25/01/2023

Kesabaran Tak Bertepi Penyintas Bom

Aliansi Indonesia Damai- Tidak mudah, kata yang tepat menggambarkan perjalanan sosok perempuan asli Jakarta ini. Yuni Arsih, anak pertama dari 6 bersaudara. Ia memulai karir di tahun 1997 sebagai karyawan supermarket. Tempat kerja yang mempertemukan Yuni dengan Suryadi. Kala itu Yuni masih 19 tahun, sementara Suryadi 27 tahun.

Perbedaan usia yang cukup jauh tak menghalangi perjalanan cinta keduanya hingga berlabuh di pelaminan pada tahun 1998 dan dikarunia anak di tahun 1999. Ketiganya menjalani hari-hari dengan penuh perjuangan. Karena krisis ekonomi global, Suryadi terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), sementara Yuni sebelumnya telah berhenti kerja karena fokus mengurus anak. Walhasil Suryadi harus mencari nafkah secara serabutan.

Baca juga Keikhlasan Meredakan Derita (Bag. 1)

Perekonomian keluarga kecil Yuni mulai membaik ketika Suryadi diterima di sebuah lembaga alih daya (outsourcing) dan ditugaskan sebagai gardener (petugas pertamanan) di kantor Kedubes Australia kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Namun kebahagiaan itu tak lama dinikmati Yuni. Pada 09 September 2004, bom meledak di depan lokasi kerja suaminya. Serangan itu menghancurkan banyak gedung dan merenggut banyak nyawa, Suryadi salah satunya.

Pagi hari ia melepas suaminya dalam kondisi sehat, malamnya ia melihat raga Suryadi yang bercucuran darah tanpa nyawa turun dari mobil ambulans. Air mata Yuni telah habis malam itu. Ia hanya bisa tertegun penuh kepasrahan sambil memeluk buah hatinya yang saat itu berusia 5 tahun, seraya berharap semuanya hanya mimpi buruk.

Baca juga Keikhlasan Meredakan Derita (Bag. 2)

Meski pilu tapi kenyataan pahit itu harus dihadapi Yuni dengan beragam pertanyaan berbalut kemelut dalam pikiran. “Bagaimana aku menjalani sisa hidupku bersama anakku tanpa suami?” Yuni menyandang status sebagai orang tua tunggal di usia yang masih sangat muda. Ia menegarkan diri demi mengantarkan putranya menggapai masa depan.

Kepedihan Yuni tak berhenti. Trauma yang dialami sang buah hati akibat kehilangan sosok ayah yang begitu dekat dengannya berdampak buruk dalam pembentukan karakternya. Putranya menjadi sosok temperamental dan penuh dendam. Berulang kali dipindahkan  dari satu sekolah ke sekolah lain karena kerap berulah, hingga bercita–cita menjadi polisi agar bisa membunuh orang–orang yang merenggut nyawa ayahnya.

Baca juga Keikhlasan Meredakan Derita (Bag. Terakhir)

Kini musibah itu telah berlalu hampir 19 tahun. Trauma dari tragedi  itu tidak akan pernah hilang. Namun kini ia bisa berbahagia karena bisa melihat putranya tumbuh menjadi sosok pria dewasa yang bertanggung jawab, mandiri, dan menyayangi ibunya.

“Semoga tidak ada lagi kejadian serupa yang harus mengorbankan banyak jiwa dan meninggalkan trauma. Jangan ada kekerasan yang dibalas dengan kekerasan. Kita harus saling memaafkan.” Itulah pesan Yuni untuk kita semua. [LH]

Baca juga Pasang Surut Kehidupan Penyintas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *