merugikan diri dan orang lain. Kekerasan tidak boleh dibalas dengan kekerasan, sebagaimana kriminalitas tak boleh dengan kriminalitas. Karena keburukan harus diselesaikan dengan kebaikan. [VLD]

Baca juga Mahasiswa: Entitas Moral Gerakan Perdamaian

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari...

Butuh Proses untuk Bangkit dari Keterpurukan

Aliansi Indonesia Damai- Bulan Chrisanti adalah seorang penyintas aksi terorisme pengeboman Kedutaan Besar Australia di Kuningan, Jakarta Selatan, yang terjadi pada 9 September 2004. Peristiwa tersebut membekaskan trauma fisik dan psikologis mendalam baginya. Bulan, begitu sapaan akrabnya, selama bertahun-tahun berjuang untuk menyembuhkan trauma psikologis yang dialaminya. Menurut dia...

Dari Mashhad, Pesan tentang Perdamaian

Oleh Sugiono, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 14 Juli 2026 Pada 1970-an, di sebuah penjara di Teheran, seorang ulama muda berbagi sel dengan seorang tahanan muda. Tahanan itu tampak menutup diri dan hampir tidak mau makan. Ia mengaku punya kekhawatiran bahwa...

Ikhlas dan Memaafkan Menyembuhkan Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Korban bom terorisme selain mengalami luka fisik namun juga menderita trauma psikologis. Selama bertahun-tahun, korban terorisme berjuang untuk mengobati luka fisiknya dan trauma psikologisnya sehingga bisa bangkit kembali dari keterpurukan. Salah satu penyintas bom Thamrin 2016, Andi Dina Noviana mengaku mampu mengatasi trauma yang dialaminya...

”Noise in Education”: Kegaduhan Pengelolaan Pendidikan Kita

Oleh Sandewa Jopanda, Mahasiswa Pascasarjana Sosiologi Universitas Padjadjaran Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 10 Juli 2026 Sepuluh bulan yang lalu, riset lapangan yang saya lakukan mengenai Sekolah Rakyat membuka kotak pandora. Selama ini dugaan masyarakat lebih kurang bernada negatif (kalau tidak ingin kita sebut liar). Misalnya...

Menatap Masa Depan dan Survive

Aliansi Indonesia Damai- Luka fisik yang dialami korban terorisme tak bisa sepenuhnya sembuh dan kondisinya seperti sedia kala meski telah menjalani perawatan medis intensif di rumah sakit. Hal itu yang dialami Pandu Dwi Laksono, salah satu korban bom Kampung Melayu Jakarta. Pandu mengaku awalnya tidak mudah bagi dirinya...

Anak Menyimpan Kesedihannya

Aliansi Indonesia Damai- Dampak bom terorisme tak hanya dirasakan Ni Luh Erniati semata yang kehilangan suami sekaligus tulang punggung keluarganya. Sejak suaminya I Gede Badrawan, meninggal dunia terkena ledakan bom terorisme di Sari Club Legian Kuta, 12 Oktober 2002 silam, ia terpaksa menjadi ibu sekaligus ayah untuk...

Berbagi Cerita Bisa Mengatasi Trauma

Aliansi Indonesia Damai- Derita para korban bom terorisme tak hanya mengalami luka fisik menahun dan cacat seumur hidupnya tetapi juga menderita trauma psikologis. Gangguan mental yang dirasakan para korban pun tak sebentar tapi berlangsung bertahun-tahun. Itulah yang dialami penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda...

Pikirkan Dampaknya Sebelum Amaliyat

Aliansi Indonesia Damai- Penyintas bom Kedutaan Besar Australia Jakarta, 09 September 2004, Nanda Olivia Daniel berpesan kepada anggota jaringan terorisme untuk memikirkan terlebih dahulu dampak yang akan ditimbulkan dari aksi pengeboman (amaliyat). Dampak aksi pengeboman tak hanya merusak sarana, tetapi juga melukai bahkan menewaskan orang-orang yang berada...

Terorisme Tidak Membela Tuhan dan Agama

Aliansi Indonesia Damai- Aksi pengeboman yang dilakukan kelompok jaringan terorisme sama sekali tidak untuk membela Tuhan maupun membela agama. Tindak terorisme merupakan tindak kesalahan dan ditentang oleh para ulama. Pernyataan tersebut disampaikan mantan pelaku terorisme, Choirul Ihwan saat menjadi narasumber kegiatan Dialog Interaktif “Belajar Bersama Menjadi Generasi Tangguh”...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 3 – Terakhir)

Sejak saat itu, Choirul mulai bertanya pada dirinya sendiri: “Apakah aku ini terjangkiti paham Khawarij?” Pertanyaan yang lahir dari keraguan di dalam akal sehatnya. Terbit dari hati yang mulai mendengar suara kebenaran yang selama ini ia kubur. Betapa dirinya telah melampaui batas sehingga hampir semua orang yang...

Kelompok Teroris Salah Menafsirkan Alquran

Aliansi Indonesia Damai- Kejahatan atas nama agama berupa pengeboman dan perampokan untuk dana jihad (fa’i) karena adanya kesalahan dalam menafsirkan ayat Alquran. Sebab Alquran itu la raiba fih (tidak ada keraguan di dalamnya). Karena itu, kita yakin bahwa Alquran tidak ada salahnya. Demikian ditegaskan mantan Amir Jamaah Ansharud...

“Apakah Saya Khawarij?” (Bag. 2)

Liku-liku hidup menjadi aktivis dari satu organisasi ke organisasi lain mengantarnya pada kelompok teroris bernama Jamaah Taliban Melayu (JTM) pada 2008. Dari kelompok ini Choirul menerima doktrin yang sangat ekstrem, setiap orang yang memiliki KTP dianggap kafir. Masih kuat di ingatannya bagaimana ia dahulu mengafirkan orang tua...