HomeInspirasiAspirasi DamaiPerjumpaan Perdana Menguraikan Makna

Perjumpaan Perdana Menguraikan Makna

Pengantar

Kesan pertama begitu bermakna selanjutnya terserah Anda. Demikian sementara orang menata kata. Ya, banyak orang menganggap pertemuan awal sebagai momentum penting yang menentukan kesan, citra, serta keberlanjutan hubungan. Perjumpaan perdana adalah waktu di mana dua anak Adam saling mengenal dan berikhtiar menggali makna.

Biasanya orang akan menerka-nerka bagaimana karakter sosok yang akan dijumpainya. Terlebih jika sosok tersebut menyandang predikat tertentu yang padanya melekat citra dan kesan-kesan yang terkadang imajiner belaka atau sebaliknya memang kenyataan.

Baca juga Mahasiswa: Entitas Moral Gerakan Perdamaian

Salah satu misi AIDA adalah memberdayakan penyintas terorisme; orang-orang yang paling terdampak dari setiap aksi serangan teror yang mengerikan. Dalam pikiran khalayak luas, korban terorisme dicitrakan dengan cedera parah bahkan disabilitas atau gangguan psikis akibat trauma.

Pertemuan awal dengan penyintas terorisme kerapkali mementahkan citra-citra itu. Karena secara lahir, sebagian mereka telah tampak baik-baik saja. Butuh waktu untuk mengerti betul kondisi mereka. Empati dan simpati pun muncul perlahan.

Baca juga Psikologi Memaafkan (bag. 1)

Berikut ini adalah penuturan Rivaldi dan Rahman, dua personil yang belum lama bergabung dengan AIDA. Latar belakang keduanya bukanlah aktivis sosial, melainkan anak perkotaan yang hidup dan besar selayaknya pemuda usia 20-an tahun di ibu kota. Rutinitasnya tak jauh dari bangku pendidikan, pekerjaan, dan nongkrong.

Kisahnya Membuatku Bersyukur
Oleh: M. Rivaldi

Tidak ada antusiasme dengan korban bom. Karena menurutku, mereka seperti korban tindak kejahatan lainnya. Memang sudah menjadi takdir mereka. Kejadiannya pun sudah lama berlalu. Maka tatkala Sudirman Thalib, penyintas Bom Kuningan 2004, datang ke kantor, aku bersikap sewajarnya.

Setelah bersalaman dan menyebutkan nama, aku hanya membatin, “oh, ini korban bom.” Sudirman terlihat baik-baik saja, sehat, tidak seperti yang saya bayangkan. Tidak ada dampak fisik yang terlihat jelas karena memang kejadiannya sudah lama.

Baca juga Psikologi Memaafkan (bag. 2)

Namun ternyata dugaanku salah besar. Aku hanya melihat sosoknya yang sekarang, tidak sebelumnya. Aku tidak tahu secuil pun fase-fase hidup yang telah dilewatinya hingga sampai di titiknya sekarang.

Ketika berbicara, mengobrol sembari menunggu waktu shalat ashar, Sudirman menceritakan kisahnya dengan ringan. Nadanya datar, tutur katanya lembut, sesekali sembari tersenyum kecil, dan diselingi candaan. Obrolan berjalan jauh dari serius. Aku mendengarnya seksama. Muncul keingintahuan atas apa yang telah dialaminya.

Baca juga Psikologi Memaafkan (Bag. 3)

Ternyata Bom Kuningan nyaris saja merenggut nyawa Sudirman. Sekujur tubuhnya cedera parah kala itu. Ia pernah berada di puncak kepasrahan karena merasa maut segera menjemputnya. Namun Allah masih memberinya kehidupan, meski harus kehilangan salah satu matanya.

Hal yang membuatku sangat terpukau, Sudirman tidak menyimpan dendam kepada para pelaku yang membuatnya menderita, sebaliknya malah memaafkan mereka. Ia telah mengikhlaskan musibah yang menimpanya. Baginya apa yang telah terjadi merupakan ketentuan Allah SWT.

Baca juga Psikologi Memaafkan (Bag. 4-Terakhir)

Setelah mendengar kisahnya, aku menyadari tidak ada korban terorisme lama atau baru. Mereka semua tetap korban, karena apa yang dialaminya membawa dampak berkepanjangan. Sudirman masih sering merasakan sakit dan mesti rutin mengonsumsi obat-obatan lantaran ada jaringan saraf tubuhnya yang rusak.

Seketika itu pula aku memanjatkan syukur atas apa yang telah Allah angerahkan kepadaku sejauh ini. Aku berdoa agar Sudirman terus diberikan kesehatan dan tak lelah untuk menyuarakan perdamaian.

Teringat Sosok Mama
Oleh: Yanuwar Rahaman

Februari 2022, saya mendapatkan kesempatan mengikuti kegiatan AIDA. Saat itulah saya bisa bertemu langsung dengan penyintas terorisme. Namanya Hayati Eka Laksmi, korban Bom Bali. Bu Eka, sapaan akrab Hayati Eka Laksmi, kehilangan suaminya yang meninggal dalam peristiwa serangan bom di Pulau Dewata pada 12 Oktober 2002.

Bu Eka bercerita tentang perjuangannya membesarkan kedua anaknya seorang diri. Ia harus bisa menjelaskan kepada buah hatinya yang masih sangat belia bahwa papanya tak lagi di sisi mereka. Selain harus menjadi Ibu yang penuh kasih, Bu Eka juga harus mencari pekerjaan karena bagaimana pun kehidupan harus berlanjut.

Baca juga Meneladani Kesabaran Nabi Ibrahim (Bag. 1)

Aku sangan terkesan dengan ketangguhan Bu Eka. Atas segala beban yang ditanggungnya, ia bisa memaafkan mantan pelaku terorisme yang terlibat dalam serangan Bom Bali. Ia juga berhasil membuat anak-anaknya, yang tadinya sangat mendendam –sampai bercita-cita ingin menjadi polisi agar bisa menembak para pelaku terorisme yang telah membuatnya berpisah dengan ayahnya— berubah memaafkan dan mengikhlaskan musibah yang menimpa mereka.

Sosok Bu Eka yang hebat mengingatkanku dengan seseorang dalam hidupku yang tanpa menyerah dan mengeluh memberikan semua kehidupannya untuk masa depanku dan saudara-saudaraku. Dia adalah Mamaku.

Baca juga Meneladani Kesabaran Nabi Ibrahim (Bag. 2-terakhir)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas)...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam...

Menghargai Toleransi

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 19 Maret 2026 Toleransi bukan menyamakan yang berbeda dan atau membedakan hal yang sama. Toleransi ialah menerima kenyataan di dalam hidup bahwa perbedaan itu adalah sebuah keniscayaan. Kelompok liberal cenderung berlebihan untuk memaksakan persamaan...

Petugas Lapas Harus Mampu Deteksi Dini WBP Terorisme

Aliansi Indonesia Damai- Sebagai “dokter” yang baik, petugas lembaga pemasyarakatan (Lapas) harus mampu melakukan deteksi dini terhadap perilaku dan paham keagamaan warga binaan pemasyarakatan (WBP) kasus terorisme. Demikian dinyatakan mantan pelaku terorisme Ali Fauzi Manzi saat menjadi narasumber Pelatihan Penguatan Perspektif Korban Terorisme Bagi Pembimbing Kemasyarakatan Balai...

Bisikan Hati*

Puisi ini pernah diterbitkan Newsletter SUARA PERDAMAIAN edisi VII Januari 2016 Oktober… Bagiku adalah bulan penuh cerita Derita, duka, dan air mata Cintaku, harapanku… Hangus terbakar api angkara Lenyap terkubur abu nestapa Kini kudatang di pusaramu Kupandang indah ukiran namamu Kupanjatkan doa untukmu Dan segenap bayangmu pun datang menghampiriku Ingin aku mendekapmu di pelukku Meski tak kuasa tanganku...

Amar Ma’ruf dan Nahi Munkar Bukan dengan Pengeboman

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian masyarakat atau kelompok yang keliru dalam memahami dan mempraktikan amar ma’ruf nahi munkar. Mereka mengkategorikan amar ma’ruf nahi munkar dalam ushuluddin dan hukumnya fardhu ain. “Amar ma’ruf nahi munkar dibelokkan dengan kekerasan, bahkan sampai pengeboman. Padahal hukum amar ma’ruf nahi munkar adalah fardhu...

Penataan Ruang Digital untuk Generasi Masa Depan

Oleh Ikhsan Darmawan, Ketua Klaster Riset Teknologi dan Politik, Departemen Ilmu Politik, FISIP Universitas Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 27 Maret 2026 Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025, atau biasa disebut dengan PP Tunas, akan mulai diterapkan mulai 28 Maret 2026. Kementerian Komdigi juga telah...

Harmoni antara Agama dan Pancasila

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 18 Maret 2026 Agama dan Pancasila ibarat dua sejoli yang saling menguatkan satu sama lain. Agama dan Pancasila harus sama-sama memberikan pencerahan terhadap segenap warga bangsa tanpa kecuali. Agama dan Pancasila tidak bisa diperhadap-hadapkan satu sama lain....

Idul Fitri, Kohesi Sosial dan Masalah Kenegaraan

Oleh Saratri Wilonoyudho, Guru Besar Universitas Negeri Semarang Artikel ini diterbitkan di Kompas.id pada 20 Maret 2026 Idul Fitri menjadi momen saling memaafkan karena esensinya adalah kembali kepada kesucian setelah Ramadhan. Islam menekankan bahwa setelah sebulan berpuasa dengan menahan hawa nafsu dan memperbanyak ibadah, seorang Muslim diharapkan lahir kembali...

Lebih Tangguh dengan Pengalaman Ramadan

Umat Islam di seluruh dunia kembali merayakan Idul Fitri, setelah menjalani ibadah puasa Ramadan 1447 H. Selama sebulan penuh, kaum muslimin melakukan sahur, puasa, buka puasa (iftar), tarawih, dan pengajian/majelis ilmu. Umat Islam meyakini bahwa dengan melaksanakan berbagai ibadah tersebut, mereka akan mendapatkan ampunan, rahmat dan kemenangan...

Idul Fitri, Nyepi, dan Kerukunan Umat Beragama

Oleh M Zainuddin, Guru Besar Sosiologi Agama Program Pascasarjana UIN Maliki Malang, Chairman of Yasmine Institute Artikel ini diterbitkan Kompas.id pada 19 Maret 2026 Pada hari Kamis, 19 Maret 2026, umat Hindu memperingati Hari Suci Nyepi dan pada hari yang (mungkin) bersamaan umat Islam juga akan merayakan Idul Fitri....

Ciri-ciri Umum Kelompok Radikal

Oleh Nasaruddin Umar, Menteri Agama Republik Indonesia Artikel ini dipublikasikan di Kompas.id pada 15 Maret 2026 Salah satu yang sering mengganggu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara ialah munculnya apa yang sering disebut sebagai kelompok radikal. Kelompok ini selalu berusaha untuk memanfaatkan setiap momen untuk menampilkan tujuan-tujuan ideologisnya, misalnya dengan...

Santri Diajak Menebarkan Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Arqom Klaten Ismail Siddiqie mengajak santri-santrinya untuk menebarkan kedamaian dimana pun. Menurut dia, jika tercipta kedamaian maka aktivitas pengajian, sekolah, ibadah, bekerja, dan kehidupan sosial dalam kondisi aman dan nyaman. Ajakan tersebut disampaikan Ismail saat mengisi Pengajian Perdamaian bertajuk Menyerap ‘Ibroh...

Iqra’ Literasi Kritis untuk Memahami Situasi Bangsa

Oleh Handi Risza, Wakil Rektor Universitas Paramadina Artikel ini telah diterbitkan di Kompas.id pada 07 Maret 2026 Iqra’ adalah kata pertama yang turun dalam wahyu kepada diri Nabi Muhammad SAW empat belas abad yang lalu. Perintah membaca ini termaktub dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1–5 dan kemudian menjadi fondasi...