HomePilihan RedaksiKesabaran Tak Bertepi Penyintas...

Kesabaran Tak Bertepi Penyintas Bom

Aliansi Indonesia Damai- Tidak mudah, kata yang tepat menggambarkan perjalanan sosok perempuan asli Jakarta ini. Yuni Arsih, anak pertama dari 6 bersaudara. Ia memulai karir di tahun 1997 sebagai karyawan supermarket. Tempat kerja yang mempertemukan Yuni dengan Suryadi. Kala itu Yuni masih 19 tahun, sementara Suryadi 27 tahun.

Perbedaan usia yang cukup jauh tak menghalangi perjalanan cinta keduanya hingga berlabuh di pelaminan pada tahun 1998 dan dikarunia anak di tahun 1999. Ketiganya menjalani hari-hari dengan penuh perjuangan. Karena krisis ekonomi global, Suryadi terkena pemutusan hubungan kerja (PHK), sementara Yuni sebelumnya telah berhenti kerja karena fokus mengurus anak. Walhasil Suryadi harus mencari nafkah secara serabutan.

Baca juga Keikhlasan Meredakan Derita (Bag. 1)

Perekonomian keluarga kecil Yuni mulai membaik ketika Suryadi diterima di sebuah lembaga alih daya (outsourcing) dan ditugaskan sebagai gardener (petugas pertamanan) di kantor Kedubes Australia kawasan Kuningan, Jakarta Selatan. Namun kebahagiaan itu tak lama dinikmati Yuni. Pada 09 September 2004, bom meledak di depan lokasi kerja suaminya. Serangan itu menghancurkan banyak gedung dan merenggut banyak nyawa, Suryadi salah satunya.

Pagi hari ia melepas suaminya dalam kondisi sehat, malamnya ia melihat raga Suryadi yang bercucuran darah tanpa nyawa turun dari mobil ambulans. Air mata Yuni telah habis malam itu. Ia hanya bisa tertegun penuh kepasrahan sambil memeluk buah hatinya yang saat itu berusia 5 tahun, seraya berharap semuanya hanya mimpi buruk.

Baca juga Keikhlasan Meredakan Derita (Bag. 2)

Meski pilu tapi kenyataan pahit itu harus dihadapi Yuni dengan beragam pertanyaan berbalut kemelut dalam pikiran. “Bagaimana aku menjalani sisa hidupku bersama anakku tanpa suami?” Yuni menyandang status sebagai orang tua tunggal di usia yang masih sangat muda. Ia menegarkan diri demi mengantarkan putranya menggapai masa depan.

Kepedihan Yuni tak berhenti. Trauma yang dialami sang buah hati akibat kehilangan sosok ayah yang begitu dekat dengannya berdampak buruk dalam pembentukan karakternya. Putranya menjadi sosok temperamental dan penuh dendam. Berulang kali dipindahkan  dari satu sekolah ke sekolah lain karena kerap berulah, hingga bercita–cita menjadi polisi agar bisa membunuh orang–orang yang merenggut nyawa ayahnya.

Baca juga Keikhlasan Meredakan Derita (Bag. Terakhir)

Kini musibah itu telah berlalu hampir 19 tahun. Trauma dari tragedi  itu tidak akan pernah hilang. Namun kini ia bisa berbahagia karena bisa melihat putranya tumbuh menjadi sosok pria dewasa yang bertanggung jawab, mandiri, dan menyayangi ibunya.

“Semoga tidak ada lagi kejadian serupa yang harus mengorbankan banyak jiwa dan meninggalkan trauma. Jangan ada kekerasan yang dibalas dengan kekerasan. Kita harus saling memaafkan.” Itulah pesan Yuni untuk kita semua. [LH]

Baca juga Pasang Surut Kehidupan Penyintas

Most Popular

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

More from Author

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian,...

Otak Sehat, Negara Kuat

Oleh Badrul Munir, Dosen dan Dokter Spesialis Saraf Fakultas Kedokteran Universitas Bawijaya/RS Saiful Anwar Malang Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 13 Agustus 2026 Di bulan Agustus ini, negara kita akan memasuki hari ulang tahun ke-81. Tidak terasa kita sudah 81 tahun menjadi negara merdeka. Bila dilihat...

Republik yang Belum Selesai

Oleh Darwin Darmawan, Sekretaris Umum PGI Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 12 Agustus 2026 Delapan puluh satu tahun lalu, para pendiri bangsa memproklamasikan kemerdekaan Indonesia. Mereka juga memilih bentuk negara yang akan menjadi rumah bersama: Negara Kesatuan Republik Indonesia. Bukan kerajaan. Bukan kesultanan. Melainkan republik. Kata...

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 2), Mata Palsu dan Kebangkitannya

Setahun usai kembali bekerja, Sudirman merasa telah bangkit dari keterpurukan. Dia juga merasa ujian hidupnya sudah selesai. Rupanya, setahun pasca kejadian kelam tersebut, dia mengeluhkan sakit yang luar biasa di mata kirinya. Rasa itu disertai pembengkakan dan air mata yang terus mengalir. Hasil pemeriksaan dokter sungguh mengejutkan....

Kisah Perjuangan Penyintas (Bag. 1), Dari Kenek Angkot hingga Merantau ke Kota

Namanya hanya satu kata, Sudirman. Pemuda kelahiran Bima, Nusa Tenggara Barat ini ditakdirkan hidup di keluarga yang sederhana. Penghasilan orang tuanya cukup pas-pasan untuk memenuhi kebutuhan sekeluarga. Jadilah ia sejak masih sekolah sudah terbiasa mencari penghasilan tambahan dengan menjadi kenek angkot. Setelah lulus SMA, Sudirman merantau ke Jawa...

Memandang Panggung Artifisial Akademik secara Semiotika

Oleh Nur Sahid, Guru Besar Semiotika Teater, Fakultas Seni Pertunjukan ISI Yogyakarta Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Laporan investigasi Kompas tertanggal 27 Juli 2026 menyingkap sebuah realitas kelam dalam ekosistem pendidikan tinggi nasional. Terkuaknya skandal sejumlah guru besar yang mendalangi konferensi internasional fiktif—bahkan...

“Umat Perlu Belajar dari Kisah Hidup Korban”

Aliansi Indonesia Damai- Dalam rangka menguatkan kesadaran umat akan pentingnya perdamaian, AIDA dan El Sharea Management menyelenggarakan pengajian dan diskusi bertema “Menyerap ‘Ibroh dari Kisah Korban dan Mantan Pelaku Terorisme” di Praya, Nusa Tenggara Barat beberapa waktu lalu. Tak kurang enam puluh tokoh agama dari kalangan pesantren,...

Menyesal Salah Pergaulan dan Pengajian

Aliansi Indonesia Damai– Mantan pentolan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) Bima, Nusa Tenggara Barat, Bahruddin alias Amir pernah menyesali keterlibatannya dahulu dalam jaringan kelompok ekstrem. Menurut dia keterlibatan dirinya dalam jaringan ekstremisme karena kesalahan memilih pergaulan dan pengajian keagamaan. “Penyesalan saya kenapa dulu salah bergaul, salah belajar, salah membaca...

RUU Sisdiknas dan Masa Depan Guru

Oleh Cecep Darmawan, Guru Besar dan Dekan FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 02 Agustus 2026 Guru bukan sekadar pelaksana kurikulum dan pembelajaran. Mereka adalah penentu kualitas generasi masa depan. Untuk itu, setiap perubahan regulasi mengenai guru sesungguhnya adalah keputusan tentang masa depan...

Jangan Berlindung di Balik Topeng Agama

Oleh Dahnil Anzar Simanjuntak, Wakil Menteri Haji dan Umrah RI Artikel ini berasal dari Mediaindonesia.com yang terbit pada 30 Juli 2026 TIDAK ada orangtua yang menitipkan anaknya ke pesantren dengan rasa curiga. Mereka datang menitipkan anaknya dengan membawa harapan serta kepercayaan bahwa anaknya akan tumbuh dalam lingkungan yang mengajarkan...

Melanjutkan Pendidikan Mengikis Paham Ekstrem

Aliansi Indonesia Damai- Mantan kombatan konflik Ambon dan Poso, Iswanto mengaku pernah mengalami kebimbangan apakah berhenti atau terus berada dalam jaringan kelompok ekstrem dan bergelut dengan aksi kekerasan. Hal itu dikarenakan dua gurunya memberikan instruksi yang berbeda. “Tahun 2004 saya dipanggil guru saya yang ditahan di rutan Polda...

Kongres Umat Islam Indonesia VIII dan Ijtihad Kebangsaan Kontemporer

Oleh Arif Fahrudin, Wakil Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia Artikel ini berasal dari Kompas.id yang terbit pada 24 Juli 2026 Kongres Umat Islam Indonesia dari masa perjuangan merebut kemerdekaan Indonesia hingga masa reformasi adalah bukti ijtihad kebangsaan yang tidak pernah lekang. Bagi umat Islam Indonesia, ijtihad kebangsaan dimaknai bahwa...

Menguatkan Nalar Kritis Mahasiswa

Aliansi Indonesia Damai- Dunia akademik acap menjadi medan laga pelbagai pemikiran. Kampus di satu sisi, diharapkan melahirkan inovasi, namun di sisi lain, lingkungan ini juga rentan menjadi pintu masuk doktrin ekstrem yang menyasar mahasiswa. Keresahan ini yang melatari diselenggarakannya Diskusi Indonesia Tangguh yang diselenggarakan AIDA bekerja sama...