HomeInspirasiAspirasi DamaiMahasiswa: Entitas Moral Gerakan...

Mahasiswa: Entitas Moral Gerakan Perdamaian

Mahasiswa dalam sejarahnya selalu membawa angin perubahan di negara ini. Gerakan mahasiswa terbukti mampu menggerakkan masyarakat dari keadaan yang terpuruk menjadi bangkit dan maju. Suara-suara mereka kerap menjadi alarm bagi penguasa yang menyimpang. Nurani mahasiswa juga menuntun gerak langkah mereka di kampus. Kampus adalah jembatan mahasiswa untuk menjadi tokoh nasional, pengusaha, profesional, tokoh masyarakat, yang kelak akan sangat menentukan masa depan negeri ini.

Visi gerakan mahasiswa kokoh bagaikan pegunungan di daratan dan bergemuruh laksana samudra di lautan. Di pundak mereka yang liat itu, ada harapan besar bagi segenap komponen bangsa.

Baca juga Psikologi Memaafkan (bag. 1)

Tetapi mahasiswa juga manusia biasa. Anak muda yang punya gairah dan semangat berapi-api: emosional, masih gagap membaca situasi, dan kadang keliru mengambil kesimpulan. Butuh dukungan banyak pihak untuk membuat gerakan mahasiswa lebih efektif dalam menjawab tantangan zaman, termasuk masalah kekerasan (ekstremisme) di lingkungan sekitar mereka.

Jujur diakui bahwa masalah kekerasan ekstrem belum sepenuhnya menjadi perhatian gerakan mahasiswa. Padahal ada ribuan bahkan ratusan ribu mahasiswa terjerat dalam ideologi ekstrem. Korban ekstremisme dengan kekerasan sudah berjatuhan di mana-mana, dari Aceh hingga Papua.

Baca juga Psikologi Memaafkan (bag. 2)

Ideologi ekstrem adalah paham atau keyakinan yang berlebihan yang berbeda dengan nilai-nilai dan pandangan umum di masyarakat. Perilaku ekstremisme merujuk pada “ide-ide politik yang bertentangan secara diametris dengan nilai-nilai inti masyarakat. … Atau itu bisa berarti metode yang digunakan aktor untuk mewujudkan tujuan politik apa pun” (Stephens, Sieckelinck, Boutellier, 2021).

Ada banyak organisasi dan jaringan ekstrem di Indonesia yang punya cita-cita berbeda secara diametral dengan apa yang secara umum dianut di masyarakat. Banyak di antaranya sudah dinyatakan pemerintah sebagai organisasi terlarang. Namun kendati organisasinya sudah dibubarkan, para ideolog dan militannya masih bebas menyebarkan paham ideologi dan ajaran-ajaran mereka, sambil melakukan rekrutmen dan radikalisasi.

Baca juga Psikologi Memaafkan (Bag. 3)

Kelompok tersebut menyasar berbagai pihak, menargetkan berbagai kelas sosial dan kalangan, tak terkecuali mahasiswa. Hingga korban terus berjatuhan termasuk anak-anak, remaja, dan mahasiswa.

Sudah saatnya mahasiswa mengambil alih kampanye antiekstremisme ini. Bila selama ini, bahaya ekstremisme hanya ramai disampaikan oleh pemerintah dan segelintir NGO/LSM, maka akan lebih tepat manakala kaum muda turut serta: dari mahasiswa, oleh mahasiswa, dan untuk mahasiswa. Jantung kepemudaan (youth) ada di kelompok ini.

Baca juga Psikologi Memaafkan (Bag. 4-Terakhir)

Ini akan menjadi panggilan sejarah. Kenapa? Ada banyak peristiwa kekerasan ekstrem (terorisme) di mana mahasiswa dan pemuda telah menjadi pelaku dan korban sekaligus. Berbagai pelaku ada yang berasal dari kampus di Bandung, Jakarta, Malang, Pekanbaru dan kota-kota lain. Demikian halnya korban langsung dan tidak langsung dari aksi terorisme.

Bahkan sebagai pelaku pun, si individu mahasiswa harus menanggung beban hidup jangka panjang: putus kuliah, meniti hidup di penjara, jauh dari restu orang tua, hingga masa depan yang tidak menentu.

Baca juga Meneladani Kesabaran Nabi Ibrahim (Bag. 1)

Maka peran mahasiswa dapat menjadi solusi dengan membangun narasi positif yang menghubungkan entitas pelaku dan korban; meskipun dalam kasus terorisme, tidak ada kaitan langsung antara pelaku dan korban.

Mahasiswa dapat mengamalkan hadis Nabi Saw, “Unshur akhaka zaliman au mazluman,”(tolonglah saudaramu yang zalim atau yang dizalimi).  Cara menolong yang zalim yaitu, mahasiswa dapat mendeteksi dan menangkal manakala ada tanda-tanda kelompok ekstrem di kampus dan sekitarnya.

Idealisme dan kemurnian gerakan mahasiswa dapat membawa kampanye ini sebagai gerakan di grassroot, yang sepenuhnya bertumpu pada pemikiran, aksi, dan anggaran yang bersumber dari inisiatif mahasiswa. Gerakan ini akan memberikan makna yang suci bagi usaha-usaha pembangunan perdamaian di Indonesia.

Baca juga Meneladani Kesabaran Nabi Ibrahim (Bag. 2-terakhir)

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Silaturahmi Perdamaian di Lombok

Akhir Juni 2024 lalu menjadi salah satu momen penting dalam upaya...

Ali Fauzi; dari Lingkar Kekerasan ke Lingkar Perdamaian

Selalu riang dan optimis, peduli dan merangkul. Banyak yang simpati dan...

Aspirasi Damai Maulid Nabi

Dalam kalender Hijriah atau tahun Islam, saat ini kita masih berada...

Pentingnya Ibroh Terorisme

Oleh Laode ArhamAlumni UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta Melawan ketidakadilan dengan cara yang...

Beratnya Menyatukan Umat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali mengaku mempraktikan persatuan antar umat Islam (ukhuwah baina al-muslimin) lebih sulit daripada ukhuwah baina al-mutadayyin (persaudaraan antarumat beragama). “Menyatukan umat Islam ini susah sekali. Di internal umat Islam memang banyak sekali masalah. Jadi menyatukan di...

Konten Tawuran: Ketika Kekerasan Remaja Dijual

Oleh Mochammad Wahyu Ghani, Peneliti Pusat Riset Kependudukan BRIN Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 04 Oktober 2026 Di sebuah ruangan LPKA (Lembaga Pembinaan Khusus Anak), dua remaja berbincang santai dengan kami para peneliti sosial BRIN yang sedang ingin menangkap permasalahan kenakalan remaja di era digital. Sebut...

Ikhlas dan Sabar Kunci Menghadapi Cobaan

Aliansi Indonesia Damai- “Saya sempat marah kepada Allah. Ya Allah kalau saya banyak dosa, masih ada-orang orang yang dosanya lebih banyak daripada saya”. Demikian ungkapan kemarahan yang pernah dialami Mulyono saat terdampak ledakan bom terorisme yang menghancurkan rahang dan melukai tubuhnya. Saat itu, 9 September 2004, bom...

Ulama Penjaga Harmoni Bangsa

Indonesia merupakan bangsa yang berdiri di atas fondasi kemajemukan. Dengan ribuan suku, bahasa, dan beragam agama, menjaga persatuan di negeri ini bukanlah perkara mudah. Sejarah mencatat bahwa dalam setiap fase kritis perjalanan bangsa (perjuangan revolusi fisik 1945-1950, berbagai pemberontakan di daerah, konflik Ambon, Poso, Sampit, Ketapang, dan...

Menjadi Bangsa Juara

Keberhasilan Tim Nasional Sepak Bola Indonesia (Timnas) menjuarai FIFA ASEAN CUP menghadirkan aneka macam rasa yang sulit digambarkan; senang, bangga, salut, bahkan sebagian orang sampai menangis. Hal ini terjadi karena Indonesia selama ini seakan sudah “dilupakan” oleh sejarah. Jangankan juara, sekadar bermimpi juara pun seakan mustahil. Persis di...

Pancasila Selaras dengan Syariat Islam

Aliansi Indonesia Damai- Ada sebagian umat Islam Indonesia yang mengira Pancasila bertentangan dengan syariat Islam. Padahal Pancasila jauh dari kemungkinan takhaluf as-syariah Islamiyah. Demikian ditegaskan Ketua Bidang Kerukunan Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith Ghazali dalam Halaqah Alim Ulama “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang diselenggarakan Aliansi Indonesia...

Islam Jadi Mayoritas atas Kontribusi Ulama

Aliansi Indonesia Damai- Islam di Indonesia menjadi salah satu yang terbesar di dunia meski Islam tidak lahir di negeri ini. Islam menjadi mayoritas di Indonesia atas kontribusi besar para ulama terdahulu. Demikian dinyatakan Ketua Bidang Kerukunan dan pimpinan Komisi Kerukunan Antarumat Beragama Majelis Ulama Indonesia Pusat, Abdul Moqsith...

Ormas Islam Jadi Benteng Utama Perdamaian di Indonesia

Aliansi Indonesia Dami - Pakar gerakan Islam, Khamami Zada menekankan pentingnya peran ormas Islam arus utama seperti Nahdlatul Ulama (NU), Muhammadiyah, Persis, dan Alwashliyah dalam menjaga perdamaian di tengah dinamisnya lanskap ideologi global dan domestik. Hal tersebut disampaikan Khamami Zada saat menjadi narasumber Pelatihan Pembangunan Perdamaian di...

Ulama Membina Gen Z Kobarkan Jihad Digital

Aliansi Indonesia Damai– Ulama harus bergerak cepat mengambil peran strategis untuk membina generasi Z (Gen Z) agar mampu mengobarkan “jihad digital” untuk menyebarkan kedamaian. Pesan tersebut disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis saat menyampaikan keynote speech Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan...

Jihad Modern Menjaga Kedamaian

Aliansi Indonesia Damai- Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat, KH Muhammad Cholil Nafis mengingatkan ulama untuk meluruskan makna jihad yang sering kali disalahartikan oleh narasi radikal di internet. Menurut dia, esensi jihad bagi Gen Z saat ini adalah jihad membela Islam dan negara dalam bingkai kedamaian....

Pentingnya Peran Ulama di Ruang Digital Gen Z

Aliansi Indonesia Damai- “Di era digital saat ini, para ulama dituntut untuk melakukan dakwah online guna membekali anak-anak kita, generasi Z dan milenial, demi meneguhkan kembali dakwah Islam Wasathiyah.” Demikian disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat, KH. M. Cholil Nafis, saat menjadi pembicara kunci...

AIDA Gelar Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Medan

Aliansi Indonesia Damai- AIDA menyelenggarakan Pelatihan Pembangunan Perdamaian di Kalangan Tokoh Agama di Kota Medan, Sumatera Utara pada 16-17 September 2026. Pelatihan digelar sebagai tindak lanjut dari Halaqah Alim Ulama: “Menguatkan Ukhuwah Melalui Pendekatan ‘Ibroh” yang telah diselenggarakan di Medan pada 12 Agustus 2026 lalu. Pelatihan dimaksudkan...